LombokPost – Ketika sebagian petani mengandalkan padi dan palawija, Lalu Suandi justru melihat peluang dari bunga Marigold.
Di Desa Rarang, Kecamatan Terara, Lombok Timur, marigold bukan sekadar untuk mempercantik lahan. Namun menjadi komoditas bisnis dengan pasar yang terus bergerak.
Sudah sekitar enam tahun Suandi menekuni budi daya marigold.
Dari lahan sekitar 70 are, bunga berwarna kuning tersebut mampu menghasilkan omzet hingga puluhan juta Rupiah dalam sekali musim tanam.
Baca Juga: Black Garlic, Oleh-Oleh Ikonik dari Sembalun
“Sekali tanam omzet paling minim Rp15 juta. Kalau harga bagus bisa Rp 20-30 juta,” beber Suandi.
Model bisnis yang dijalankan cukup sederhana, tetapi membutuhkan ketelitian.
Benih marigold dibeli kemudian disemai secara mandiri. Setelah berusia sekitar satu bulan, bibit dipindahkan ke lahan produksi.
Sebelum ditanami, lahan diberi pupuk dasar dan dibuat bedengan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Baca Juga: Desa Berdaya Jadi Jalan UMKM NTB Tembus Pasar Global
“Bijinya kita beli, kemudian disemai sendiri, baru setelah satu bulan kita pindah tanam ke sawah,” jelasnya.
Keuntungan lain dari marigold terletak pada pola panennya.
Berbeda dengan sejumlah komoditas pertanian yang hanya memberikan hasil dalam satu waktu, bunga ini dapat dipanen hampir setiap hari selama masa produktif.
Dari 10 ribu benih, Suandi mampu menghasilkan sekitar 3-4 kuintal bunga.
“Masa produktifnya bisa tiga bulan bahkan lebih, sehingga panennya bisa dilakukan hampir setiap hari,” katanya.
Pasar marigold Rarang juga cukup spesifik. Sebagian besar produksi dikirim ke Kota Mataram dan Lombok Barat untuk kebutuhan upacara keagamaan umat Hindu.
Baca Juga: NTB Kejar Data Ekonomi Presisi
Permintaan biasanya melonjak menjelang Nyepi dan Galungan.
Kondisi tersebut membuat harga ikut bergerak dari Rp 7-10 ribu per kilogram hingga Rp 30-35 ribu per kilogram.
“Kalau musim permintaan tinggi, kami bahkan sering tidak mampu memenuhi pesanan,” ujarnya.
Suandi melihat peluang bisnis yang lebih besar jika marigold tidak berhenti sebagai bunga segar.
Baca Juga: Ekspor Menurun, Ruang Fiskal NTB Ikut Tertekan
Komoditas tersebut berpotensi dikembangkan menjadi teh, keripik, bahan makanan hingga parfum.
“Bunga ini tidak berbau, sehingga bisa dijadikan bahan makanan. Kami masih membutuhkan bimbingan untuk mengolahnya,” jelasnya.
Potensi lain muncul dari sektor pariwisata. Hamparan marigold yang berada di tengah persawahan Rarang mulai menjadi daya tarik masyarakat.
Kawasan tersebut bahkan pernah dimanfaatkan sebagai lokasi car free day dan pasar alam.
“Lokasi ini juga bisa menjadi objek wisata dan ikut menggerakkan UMKM Desa Rarang,” pungkas Suandi.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Lombok Post