LombokPost – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi menimbulkan kekhawatiran akan lonjakan inflasi di NTB.
Bank Indonesia merespons dengan melakukan pemantauan pergerakan harga di sejumlah titik, terutama pasar tradisional.
Ini menjadi upaya Bank Indonesia mengantisipasi adanya efek kejut yang berpotensi memicu lonjakan harga komoditas lain.
Baca Juga: Nominal Simpanan Bank Umum Kuartal I di NTB Melambat
Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB Hario K Pamungkas mengimbau masyarakat dan para pelaku usaha tetap tenang. Masyarakat diminta tidak melakukan spekulasi harga secara sepihak.
Dijelaskannya, kebijakan ini hanya menyasar jenis BBM non-subsidi. Sehingga dampak langsungnya terhadap inflasi daerah diprediksi tidak akan se-ekstrem jika BBM subsidi berubah harganya.
“Alhamdulillah yang subsidinya masih tetap harga lama,” jelas Hario.
Kendati demikian Hario menegaskan, tim pengendali inflasi tidak mau kecolongan.
Pihaknya masih membutuhkan waktu beberapa hari ke depan untuk menghitung dampak dari kenaikan BBM non-subsidi ini. Terutama terhadap ongkos logistik barang.
“Kemudian seberapa besar ini dampaknya terhadap inflasi? Ini yang nanti sama-sama masih kita tunggu dan amati,” sambungnya.
Baca Juga: Review Dracin Terbaru “The First Jasmine”, Kisah Cinta Emosional yang Menyembuhkan
Kekhawatiran utama biasanya terletak pada aksi ikut-ikutan dalam menaikkan harga sewa angkutan atau barang pokok secara sepihak.
Menghindari hal itu, BI NTB terus memperkuat sinergi dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di tingkat kabupaten dan kota.
Ada sejumlah langkah antisipatif. Di antaranya, memastikan kelancaran jalur distribusi pasokan bahan pangan pokok antarwilayah tidak tersendat di tengah jalan.
Pihaknya juga menggandeng satgas pangan untuk memantau pergerakan harga harian secara ketat di sejumlah pasar induk.
Baca Juga: Publik Geger, Victoria Eks f(x) Tampil Elegan dan Memukau di Hangzhou
Sebagai bantalan terakhir bagi masyarakat, opsi operasi pasar murah pun telah disiapkan secara taktis.
“Pasar murah digelar jika nantinya ditemukan komoditas tertentu yang harganya mulai merangkak naik secara tidak wajar,” jelasnya.
Dengan harga BBM bersubsidi yang stabil, Bank Indonesia optimis struktur biaya produksi sektor UMKM serta transportasi publik di NTB masih dapat dikendalikan dengan baik.
Stabilitas harga pangan ini yang menjadi kunci utama untuk menjaga daya beli masyarakat lokal tetap kokoh.
Sekaligus memastikan momentum laju pertumbuhan ekonomi NTB tetap positif di tengah dinamika kebijakan energi nasional.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB terus melakukan pemantauan harga di pasar-pasar tradisional.
Sekaligus memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk mengantisipasi dampak kenaikan BBM tersebut.
“Harga-harga sampai sekarang masih normal. Ada yang naik dan ada juga yang turun. Kenaikannya tidak terlalu tinggi, masih dalam batas yang wajar,” ujar Kepala Disperindag NTB Lalu Wiranata.
Hasil pengawasan di lapangan menunjukkan belum ada lonjakan harga yang signifikan. Meski pun aktivitas ekonomi meningkat selama masa libur panjang.
Pemerintah daerah tetap mewaspadai potensi kenaikan harga yang biasanya dipicu meningkatnya biaya distribusi dan tingginya permintaan masyarakat.
Baca Juga: Piala Dunia 2026: Menggila di Kandang, Kanada Cukur Qatar 6 Gol Tanpa Balas
Sebagai antisipasi, Disperindag NTB menyiapkan berbagai program stabilisasi harga.
Termasuk operasi pasar bersama sejumlah mitra strategis seperti Bulog, Bank Indonesia, serta pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM), bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB.
Editor : Akbar Sirinawa