Alfamart Perkuat Upaya Cegah Stunting Lewat Edukasi Gizi pada Hari Anak Nasional, Lengkapi Program Satu Telur Sehari

Kimda Farida • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 07:44 WIB
Foto bersama Alfamart, tenaga kesehatan, kader posyandu, orang tua, dan anak penerima manfaat Program Satu Telur Sehari dalam kegiatan edukasi gizi di Desa Teratak, Lombok Tengah.
Foto bersama Alfamart, tenaga kesehatan, kader posyandu, orang tua, dan anak penerima manfaat Program Satu Telur Sehari dalam kegiatan edukasi gizi di Desa Teratak, Lombok Tengah.

LombokPost--Momentum Hari Anak Nasional dimanfaatkan Alfamart untuk memperkuat komitmennya dalam mendukung percepatan penanganan stunting melalui Program Satu Telur Sehari (STS).

Program tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan dalam membantu intervensi gizi anak sekaligus meningkatkan pemahaman keluarga mengenai pentingnya pola hidup sehat. 

Program yang telah memasuki tahun keempat itu menargetkan 2.700 anak terindikasi stunting di 39 kabupaten/kota dengan penyaluran lebih dari 510.000 butir telur selama enam bulan pelaksanaan.

Tidak hanya menyalurkan bantuan telur, Alfamart juga melengkapi program tersebut dengan edukasi gizi bagi para orang tua.

Langkah ini dilakukan agar intervensi gizi dapat berjalan lebih optimal melalui perubahan pola asuh, kebiasaan makan, serta pemahaman keluarga mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang sejak dini.

Bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional setiap 23 Juli, Alfamart menghadirkan edukasi langsung dari tenaga kesehatan dan ahli gizi kepada para orang tua penerima manfaat Program Satu Telur Sehari.

Baca Juga: Tiga Bale Adat Sembalun Belum Jadi Cagar Budaya

Salah satu kegiatan digelar di Desa Teratak, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Kamis (23/7/2026). Sebanyak 100 anak penerima manfaat bersama orang tua mereka mengikuti edukasi gizi tersebut.

Anak penerima manfaat Program Satu Telur Sehari bersama orang tua mengikuti edukasi gizi yang digelar Alfamart di Desa Teratak, Lombok Tengah.
Anak penerima manfaat Program Satu Telur Sehari bersama orang tua mengikuti edukasi gizi yang digelar Alfamart di Desa Teratak, Lombok Tengah.

Desa Teratak yang sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan hutan, tempat masyarakat menggantungkan mata pencaharian, saat ini tengah berupaya menekan angka stunting. 

Berdasarkan rekomendasi Dinas Kesehatan Lombok Tengah, desa tersebut menjadi salah satu lokasi pelaksanaan Program Satu Telur Sehari karena terdapat lebih dari 100 anak yang terindikasi stunting.

Kepala UPTD BLUD Puskesmas Teratak, Usmannawai, S.Kep., menyampaikan bantuan dari Alfamart sangat penting dan dibutuhkan.

Menurutnya, penanganan stunting di tingkat desa belum dapat dilakukan secara maksimal akibat efisiensi anggaran.

Anak-anak yang terindikasi stunting tidak hanya mendapatkan tambahan asupan protein berupa satu butir telur setiap hari, tetapi juga pendampingan terkait pola asuh dan pola makan seimbang bagi orang tua.

"Untuk kasus stunting yang sedang ditangani jumlahnya lebih dari 100 balita, untuk kasus westing juga lebih dari 100. Westing atau gizi kurang, bisa berpotensi jadi stunting, kalau tidak di tangani dengan baik," jelas Usmannawai.

Karena itu, menurutnya, Program Satu Telur Sehari sangat membantu Puskesmas Teratak, khususnya dalam penanganan kasus stunting.

Ia menambahkan, antusiasme penerima manfaat cukup tinggi karena kualitas telur yang diberikan dinilai baik dan diharapkan program tersebut dapat berlanjut.

"Terimakasih disampaikan oleh penerima bantuan yang disampaikan lewat ketua forum kader desa. Dan dari Puskesmas, trimakasih dan apresiasi utk manajemen dan jajarannya, sehat selalu semoga, semua ikhtiar ibu/bpk dicatat jadi amal jariah amin," tandas Usmannawai.

Menurutnya, program tersebut telah memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan anak yang terindikasi stunting.

"Program sederhana ini memberikan dampak yang sangat membantu terhadap pertumbuhan anak-anak yang terindikasi stunting. Manfaatnya dapat dirasakan langsung, terutama dalam mendukung pemenuhan gizi harian anak," ujarnya.

Baca Juga: Jelang HUT Ke-81 RI, PLN NTB Jaga Listrik Tetap Menyala Tanpa Pemadaman di Sumbawa

Ia menjelaskan, telur dipilih karena merupakan salah satu sumber protein hewani yang mudah diperoleh, terjangkau, serta praktis diolah menjadi menu harian anak.

