LombokPost – Di sebuah sudut tempat kerja sederhana di kawasan Sandik, Kabupaten Lombok Barat, helai demi helai daun ketapang, jati, hingga pakis ditata presisi di atas kain polos.
Di tangan Fitriandi Kurnia, dedaunan yang kerap berserakan sebagai sampah itu menjelma jadi ecoprint bernilai seni tinggi pada busana kelas atas.
Melalui Rumah Jahit Sofizia, Fitri membuktikan industri fesyen mampu berjalan selaras dengan keberlanjutan lingkungan.
Berbekal pewarna alami dari daun ketapang serta jejak motif dari daun jarak, kamboja, hingga kersen, ia merancang beragam produk busana. Mulai dari baju tenun kombinasi, jilbab, topi, tas, hingga kain ecoprint premium.
Baca Juga: Lima Drakor Terbaru Siap Tayang Agustus 2026, Dari Reuni Bintang Hingga Sekuel Populer
Proses pembuatannya pun membutuhkan ketelitian ekstra. Kain terlebih dahulu melewati tahap mordanting, diberi warna alami, lalu ditata dedaunan di atasnya sebelum digulung dan dikukus selama dua jam.
Setelah diangin-anginkan selama tiga hari, kain menjalani proses fiksasi agar warnanya tak memudar.
“Kelebihan utama ecoprint ini ramah lingkungan dan aman bagi konsumen yang memiliki alergi terhadap bahan pewarna sintetis. Produk kami menyajikan estetika alam NTB yang otentik,” ujar Fitri.
Titik balik transformasi Rumah Jahit Sofizia kian nyata setelah bergabung dengan Rumah BUMN Lombok Barat binaan PLN UIW NTB sejak 2022.
Baca Juga: Jungkook BTS Bangkitkan Antusiasme Menonton Film Hope, Sutradara Na Hong Jin Sampaikan Apresiasi
Berkat pendampingan rutin dan penguatan kapasitas UMKM omzet usahanya melesat hingga menyentuh puluhan juta per bulan.
“Dapat pelatihan manajemen usaha, pembukuan keuangan, product branding, hingga teknik fotografi produk secara profesional,” terangnya.
Eskalasi bisnis ini makin lengkap saat karya ecoprint lokal miliknya berkesempatan unjuk gigi di ajang bergengsi World Superbike (WSBK) Mandalika.
Event tersebut membuka etalase panggung internasional sekaligus melipatgandakan jejaring koneksi usahanya.
“Terima kasih kepada PLN yang telah memberikan saya kesempatan. Saya bisa memperluas jaringan koneksi usaha saya dan menambah ilmu,” tandasnya.
Editor : Akbar Sirinawa