LombokPost – Fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika (USD) kerap membuat ketar-ketir para pelaku industri.
Namun NTB tampaknya memiliki tingkat resistensi tinggi terhadap guncangan mata uang asing, berkat fondasi ekonomi berbasis agraris yang kuat.
Pertanian yang kokoh terbukti menjadi penyelamat bagi masyarakat NTB dalam mempertahankan daya beli dan kelangsungan ekonomi keluarga.
Baca Juga: Sinopsis Lengkap Drama Korea Love In Sync, Ketika Psikolog Populer Bertemu Seleb Mati Rasa
Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan, lebih dari 35 persen penduduk NTB menggantungkan hidupnya di sektor pertanian.
Kultur masyarakat mandiri dalam mengelola lahan ini membuat perputaran ekonomi lokal tetap stabil.
Meski sektor jasa di perkotaan global sedang tertekan akibat sepinya kunjungan asing.
"Sektor pertanian kita itu tumbuhnya luar biasa, bahkan pertumbuhan di satu subsektor saja bisa lebih dari sepuluh persen. Struktur ini mampu mencukupi hajat hidup banyak orang di NTB, sehingga lonjakan kurs dolar tidak terlalu berpengaruh signifikan di tingkat tapak," jelas Wahyudin, Rabu (17/6)
Selain pertanian, sektor perdagangan domestik di NTB juga menunjukkan kurva pertumbuhan menggembirakan pada rilis kuartal terakhir.
Dua sektor padat karya ini yang menjadi motor utama penyerap tenaga kerja lokal. “Jauh melebihi kontribusi sektor pertambangan yang cenderung padat modal,” sambungnya.
Baca Juga: Kang Min Ah Bocorkan Rahasia 'Transfer Emosi' di Drama Korea Love In Sync
Ketangguhan sektor pertanian ini linier dengan tren perbaikan indikator kesejahteraan sosial di NTB.
Salah satu capaian paling mencolok, merosotnya angka kemiskinan ekstrem di daerah sejak beberapa tahun terakhir.
Bahkan, berdasarkan metodologi perhitungan global terbaru, grafik kemiskinan ekstrem di NTB menunjukkan penurunan sangat tajam.
Penghitungannya menggunakan standar pengeluaran Purchasing Power Parity (PPP) sebesar USD 2,19 per kapita per hari.
Baca Juga: Rekrutmen 5.210 Mitra Sensus Ekonomi 2026 Berlangsung Secara Terbuka dan Berbasis Sistem
Tren perbaikan indikator kesejahteraan di NTB tercermin dari posisi awal pada Maret 2023. Grafik penurunan angka kemiskinan mulai konsisten bergerak ke bawah.
Memasuki 2026, angka kemiskinan ekstrem di NTB bahkan berhasil ditekan secara signifikan hingga hanya tersisa 0,4 sampai 0,5 persen.
Target rilis data agregat angka kemiskinan makro NTB secara keseluruhan dijadwalkan akan resmi dipublikasikan pada Juli 2026. Guna memperbarui data basis tahun 2025 yang sebelumnya berada di level 11,38 persen.
Baca Juga: Buntut Kontroversi Distorsi Sejarah, Blu-ray Drama Korea 'Perfect Crown' Resmi Dibatalkan
Meski begitu, pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota diwanti-wanti tidak bersikap abai terhadap dinamika global.
Keberhasilan bertahan dari dampak pandemi hingga gejolak inflasi dunia sejauh ini murni karena efektivitas pemanfaatan lahan oleh para petani lokal.
Tantangan ke depan adalah bagaimana memperkuat regulasi pelindungan lahan pertanian produktif. Juga menjamin ketersediaan pupuk, serta menyuntikkan teknologi pertanian modern atau smart farming.
Baca Juga: Kapolda NTB Tegaskan Transparansi Anggaran saat Audit Kinerja Polri 2026
Editor : Akbar Sirinawa