
LombokPost - NTB mencatatkan fenomena ekonomi positif pada April 2026 dengan mengalami deflasi sebesar 0,11 persen secara bulanan.
Angka ini mencerminkan penurunan harga pada sejumlah komoditas utama setelah melewati siklus puncak konsumsi Ramadan dan Idul Fitri pada Maret lalu.
Meski begitu, BPS memberikan perhatian khusus pada tiga kota pantauan inflasi di NTB, khususnya Kota Bima.
Wilayah ini mendapatkan peringatan keras lantaran inflasi tahunannya menembus 4,23 persen. Angka ini telah berada di luar target nasional yang ditetapkan pemerintah.
Sedangkan Kabupaten Sumbawa mencatatkan deflasi bulanan terdalam mencapai 0,52 persen. Untuk Kota Mataram mengalami inflasi tipis 0,11 persen dengan tingkat inflasi tahunan di angka 3,37 persen.
“Ini merupakan warning bagi teman-teman TPID, khususnya di Kota Bima supaya ke depan laju inflasinya ditekan. Ditekan supaya dia kembali ke bisa menjadi di dalam target 2,5 plus minus 1 persen,” ujar Kepala BPS NTB, Wahyudin, Senin (4/5).
Wahyudin mengatakan, penurunan harga pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,37 persen menjadi motor utama deflasi di NTB.
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut menyumbang andil deflasi sebesar 1,21 persen.
Laju deflasi ini didorong penurunan harga lima komoditas utama yang menjadi penekan inflasi daerah.
Cabai rawit menjadi salah satu penyumbang utama karena harganya mulai melandai seiring masuknya musim panen.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




