LombokPost – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) NTB memperkuat sinergi lintas otoritas guna menjaga momentum tren positif pembangunan daerah.
Melalui kegiatan Media Briefing Forum KSSK NTB Triwulan II Tahun 2026, para pemangku kebijakan strategis membedah capaian indikator makroekonomi serta merumuskan langkah mitigasi risiko global.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) NTB Hario K Pamungkas menjelaskan, eskalasi ketidakpastian geopolitik Timur Tengah memicu perlambatan ekonomi dunia dan kerentanan rantai pasok global.
Baca Juga: New Mazda CX-5 Debut Global dengan Teknologi Mild Hybrid
Namun ekonomi domestik Indonesia justru tampil tangguh dengan pertumbuhan 5,61 persen (yoy) pada Triwulan I 2026.
“Ini didukung oleh konsumsi pemerintah, konsumsi rumah tangga, serta investasi yang masih terjaga,” ujar Hario, Jumat (29/5).
Kombinasi performa apik tersebut berdampak sangat positif bagi NTB. Perekonomian NTB pada Triwulan I 2026 mencatatkan lompatan impresif dengan tumbuh sebesar 13,64 persen (yoy).
Baca Juga: Eksotisme Pantai Lawar di Sumbawa Barat, Surganya Pecinta Selancar dan Sunset
Melesatnya pertumbuhan ekonomi NTB melampaui rata-rata nasional ini dipicu oleh performa impresif pada beberapa sektor fundamental.
KSSK NTB mencatat ada tiga faktor utama yang mengakselerasi laju produk domestik regional bruto (PDRB) daerah.
Pertama, tingginya volume ekspor konsentrat tembaga hasil hilirisasi industri pertambangan daerah.
Baca Juga: Honda Super-One Mulai Pre-Booking di Indonesia
Kedua, realisasi konsumsi pemerintah yang bergerak ekspansif sejak awal tahun.
Ketiga, daya beli dan tingkat konsumsi masyarakat yang tetap terjaga secara stabil.
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi regional ini ditopang secara berimbang sektor pertanian, pertambangan, perdagangan, konstruksi, serta geliat industri pengolahan lokal.
Beralih ke pemantauan harga baku, Provinsi NTB berhasil mengendalikan volatilitas pasar dengan mencatatkan deflasi sebesar -0,11 persen (month to month) pada April 2026.
Baca Juga: Sensasi Gurih Pedas Semangkuk Chicken Curry Laksa My Kopi-O
Angka ini menempatkan NTB ke dalam jajaran sembilan provinsi di Indonesia yang sukses menorehkan deflasi bulanan.
Adapun inflasi tahunan daerah dipastikan masih berada di dalam rentang sasaran nasional.
Mengingat semakin dekatnya Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) NTB langsung tancap gas memperkuat pasokan pangan melalui koordinasi intensif High Level Meeting, inspeksi mendadak (sidak) pasar, hingga pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) secara masif di 21 titik lokasi.
Pemerintah juga menggalakkan program tanam cabai di lahan aset pemda serta mengedukasi masyarakat untuk menerapkan budaya belanja bijak.
Selain menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia terus mengakselerasi ekosistem keuangan digital di NTB.
Per April 2026, transaksi lewat kanal BI-FAST meroket sebesar 33,81 persen (yoy), sementara platform SKNBI dan RTGS ikut tumbuh positif di angka 18,99 persen (yoy).
Baca Juga: Kerja Sama dengan RSUP NTB, Pemkot Bima Siapkan Anggaran Pemulangan Jenazah hingga Rp 2,8 Juta
"Penggunaan QRIS di NTB terus mengalami lonjakan, termasuk implementasi QRIS Cross-Border dari wisatawan asal Malaysia yang trennya searah dengan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara," jelas Hario.
Di sektor moneter, BI bersama TNI Angkatan Laut juga telah merampungkan agenda Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026 ke wilayah pulau terpencil (3T) di NTB.
Dalam ekspedisi ini, digelontorkan modal kerja Rp 8,34 miliar yang langsung terserap 100 persen oleh perbankan dan masyarakat kepulauan.
Keandalan industri keuangan daerah ikut diamini Kepala OJK NTB, Rudi Sulistyo.
Baca Juga: BI NTB Genjot Investasi Energi Hijau dan Sektor Riil
Ia memaparkan bahwa kinerja sektor jasa keuangan di NTB tetap kokoh yang dicerminkan dari ekspansi penyaluran kredit perbankan, khususnya alokasi pembiayaan pada segmen UMKM.
Penguatan ini dipertegas Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) II Bambang Syamsul Hidayat. Dia menyatakan, tingkat kepercayaan nasabah terhadap perbankan di NTB berada di level yang sangat kuat berkat cakupan penjaminan simpanan yang aman.
Dari aspek pengelolaan uang negara, Kakanwil DJPb NTB Ratih Hapsari Kusumawardani memaparkan perkembangan realisasi APBN regional serta penyaluran program kredit bersubsidi bagi pelaku usaha mikro.
Langkah optimalisasi anggaran ini dikunci dengan laporan dari Kakanwil DJP Nusra, Judiana Manihuruk, yang merekam pertumbuhan positif pada pos penerimaan pajak berkat kepatuhan Wajib Pajak (WP) serta efektivitas pemberian insentif fiskal daerah.
Melalui rapatan barisan otoritas keuangan ini, KSSK NTB optimis dapat mempertahankan stabilitas sistem moneter dan menjaga roda pertumbuhan ekonomi daerah tetap berjalan secara inklusif dan berkelanjutan hingga akhir tahun.
Editor : Akbar Sirinawa