Selain distribusi telur, program juga dibarengi edukasi gizi dan pemeriksaan berkala yang dilakukan bersama kader posyandu.

Dietisien Bangun Hidup Sehat Wellness Center, Aqila Maharani, menjelaskan stunting merupakan kondisi yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kurangnya asupan gizi, infeksi berulang, lingkungan yang kurang sehat, pola asuh yang belum optimal, hingga terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan.

Menurutnya, periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi fase paling krusial dalam mencegah stunting karena menjadi fondasi utama tumbuh kembang anak.

"Seribu Hari Pertama Kehidupan merupakan waktu terbaik untuk mencegah stunting. Sejak anak masih dalam kandungan, kebutuhan gizi ibu harus terpenuhi selama masa kehamilan. Setelah lahir, pemenuhan gizi seimbang pada anak juga menjadi faktor penting agar tumbuh kembangnya berlangsung optimal," ujar Aqila.

Ia menambahkan, rentang usia 6 hingga 24 bulan merupakan periode penting untuk memperbaiki status gizi anak. Pada fase tersebut, pemberian protein hewani, termasuk telur, menjadi salah satu sumber nutrisi yang mendukung pertumbuhan, tentu disertai konsumsi makanan bergizi seimbang lainnya.

Aqila juga meluruskan anggapan yang masih banyak dipercaya masyarakat bahwa konsumsi telur dapat menyebabkan bisulan pada anak.

"Bisulan bukan disebabkan karena terlalu banyak makan telur, melainkan akibat infeksi bakteri. Jadi, orang tua tidak perlu khawatir memberikan telur kepada anak selama dikonsumsi sesuai kebutuhan gizinya," jelasnya.

Selain itu, para orang tua diberikan berbagai contoh menu sederhana berbahan dasar telur yang tetap mempertahankan kandungan gizinya, seperti omelet sayur, sup telur, semur telur, hingga telur gulung sayuran agar lebih menarik bagi anak.

Jangkauan Program Terus Bertambah Program Satu Telur Sehari Alfamart menyasar anak usia 1 hingga 3 tahun yang terdata terindikasi stunting berdasarkan pendataan bersama Dinas Kesehatan dan kader posyandu di masing-masing daerah.

Selama enam bulan pelaksanaan yang dimulai sejak Mei 2026, setiap anak menerima bantuan satu butir telur setiap hari.

Penyaluran dilakukan secara periodik melalui Dinas Kesehatan maupun kader posyandu setempat sehingga pendampingan terhadap penerima manfaat dapat berjalan secara berkelanjutan. 

Pelaksanaan program tersebut terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2022, Alfamart mendistribusikan 177.000 butir telur kepada 1.000 anak di 10 kabupaten/kota.

Program berlanjut pada 2024 dengan penyaluran 103.000 butir telur kepada 591 anak di 12 kabupaten/kota. Setahun berikutnya, jangkauan diperluas menjadi 25 kabupaten/kota melalui distribusi 189.000 butir telur kepada 1.000 anak.

Sementara pada 2026, program mencapai pelaksanaan terbesar sejak pertama kali dijalankan dengan distribusi lebih dari 510.000 butir telur kepada 2.700 anak di 39 kabupaten/kota. General Manager Corporate Communications Alfamart, Rani Wijaya, mengatakan Program Satu Telur Sehari terus dikembangkan berdasarkan hasil evaluasi dari pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya.

"Program ini terus berkembang dari tahun ke tahun. Perluasan ini menunjukkan bahwa kolaborasi lintas pihak mampu menghadirkan dampak yang semakin besar dalam mendukung upaya penurunan stunting di Indonesia," ujar Rani.

Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya telur yang disalurkan atau luasnya wilayah yang dijangkau, tetapi juga dari perubahan perilaku keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.

"Intervensi gizi akan lebih optimal ketika dibarengi dengan peningkatan pengetahuan orang tua. Karena itu, kami tidak hanya memberikan telur, tetapi juga menghadirkan edukasi langsung dari para ahli agar keluarga memahami pentingnya gizi seimbang, pola makan yang tepat, serta pola asuh yang mendukung tumbuh kembang anak melalui kegiatan pemberdayaan," terangnya.

Berdasarkan hasil monitoring internal tahun 2025, sekitar 72 persen anak penerima manfaat mengalami peningkatan berat badan sebagai salah satu indikator perbaikan status gizi.

Capaian tersebut menjadi dasar Alfamart untuk terus memperkuat kualitas program melalui pendampingan dan edukasi kepada orang tua.

"Harapannya, Program Satu Telur Sehari membentuk kebiasaan hidup sehat dalam keluarga dan berkontribusi pada upaya nasional menekan angka stunting," tutup Rani. (*)

Editor : Kimda Farida
Sumber : siaran pers
Program Satu Telur Sehari hari anak nasional edukasi gizi alfamart Stunting