Ekonomi NTB Melejit 7,41 Persen, Smelter dan Konsumsi Rumah Tangga Jadi Motor Utama

Ferial Ayu • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 08:37 WIB
BERI PENJELASAN: Kepala KPwBI NTB Hario K Pamungkas (tengah) memberikan penjelasan terkait pertumbuhan ekonomi dalam Bincang Bareng Media (BBM) triwulan III 2026, di Mataram, Rabu (2/9). (FERIAL/LOMBOK POST)
BERI PENJELASAN: Kepala KPwBI NTB Hario K Pamungkas (tengah) memberikan penjelasan terkait pertumbuhan ekonomi dalam Bincang Bareng Media (BBM) triwulan III 2026, di Mataram, Rabu (2/9). (FERIAL/LOMBOK POST)

LombokPost – Perekonomian Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan performa impresif pada triwulan II 2026.

Pertumbuhan ekonomi mencapai 7,41 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Capaian ini berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional maupun kawasan Bali dan Nusa Tenggara (Balinusra).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTB Hario K Pamungkas mengatakan, kinerja positif tersebut tidak lepas dari meningkatnya aktivitas ekspor hasil industri pengolahan, terutama produksi dari smelter.

Baca Juga: ITDC Perkuat Ekosistem Pariwisata Lewat MotoGP Mandalika 2026  

Selain itu, masih terdapat kontribusi dari relaksasi ekspor konsentrat tambang pada April 2026.

“Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh ekspor hasil industri smelter, maupun masih adanya sisa relaksasi ekspor konsentrat tambang di April 2026,” kata Hario.

Di luar sektor pertambangan, konsumsi rumah tangga juga menjadi penopang penting pertumbuhan ekonomi NTB.

Aktivitas masyarakat tetap kuat seiring hadirnya sejumlah momentum konsumsi pada triwulan kedua.

Baca Juga: Bulog Jamin Stok Beras NTB Aman 27 Bulan Ke Depan

Mulai dari perayaan Idul Adha, long weekend hingga libur sekolah turut mendorong mobilitas masyarakat.

Kondisi tersebut memberikan efek berantai terhadap sejumlah sektor, termasuk perdagangan, jasa dan transportasi.

“Didukung dengan konsumsi rumah tangga yang masih tetap kuat. Kita tahu bersama di triwulan kedua ada Idul Adha, kemudian long weekend maupun libur sekolah. Tentu ini akan mendukung konsumsi rumah tangga,” ujarnya.

Secara sektoral, struktur ekonomi NTB masih bertumpu pada sejumlah lapangan usaha utama.

Pertanian menjadi sektor dengan porsi terbesar, yakni sekitar 21,9 persen. Selanjutnya pertambangan berada di kisaran 20 persen.

Sektor perdagangan, konstruksi, transportasi dan industri pengolahan turut memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah.

Baca Juga: Wamen PKP Sebut Rekonstruksi Sade Jangan Asal Jadi

Pergerakan antarsektor tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan NTB tidak hanya bertumpu pada satu sumber ekonomi.

Salah satu sektor yang mencatat perhatian adalah transportasi.

Porsinya kembali mencapai sekitar lima persen.

Meningkatnya mobilitas masyarakat selama long weekend dan libur sekolah menjadi salah satu faktor pendorong.

Baca Juga: Legend is Back, Freelander 8 EREV Launching Awal September 2026

“Transportasi cukup kuat di triwulan kedua karena didukung berbagai kegiatan seperti long weekend maupun libur sekolah. Ini pasti akan meningkatkan transportasi dari maupun ke Provinsi NTB,” jelas Hario.

Sementara itu, sektor pertambangan tetap menjadi salah satu penggerak utama seiring peningkatan produksi konsentrat tembaga dan aktivitas smelter.

Di sektor perdagangan, pertumbuhan turut ditopang program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penjualan kendaraan bermotor.

Sektor pertanian juga tetap mencatat pertumbuhan positif.

Aktivitas peternakan yang meningkat menjelang dan saat Idul Adha ikut memberikan dorongan terhadap kinerja sektor tersebut.

Perekonomian NTB menunjukkan momentum yang cukup kuat.

Baca Juga: Merawat Kehangatan Madak Mare di Pantai Kuta Mandalika

Tantangannya kini memastikan pertumbuhan berbasis komoditas tersebut semakin memberikan dampak luas terhadap sektor produktif dan kesejahteraan masyarakat.

 

 

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
Perekonomian Smelter ekspor konsumsi rumah tangga Perekonomian NTB