LombokPost – Di tangan kelompok perempuan tangguh di Dusun Sintung Barat, Desa Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah, bambu tidak lagi sekadar menjadi pagar pembatas lahan.
Melalui ketelitian dan sentuhan kreativitas, bambu disulap menjadi aneka produk ramah lingkungan atau eco-friendly bernilai ekonomi tinggi. Mahuni, sosok perempuan visioner di balik UD Bambu Rinjani.
Dirintis pada tahun 2017 lalu, usaha kerajinan ini tidak hanya fokus mengejar profit semata. UD Bambu Rinjani konsisten mengusung konsep bisnis sosial dengan memberdayakan para perempuan dan ibu rumah tangga lokal di desanya.
Baca Juga: Tenun Pringgasela Jadi Primadona Modest Fesyen Internasional
Karang Sidemen memang dikenal sebagai gudangnya potensi industri kreatif di Lombok Tengah.
Produk kriya berbahan bambu milik Mahuni memiliki daya pikat tersendiri karena murni mengedepankan aspek kesehatan konsumen dan kelestarian alam.
Kekuatan produk UD Bambu Rinjani terletak pada seleksi bahan baku yang sangat ketat. Mahuni hanya menggunakan bambu lokal pilihan yang sudah berusia tua dan berada dalam kondisi kering sempurna.
"Kalau pakai bambu yang masih muda, kualitasnya kurang bagus, gampang menyusut, dan rentan berjamur. Karena produk kami aman digunakan dari kalangan anak-anak hingga dewasa, seluruh proses pengerjaan dilakukan tanpa bahan kimia berbahaya," bebernya.
Sebelum dipajang atau dikirim ke pemesan, seluruh hasil produksi wajib melewati tahap sortir yang ketat.
Produk andalan seperti gantungan kunci, sedotan bambu, tempat tisu, hingga keranjang anyaman dengan motif ukir khusus akan dinilai harganya berdasarkan tingkat kerumitan pahatan.
Baca Juga: 2 Calon Pengelola KDMP Meninggal Saat Pelatihan, Publik Pertanyakan Materi Bernuansa Militer
Produk UD Bambu Rinjani memiliki kualitas pengerjaan yang halus dan berorientasi ekspor. Namun produk-produk eco-friendly ini dibanderol dengan harga yang sangat ramah di kantong.
Seperti Sedotan Bambu Alami Rp 2.000 per batang, tempat pensil dan kotak tisu Rp 10.000 per biji, set alat makan bambu Rp 40.000 per set, dan mangkuk batok kelapa estetik Rp 40.000 per biji.
Menariknya, seluruh proses produksi dari hulu ke hilir dikerjakan oleh jemari terampil kaum perempuan di Karang Sidemen.
Melalui wadah ini, Mahuni berhasil membuka lapangan kerja baru di sektor domestik. Sekaligus menaikkan derajat ekonomi keluarga tanpa harus meninggalkan rumah.
Baca Juga: Manchester City Tolak Mentah-mentah Tawaran Kejutan Arsenal untuk Savinho
Editor : Akbar Sirinawa