Rayakan Hari Anak Nasional, Pertamina Ajak Anak Pesisir Kenali Budaya hingga Tanam 1.000 Mangrove

Kimda Farida • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 12:50 WIB
Anak-anak Sekolah Alam Anak Pesisir bersama relawan menanam bibit mangrove dalam rangkaian peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Desa Cendi Manik.
Anak-anak Sekolah Alam Anak Pesisir bersama relawan menanam bibit mangrove dalam rangkaian peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Desa Cendi Manik.

 

LombokPost--Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 menjadi pengalaman berbeda bagi puluhan anak pesisir di Nusa Tenggara Barat.

Bukan sekadar mengikuti kegiatan seremonial, mereka diajak belajar langsung mengenal sejarah dan budaya daerah hingga ikut menanam mangrove untuk menjaga ekosistem pesisir.

Kegiatan tersebut digelar Pertamina Patra Niaga melalui Integrated Terminal (IT) Ampenan bersama Komunitas Sanggar Jalan Pulang melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Sekolah Alam Anak Pesisir.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan Museum Tour ke Museum Negeri Nusa Tenggara Barat pada 12 Juli 2026.

Sebanyak 50 peserta didik Sekolah Alam Anak Pesisir ikut dalam kegiatan tersebut.

Didampingi fasilitator Komunitas Sanggar Jalan Pulang, anak-anak diajak menjelajahi berbagai koleksi museum.

Mereka belajar mengenal sejarah, budaya, serta kekayaan warisan lokal yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Nusa Tenggara Barat.

Baca Juga: Empat Kendaraan Diduga Bodong dalam Kasus Korupsi Pengadaan Dump Truck dan Arm Roll

Pembelajaran di luar ruang kelas tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan anak sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya daerah.

Tak berhenti di museum, anak-anak kemudian diajak kembali mengenal permainan tradisional melalui kegiatan yang difasilitasi Komunitas Alo Main.

Berbagai permainan dimainkan bersama. Selain menjadi sarana hiburan, permainan tradisional menjadi media pembelajaran yang mendorong kreativitas, kerja sama, sportivitas, sekaligus memperkuat interaksi sosial anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Suasana belajar kemudian berpindah ke kawasan pesisir.

Pada 19 Juli 2026, peserta didik Sekolah Alam Anak Pesisir mengikuti Aksi Penanaman 1.000 Bibit Mangrove di kawasan pesisir Desa Cendi Manik.

Kegiatan tersebut melibatkan fasilitator Komunitas Sanggar Jalan Pulang dan relawan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Mataram, termasuk mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Bagi anak-anak, menanam mangrove bukan sekadar aktivitas penghijauan. Mereka mendapatkan pengalaman langsung memahami pentingnya keberadaan mangrove bagi kawasan pesisir.

Mangrove memiliki fungsi ekologis penting, salah satunya membantu melindungi wilayah pesisir dari ancaman abrasi sekaligus menjadi habitat bagi berbagai biota laut.

Pengalaman tersebut diharapkan mampu menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.

Integrated Terminal Manager Ampenan Pertamina Patra Niaga, Asep Bagja Firdaus, mengatakan peringatan Hari Anak Nasional menjadi momentum untuk memperkuat komitmen perusahaan dalam menciptakan ruang belajar yang kontekstual, inklusif, dan berkelanjutan bagi generasi muda.

"Pertamina meyakini bahwa investasi terbaik adalah investasi pada generasi muda. Melalui Program Sekolah Alam Anak Pesisir, kami menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya memperkaya wawasan anak-anak terhadap sejarah dan budaya, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan," ujar Asep.

Baca Juga: Hari Anak Nasional 2026: KPAI Catat 6.900 Aduan Pelanggaran Hak Anak, Polri Pasang Badan Cegah Kejahatan AI

Dia berharap kegiatan tersebut dapat membantu membentuk generasi pesisir yang memiliki karakter kuat, berdaya saing, sekaligus memiliki tanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan di masa mendatang.

Project Manager Komunitas Sanggar Jalan Pulang, Zahit Idris, menilai pembelajaran yang menggabungkan edukasi budaya dan lingkungan memberikan pengalaman yang lebih bermakna bagi anak-anak.

Menurutnya, anak-anak akan lebih mudah memahami suatu nilai ketika mereka mendapatkan pengalaman secara langsung.

"Museum menjadi ruang untuk mengenal identitas dan sejarah, sementara kegiatan penanaman mangrove mengajarkan pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari kehidupan," ungkap Zahit.

Ia berharap pendekatan tersebut dapat membentuk karakter anak yang tidak hanya peduli terhadap lingkungan, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap budaya dan komunitas di sekitarnya.

Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan Program Sekolah Alam Anak Pesisir merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menghadirkan program TJSL yang memberikan manfaat berkelanjutan.

Menurutnya, pendidikan anak tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kemampuan akademik. Nilai kepedulian terhadap lingkungan dan pelestarian budaya juga perlu ditanamkan sejak dini.

"Momentum Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa investasi sosial tidak hanya diwujudkan melalui peningkatan kualitas pendidikan, tetapi juga dengan menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan dan pelestarian budaya sejak dini," kata Ahad.

Program Sekolah Alam Anak Pesisir dikembangkan Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Ampenan bersama Komunitas Sanggar Jalan Pulang dengan pendekatan 3E, yakni Edukasi, Ekologi, dan Ekonomi.

Baca Juga: Alasan Saraf Kejepit Kambuh, Hotman Paris Mundur Jadi Pengacara Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Program tersebut berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan anak-anak pesisir melalui pembelajaran berbasis potensi lokal, pelestarian lingkungan, serta penguatan karakter sebagai bagian dari upaya mendukung pembangunan berkelanjutan.

Melalui rangkaian kegiatan Hari Anak Nasional 2026, Pertamina Patra Niaga berharap anak-anak pesisir tidak hanya mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang mengenal akar budayanya dan memahami pentingnya menjaga lingkungan.

Sebab, di tangan mereka pula masa depan pesisir NTB akan ditentukan. Dari museum, anak-anak belajar mengenal masa lalu. Dari permainan tradisional, mereka belajar tentang kebersamaan. Dan dari bibit mangrove yang ditanam, mereka belajar menjaga masa depan.

Editor : Kimda Farida
Sumber : siaran pers
Hari Anak Nasional 2026 Sekolah Alam Anak Pesisir pertamina patra niaga Mataram NTB