Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Jurang Ketimpangan Melebar, Dompet Kelas Bawah Tercekik Biaya Hidup

Geumerie Ayu • Kamis, 16 Juli 2026 | 13:04 WIB
SURVEI: Petugas LPS (kiri) yang tengah melakukan survei di salah satu kios klontong milik warga. (ISTIMEWA)
SURVEI: Petugas LPS (kiri) yang tengah melakukan survei di salah satu kios klontong milik warga. (ISTIMEWA)

LombokPost – Alarm peringatan bagi ketahanan dompet masyarakat kelas menengah ke bawah kembali berdering kencang.

Lonjakan harga bahan pokok, mahalnya harga energi (BBM dan elpiji), serta serbuan kelangkaan pasokan di lapangan secara akumulatif telah merusak tingkat kepercayaan konsumen terhadap fundamental ekonomi riil.

Realitas pahit ini terekam jelas dalam hasil Survei Konsumen dan Perekonomian (SKP) Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) periode Juni 2026.

Data teranyar menunjukkan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) merosot tajam sebesar 3,7 poin ke level 89,1.

Baca Juga: Patah Tulang Jari, Keonho CORTIS Tetap Manggung Meski tanpa Koreografi

Kejatuhan ini dipicu oleh rontoknya Indeks Situasi Saat Ini (ISSI) dan Indeks Ekspektasi (IE) konsumen yang pesimistis melihat sempitnya ketersediaan lapangan kerja baru serta ketidakpastian prospek pendapatan mereka di masa depan.

Namun, di tengah lesunya daya beli tersebut, muncul anomali menarik pada perilaku keuangan warga. Indeks Menabung Konsumen (IMK) justru terpantau menguat 1,6 poin ke level 81,7.

Penguatan ini bukan mencerminkan masyarakat kian makmur, melainkan potret kepasrahan warga yang terpaksa menahan belanja demi mempersiapkan pos pengeluaran darurat yang tidak bisa ditawar, yakni biaya masuk sekolah dan pendidikan anak.

Lonjakan kemauan menabung terbesar secara dramatis justru terjadi pada kelompok rumah tangga miskin dengan pendapatan di bawah Rp1,5 juta per bulan, yang melonjak hingga 5,0 poin.

Baca Juga: Ketika Sejarah Dikemas Jadi Komoditas Ekspor  

Secara psikologis, kelompok rentan ini melihat Juni sebagai waktu paling krusial untuk menahan setiap rupiah belanja harian.

Mereka menyisihkan uang bukan karena adanya sisa pendapatan, melainkan sebagai strategi bertahan hidup guna mengamankan biaya pendaftaran dan seragam sekolah anak pada tahun ajaran baru.

Ironisnya, di saat kemauan menabung mereka meroket ke level 90,2, kemampuan riil mereka untuk menabung justru melorot ke level 73,2 akibat tergerus inflasi kebutuhan pokok.

Di balik potret "ikat pinggang" kelompok masyarakat bawah, survei LPS ini sekaligus menelanjangi melebarnya jurang ketimpangan kelas sosial.

Di saat kelompok pendapatan di bawah Rp1,5 juta mengalami kejatuhan kepercayaan ekonomi paling parah, anjlok hingga 12,7 poin, kelompok elite berpendapatan di atas Rp 7 juta per bulan justru mencatatkan kenaikan optimisme (IKK naik 3,8 poin).

Kelompok kaya ini menjadi satu-satunya segmen yang posisi keuangan dan indeks menabungnya tetap kokoh berada di atas ambang batas (level 100).

Baca Juga: Personel Polresta Borong Dua Medali di Cabor Judo Porprov XII NTB

Hal ini mengindikasikan bahwa badai kenaikan harga BBM nonsubsidi dan kelangkaan elpiji di pasaran hampir tidak memengaruhi ketahanan finansial kelompok atas.

 

Editor : Kimda Farida
Sumber : lps.go.id
ketimpangan Survei Konsumen dan Perekonomian Indeks kepercayaan konsumen indeks menabung konsumen lembaga penjamin simpanan