LombokPost – Kain tenun (wastra) dan kerajinan tangan (kriya) khas NTB tidak lagi sekadar mengandalkan keunikan visual ataupun nilai budaya semata.
Menembus ceruk pasar nasional hingga panggung global, produk kriya dan fesyen NTB wajib lolos dari filter standardisasi kurasi ketat dan profesional.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) NTB Sinta Agathia Iqbal mengatakan, melalui pelatihan intensif pihaknya berupaya menyamakan frekuensi, metode, dan indikator penilaian seluruh pengurus daerah.
Baca Juga: Pebisnis Hiburan Malam Keluhkan Senggigi Kian Redup
Tujuannya, agar proses seleksi kerajinan tidak lagi bersifat subjektif, tapi berorientasi penuh pada selera pasar industri modern.
Selama ini, ada miskonsepsi produk kurasi hanyalah barang yang terlihat menarik di mata. Padahal, instrumen kurasi modern menuntut penilaian yang jauh lebih mendalam dan komprehensif.
“Produk yang kita rekomendasikan harus benar-benar memiliki kualitas terbaik, memiliki identitas, serta siap bersaing di pasar yang lebih luas,” ujar Bunda Sinta, sapaan akrabnya.
Baca Juga: SD Negeri di Mataram Berganti Nama, Regrouping Sekolah Mulai Diberlakukan
Produk wastra dan kriya dinyatakan lolos kurasi jika berhasil mengunci lima pilar utama.
Di antaranya, aspek kualitas material, keaslian, fungsi produk, inovasi desain, hingga nilai jual dan peluang pasar.
Penilaian ini menitikberatkan pada ketahanan bahan baku serta kerapian detail pengerjaan. Sembari tetap menjaga pakem nilai budaya lokal yang menjadi nyawa produk tersebut.
Baca Juga: Lotim Kejar Produksi Padi Tujuh Ton
Produk juga dituntut memiliki fleksibilitas pemakaian dalam kehidupan sehari-hari agar tidak sekadar menjadi pajangan.
Dikombinasikan dengan sentuhan kreativitas inovatif pengikuti tren industri terkini.
“Seluruh indikator tersebut harus bermuara pada kesesuaian harga beli dengan daya jangkau target konsumen global,” jelasnya.
Ketua Harian Dekranasda NTB H Lalu Wiranata menegaskan, penyamaan standar kurasi ini merupakan pintu masuk utama dari strategi besar dalam merombak postur industri kreatif daerah.
Baca Juga: SPMB SMPN 16 Mataram Masih Sisakan Banyak Kursi, Jalur Domisili Jadi Penentu
Pemerintah siap mengawal pembentukan ekosistem hulu ke hilir.
“Mulai dari penyediaan pelatihan teknis lanjutan, penguatan narasi produk, perluasan akses pasar digital, hingga memfasilitasi legalitas Hak Kekayaan Intelektual (HKI) guna melindungi hak cipta karya pengrajin NTB dari plagiarisme,” pungkasnya.
Editor : Akbar Sirinawa