Manha 99, Kudapan Lombok yang  Sudah Melanglang Buana  

Ferial Ayu • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 15:58 WIB
IKUT BAZAR: Owner Manha 99 Nur Aini (kiri) bersama Ketua Dekranasda NTB Sinta Agathia Iqbal menunjukkan produk kreasinya, beberapa waktu lalu. (IST/LOMBOK POST)
IKUT BAZAR: Owner Manha 99 Nur Aini (kiri) bersama Ketua Dekranasda NTB Sinta Agathia Iqbal menunjukkan produk kreasinya, beberapa waktu lalu. (IST/LOMBOK POST)

LombokPost – Peluang bisnis bisa datang dari mana saja, termasuk dari tumpukan pisang yang nyaris menjadi sampah.

Nur Aini, perempuan asal Telagawaru, Lombok Barat ini melakukan sesuatu berbeda bersama Manha 99, merek produknya.

Sekitar 2007, Nur Aini mulai mengolah pisang yang masih layak konsumsi menjadi pisang sale.

Langkah sederhana tersebut menjadi awal perjalanan panjang bisnisnya.

Baca Juga: Legend is Back, Freelander 8 EREV Launching Awal September 2026

Kemudian mengantarkan produknya masuk ke hampir seluruh toko oleh-oleh di Lombok, sejumlah hotel berbintang, hingga pasar Hongkong.

“Kami ada reseller di Hongkong,” ujarnya.

Perjalanan itu tentu tidak langsung mulus.

Eksperimen pertama berakhir dengan kegagalan.

Baca Juga: Toyota Yaris Cross Dapat Penyegaran, Mesin Hybrid Jadi Andalan

Pisang yang telah diiris tipis dan dijemur malah gosong ketika digoreng.

Teksturnya pun keras sehingga seluruh produksi harus dibuang.

Namun, kegagalan tersebut tidak membuat Nur Aini berhenti.

Ia terus mencoba hingga menemukan formula yang menghasilkan pisang sale dengan tekstur lebih renyah dan rasa yang sesuai selera konsumen.

Pada masa awal, proses produksi masih sangat sederhana.

Pisang dijemur mengandalkan panas matahari.

Baca Juga: Mitsubishi Pajero Generasi Kelima Debut Global Awal September 2026

Ketergantungan terhadap cuaca menjadi salah satu tantangan terbesar, terutama ketika musim hujan tiba.

Produksi menurun karena proses pengeringan membutuhkan waktu lebih lama.

Produk ini awalnya dipasarkan dengan nama Dek Manha.

Bahkan masih dikemas sederhana menggunakan plastik dan stiker bertuliskan nama sang anak.

Baca Juga: Kembali Bangkit, Ritual Nyemulaq Segera Awali Pemulihan Desa Wisata Sade

Pisang sale dijual Rp 10 ribu per bungkus dengan isi sekitar 13 biji.

Titik balik usaha terjadi setelah sempat terhenti akibat gempa Lombok 2018.

Nur Aini kembali bangkit setahun kemudian dengan mengganti mereknya menjadi Manha 99.

Angka 99 diambil dari Asmaul Husna.

“Harapannya agar usaha ini membawa keberkahan,” katanya.

Perubahan tersebut ikut membuka jalan bagi ekspansi pasar.

Baca Juga: Paket Wisata Mandalika Manjakan Fans MotoGP 2026

Kini Manha 99 tidak hanya mengandalkan konsumen toko oleh-oleh.

Produk kemasan mini juga dipasok ke sejumlah hotel dengan permintaan mencapai 1.000 hingga 3.000 bungkus per bulan.

Pasar luar negeri pun mulai disentuh.

Melalui reseller di Hongkong, Manha 99 rutin mengirim produk dua kali dalam sebulan.

Baca Juga: Kanwil Kemenkum NTB Serahkan Sertifikat Bros Tembolak dan Apresiasi Dua Paralegal di HUT ke-33 Matar

Nilai setiap pengiriman bahkan dapat mencapai jutaan Rupiah.

Untuk memenuhi permintaan, Nur Aini kini memiliki lima tenaga kerja tetap serta mitra pemasok pisang kering dari Lombok Utara.

Varian produknya pun semakin beragam, mulai dari pisang sale original, mini stik sale karamel gula aren, cokelat, hingga jagung.

Di antara berbagai varian tersebut, mini stik sale karamel gula aren menjadi salah satu yang paling diminati.

Inovasi rasa menjadi strategi Manha 99 untuk keluar dari kesan pisang sale hanya memiliki satu bentuk dan rasa.

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
Manha 99 kudapan Lombok sale pisang UMKM BISNIS