LombokPost – Kelompok Perempuan Kepala Rumah Tangga (PEKKA) Lombok Barat (Lobar) tidak lagi melihat lahan kosong sebagai ruang yang tidak menghasilkan.
Ini adalah aset usaha yang bisa diputar menjadi modal ekonomi keluarga.
Di lahan tersebut, anggota Pekka membudidayakan berbagai tanaman pangan seperti cabai, tomat, terong, pakcoy, dan kacang panjang.
Sebagian hasil panen digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sisanya dijual.
Baca Juga: Korwil SPPG Dicopot Karena Abaikan Aturan Acuan, Pembelian dari Peternak Tetap Rp 26.500 Per Kg
Pola tersebut membuat aktivitas bercocok tanam tidak berhenti sebagai gerakan ketahanan pangan.
Lebih jauh, mulai terbentuk model usaha mikro dengan prinsip sederhana. Yakni, tanam, panen, jual, lalu modal diputar kembali untuk produksi berikutnya.
Seorang anggota Pekka, Sumarni mengatakan, sebelumnya lahan tersebut belum pernah dimanfaatkan secara optimal.
Setelah mendapat bantuan bibit dan mulsa, kelompok mulai mengolahnya menjadi kebun produktif.
Baca Juga: KPP Mataram Timur Tanamkan Kesadaran Pajak ke Siswa SMAN 1 Kediri
“Hasilnya kita jual, kemudian uangnya kita beli bibit lagi untuk ditanam kembali,” katanya.
Menurut Sumarni, peluang usaha kelompok semakin terbuka setelah mengembangkan budi daya jamur janggel jagung.
Produk tersebut dijual sekitar Rp 40 ribu per kilogram. Bahkan, permintaan datang sebelum seluruh hasil produksi selesai dipanen.
“Banyak peminatnya,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kekuatan UMKM desa tidak selalu membutuhkan modal besar.
Ketersediaan lahan, bahan baku lokal dan kemampuan mengelola produksi dapat menjadi modal awal untuk membangun usaha.
Baca Juga: Kemenkum NTB dan Pemkot Mataram Siapkan Forum Komunikasi Kebijakan
Kepala Dinas Kelautan, Perikanan dan Ketahanan Pangan Lobar Afgan Kusumanegara mengatakan, Pekka memiliki anggota cukup besar. Serta dinilai aktif mengembangkan bantuan pemerintah.
“Begitu kita kasih bantuan, mereka langsung kerjakan sesuai dengan arahan kami,” katanya.
Kelompok tersebut juga kembali menghidupkan keterampilan produksi jamur janggel jagung yang sempat terhenti.
Pemerintah memberikan dukungan berupa bahan baku tongkol jagung untuk menggerakkan kembali produksi.
Baca Juga: Satu Penumpang KMP Putri Yasmin Meninggal Dunia, Dua Korban Lain Dirawat di RSUP NTB
Jumlah anggota Pekka sekitar 1.500 orang. Pemerintah melihat peluang pengembangan usaha yang jauh lebih besar.
Setiap anggota didorong memanfaatkan pekarangan rumah untuk menghasilkan pangan sekaligus pendapatan.
Ke depan, Pemkab Lobar berencana memperkuat sisi hilir melalui kolaborasi dengan organisasi perangkat daerah terkait.
Pengolahan dan pemasaran akan menjadi perhatian ketika volume produksi meningkat.
Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Lombok Post