LombokPost – Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS memukul telak industri ritel gawai di dalam negeri.
Pebisnis telepon seluler kini harus memutar otak akibat lonjakan harga produk yang terjadi beruntun. Terutama pada segmen ponsel pintar (smartphone) berbasis Android.
Kenaikan harga gawai pada periode April hingga Mei 2026 ini tercatat sebagai yang tertinggi.
Baca Juga: Rekomendasi 5 Drama Korea Terbaru yang Siap Tayang Juni 2026
Perpaduan antara jatuhnya nilai tukar Rupiah dan meroketnya harga komponen global menjadi pemicu utama.
Owner Ricky Smartphone Ricky Hartono Putra membeberkan, lonjakan harga ini terjadi dalam tiga gelombang yang sangat cepat sejak pertengahan April lalu.
Fase pertama dimulai sekitar tanggal 20 April. Disusul kenaikan kedua pada awal Mei akibat kelangkaan dan kenaikan harga komponen krusial, yakni Random Access Memory (RAM).
Baca Juga: Film Zombie Colony Tembus 4 Juta Penonton, Rekor Box Office Tercepat di 2026
Harga RAM di pasar global melonjak sekitar 20-30 persen.
Pada akhir Mei nilai tukar Rupiah yang kian melemah memicu gelombang kenaikan ketiga sebesar 10-20 persen.
Akibatnya, akumulasi harga beli ponsel Android baru di tingkat konsumen melonjak drastis.
Baca Juga: Drama Korea Terbaru Excitatio, Lee Jun Hyuk Jadi Pendeta Pengusir Setan
“Rata-rata kenaikan harga HP baru khususnya Android itu mencapai 40-50 persen dari harga semula. Ini rekor sepanjang sejarah saya membuka toko,” jelas Ricky.
Secara nominal, ponsel Android kelas pemula sebelum bulan April masih bisa dibeli dengan harga Rp 1,1-1,2 juta. Namun kini melonjak menjadi paling murah Rp 1,7 juta.
Artinya, ada kenaikan rata-rata Rp 500-600 ribu per unit.
“Bahkan, untuk jenama besar seperti Oppo, varian termurah yang dulunya dibanderol Rp 1,5 juta kini meroket hingga menyentuh angka Rp 2,3 juta,” bebernya.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan produk Apple. Segmen iPhone terpantau lebih stabil menghadapi fluktuasi mata uang asing.
Grafik kenaikan harga pada perangkat iPhone dinilai tidak terlalu signifikan. Hanya bergerak di kisaran 5-10 persen saja.
Melambungnya harga gawai berimplikasi langsung pada peta persaingan pasar dan daya beli masyarakat.
Baca Juga: Emas Antam Anjlok Rp 15 Ribu Per Gram, Merosot Rp 40 Ribu Sepekan
Dari segi kuantitas unit yang terjual, pengusaha mengeluhkan terjadinya penurunan signifikan, 30-40 persen.
Untuk menjaga stabilitas penjualan, para pengusaha menjalankan sejumlah strategi.
“Dulu biasanya HP kita tidak bundling sekarang bundling sama aksesoris. Terus ada program cicilan,” terangnya.
Baca Juga: ICW Kritik Penunjukan Nanik S Deyang, Dinilai Tak Selesaikan Masalah MBG
Volume unit yang dilepas ke pasar diakuinya menyusut tajam. Namun total perputaran uang secara keseluruhan masih relatif stabil karena tingginya nominal harga barang.
“Kalau omzet secara keseluruhan Android ada penurunan sedikit,” tandasnya.
Editor : Akbar Sirinawa