Pemerintah Targetkan Pertumbuhan 6 Persen di Semester II, Gelontorkan Stimulus, Optimalkan Belanja Negara

Kimda Farida • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 11:29 WIB
HASIL ASESMEN: Dari kiri, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Pejabat Gubernur BI Sementara Destry Damayanti, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Anggito Abimanyu usai konferensi pers Hasil Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan di Jakarta, Senin (3/8).
HASIL ASESMEN: Dari kiri, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Pejabat Gubernur BI Sementara Destry Damayanti, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Anggito Abimanyu usai konferensi pers Hasil Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan di Jakarta, Senin (3/8).

 

LombokPost--Pemerintah mulai mengalihkan fokus ke paro kedua tahun ini.

Setelah pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat pada kuartal II akibat gejolak global, pemerintah optimistis laju ekonomi kembali menguat pada semester II 2026.

Sejumlah stimulus tengah disiapkan agar target pertumbuhan 5,6-6 persen tercapai.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan, hasil asesmen Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menunjukkan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Menurut Purbaya, tekanan eksternal meningkat sepanjang kuartal II.

Pemicunya antara lain eskalasi konflik geopolitik, kenaikan harga energi, volatilitas pasar keuangan global, serta tekanan terhadap nilai tukar dan arus modal.

”Tapi, fondasi ekonomi domestik masih kuat. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan karena daya beli masyarakat relatif terjaga,” ujarnya dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala KSSK III 2026 di Jakarta Senin (3/8).

Pemerintah juga terus mengoptimalkan peran APBN melalui berbagai program, mulai perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan dan energi, penciptaan lapangan kerja, hingga stimulus selama libur sekolah.

Baca Juga: Dana Pembangunan KDMP di Desa Mangkung Belum Bisa Disalurkan

”Daya beli masyarakat tetap terjaga dalam mendukung konsumsi rumah tangga," imbuhnya.

Purbaya mengakui pertumbuhan ekonomi kuartal II diperkirakan melambat.

Berdasarkan proyeksi sejumlah lembaga, pertumbuhan diperkirakan berada di bawah 5,6 persen atau mendekati 5,4 persen.

”Kalau kita lihat prediksi empat lembaga, kelihatannya di bawah 5,6 persen untuk kuartal kedua. Tapi mungkin tidak jauh dari 5,4 persen. Jadi melambat, tetapi tidak parah,” ujarnya.

Namun, pemerintah yakin kondisi akan membaik pada semester II.

Koordinasi dengan Bank Indonesia diperkuat untuk memastikan seluruh mesin pertumbuhan kembali bergerak.

”Kami akan berkoordinasi lebih erat dengan Bank Indonesia untuk memastikan semua mesin pertumbuhan berjalan. Kami juga akan memberikan beberapa stimulus kepada perekonomian," jelasnya.

Pemerintah tengah menyiapkan sejumlah insentif baru, termasuk kemungkinan stimulus bagi kendaraan listrik.

Di sisi lain, likuiditas sektor keuangan akan dijaga dan iklim investasi terus diperbaiki.

”Kami juga akan memastikan belanja pemerintah pada semester kedua lebih lancar dibandingkan semester pertama. Kami memprediksi ekonomi semester kedua bisa tumbuh 5,6 sampai 6 persen dengan kerja keras,” paparnya.

Baca Juga: Semester Pertama Fondasi Ekonomi NTB Semakin Kuat, Harga Barang Stabil, Pariwisata Meningkat, Ekspor Melonjak

Pasar SBN Tetap Tahan Guncangan 

Di tengah ketidakpastian global, pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih menunjukkan daya tahan.

Yield SBN acuan tenor 10 tahun naik 31 basis poin secara kuartalan menjadi 7,14 persen pada akhir kuartal II 2026.

”Kenaikan dipicu eskalasi konflik Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global sehingga memicu sikap hati-hati investor,” tutur Purbaya.

Meskipun demikian, investor nonresiden masih membukukan pembelian bersih (net buy) SBN sebesar Rp32,09 triliun sepanjang kuartal II 2026.

Hingga 30 Juni 2026, investor asing juga mencatatkan pembelian bersih Rp 6,36 triliun secara bulanan (MTD) dan Rp 13,35 triliun secara tahunan (YTD). 

Baca Juga: Semester Pertama Fondasi Ekonomi NTB Semakin Kuat, Harga Barang Stabil, Pariwisata Meningkat, Ekspor Melonjak

Pada periode yang sama, yield SBN tenor 10 tahun naik 15 basis poin secara MTD dan 122 basis poin secara YTD menjadi 7,89 persen. (mim/dio/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
Sumber : Jawa Pos
Pertumbuhan Ekonomi 2026 Semester II 2026 KSSK Ekonomi Indonesia kementerian keuangan