LombokPost – Kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi per 10 Juni 2026 dipastikan mempertebal beban operasional berbagai sektor usaha.
Kendati demikian, industri perhotelan di NTB memilih langkah berani. Pengusaha hotel menahan kenaikan tarif kamar dan menggencarkan program promosi demi menjaga tingkat hunian.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB Ni Ketut Wolini menegaskan, menaikkan harga bukan pilihan bijak.
Baca Juga: Siswa RLMS Chili House Community Rayakan Kelulusan Lewat Pentas Kreativitas dan Outing Edukatif
Terlebih di tengah lesunya kunjungan wisata dan merosotnya daya beli masyarakat saat ini.
"Kenaikan BBM jelas memukul rantai pasok kami, mulai dari biaya distribusi logistik hingga transportasi. Namun, kondisi pasar saat ini tidak memungkinkan kami untuk membebankan biaya tersebut kepada konsumen," ujar Wolini.
Tantangan industri akomodasi di NTB kian berlapis. Selain penurunan okupansi dibanding periode yang sama tahun lalu, sektor ini terpukul kebijakan efisiensi belanja pemerintah.
Baca Juga: Bank Indonesia Sebut BI Rate Dinaikkan demi Jaga Stabilitas Rupiah
Pengetatan anggaran berimbas pada drastisnya pengurangan aktivitas rapat dan pertemuan dinas di hotel. Padahal, segmen pasar ini merupakan tulang punggung pendapatan bagi hotel perkotaan.
Untuk menyiasati tekanan tersebut, manajemen hotel kini fokus pada strategi bertahan melalui penyesuaian internal dan efisiensi operasional tanpa mengurangi kualitas pelayanan.
"Strategi yang kami tempuh saat ini adalah menggeber berbagai program promosi kreatif. Harapannya, daya tarik ini bisa merangsang minat pelancong dan menjaga angka hunian tetap stabil," jelas Wolini.
Baca Juga: Puluhan IKM Olahan Pangan Lombok Timur Dapat Pelatihan
Meski situasi ini dirasa cukup berat, PHRI NTB memastikan pelaku usaha tetap agresif berburu ceruk pasar baru di luar sektor pemerintahan.
PHRI NTB berharap pemerintah daerah dapat bergerak lebih taktis dalam mendorong program peningkatan kunjungan wisatawan ke daerah.
Stimulus pariwisata dan agenda berskala besar dinilai menjadi kunci krusial. Tujuannya, agar industri perhotelan dan ekonomi daerah tetap mampu tumbuh di tengah badai kenaikan biaya operasional.
Editor : Akbar Sirinawa