Lombok Post – NTB dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia (FESyar KTI) 2026 pada 10–12 Juli 2026 di Mataram.
Kegiatan ini mengusung tema akselerasi pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah regional berkelanjutan melalui sinergi dan transformasi digital.
Gelaran akbar ini menjadi bagian dari rangkaian Road to Indonesia Syariah Economic Festival (ISEF) 2026 puncaknya digelar di Jakarta pada Oktober mendatang.
Perhelatan di Mataram ini merupakan seri regional kedua setelah sebelumnya sukses digelar di Sumatra pada Mei lalu.
Deputi Kepala BI NTB Andhi Wahyu Riyadno menegaskan, FESyar KTI 2026 merupakan momentum strategis untuk mengintegrasikan jaring kolaborasi multi-pihak.
Langkah konkrit ini melibatkan pemerintah daerah, regulator, perbankan, pelaku usaha mikro, hingga organisasi kemasyarakatan Islam guna memacu sumber pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif di wilayah timur Nusantara.
Baca Juga: Lionel Messi Dikepung Mbappe dan Haaland di Bursa Top Skor Piala Dunia 2026
"Sinergi para pemangku kepentingan dalam FESyar KTI 2026 ini mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat ekosistem halal. Kami ingin mendorong keuangan syariah menjadi pilar penting pembangunan ekonomi nasional yang inovatif dan berkelanjutan," ujar Andhi, Rabu (8/7).
Ada hal menarik dalam visualisasi identitas FESyar KTI kali ini. Bank Indonesia secara khusus mengangkat kearifan lokal melalui penggunaan tenun renda Bima yang sarat akan nilai Islam dan keharmonisan sosial.
Motif bunga kakando pada tenun tersebut melambangkan ketangguhan, laksana rebung yang mampu tumbuh subur di tengah tantangan zaman.
Baca Juga: Harga LPG 3 Kg Melonjak, Wali Kota Bima Instruksikan Pengawasan hingga Tingkat RT/RW
Pesan ketangguhan ekonomi ini akan digaungkan ke 22 provinsi KTI. Sebanyak 19 kantor Perwakilan Bank Indonesia dari Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, hingga Papua akan hadir.
Ratusan delegasi dipastikan memadati Mataram untuk mengikuti tiga pilar utama kegiatan. Di antaranya, Syariah Fair, Syariah Forum, dan Syariah Education.
Pembukaan acara dijadwalkan dihadiri langsung Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti bersama Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal.
Memastikan dampaknya terasa nyata pada sektor riil, BI mengarsiteki empat program unggulan mutakhir sepanjang festival.
Baca Juga: Mikel Arteta Berburu Bek Baru, Bintang Rp 800 Miliar Milik Real Madrid Masuk Radar Arsenal
Pertama, program AKBAR (Akselerasi Kemandirian Bisnis Pesantren Berkelanjutan) yang berfokus pada pemantapan kemandirian bisnis pesantren secara berkelanjutan.
Kedua, AMANAH (Akselerasi Menuju Sertifikasi dan Ekosistem Halal) guna mengasistensi percepatan kepemilikan sertifikasi halal bagi pelaku UMKM lokal.
Ketiga, program BARAKAH (Bina Rantai Komunitas Halal) yang didesain untuk memperkuat daya saing komunitas halal daerah agar mampu menembus rantai pasok ekspor global.
Baca Juga: Bertabur Bintang, Lini Drakor Terbaru Juli 2026 Siap Manjakan Pecinta Drama Korea
Terakhir, program MAHAR (Mobilisasi Aset Halal melalui Akselerasi Wakaf) yang mengoptimalkan mobilisasi aset melalui pengelolaan wakaf produktif sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi umat.
Selama tiga hari, area Lombok Epicentrum Mall, Islamic Center NTB, Poltekpar Lombok dan Hotel Lombok Raya akan disulap menjadi pusat literasi syariah melalui business matching, pameran halal mart, hingga Modest Fashion Show.
Tak hanya menyajikan forum bisnis, syiar Islam juga dikemas menarik bagi milenial kota melalui gelaran Zakat and Wakaf (Zawa) Walk, komedi tunggal bersama Mukmin (juara SUCI), serta kehadiran pemuka agama nasional Ustadz Hanan Attaki dan musisi religi Haddad Alwi.
Baca Juga: Diduga Tanpa Izin Polda, Keluarga Santri Korban Pembakaran Dicegat di Bandara
Editor : Akbar Sirinawa