LombokPost – Ukurannya memang tidak sebesar kacang mete dari sejumlah daerah lain.
Namun, siapa sangka, ukuran yang cenderung lebih kecil justru menjadi salah satu keunggulan mete asal Lombok Utara dalam menarik perhatian pasar.
Hal itu dirasakan langsung Dadang Syarif Hidayatullah, salah satu petani mete Lombok Utara.
Awalnya, mereka sempat menganggap ukuran mete Lombok Utara sebagai kelemahan yang dapat menghambat pemasaran.
Baca Juga: BPK NTB Turun Audit Pengelolaan Dana Pendidikan di Sumbawa Barat
“Tapi ternyata kekurangan itu adalah kelebihan dari mete Lombok Utara,” tutur Dadang.
Mete Lombok Utara memiliki karakteristik tersendiri.
Dari sisi ukuran, rata-rata berada pada kategori W320.
Ukurannya memang lebih kecil dibandingkan jenis mete yang biasa dipasarkan dalam kelas W120 atau W240.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Intai Kota Bima, Wali Kota Minta Camat-Lurah Turun Identifikasi Titik Rawan
Namun, kualitas rasa menjadi daya tarik utama.
Dijelaskan Dadang, mete Lombok Utara memiliki tekstur renyah dan cita rasa gurih alami.
Bahkan, kelezatannya dapat dirasakan tanpa tambahan bumbu.
Keunggulan tersebut menjadi modal penting untuk memperluas pasar.
Pada 2023, kelompok usaha yang dikembangkan bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) mulai mencoba peruntungan di pasar internasional.
Mereka mulai melakukan ekspor ke Selandia Baru.
Baca Juga: Pria Asal Mataram Gadaikan Emas Palsu Isi Tembaga, Pegadaian Sila Nyaris Merugi Rp 156 Juta
Langkah itu sekaligus membuka optimisme baru bagi pengembangan komoditas mete di Lombok Utara.
Potensi produksi yang tersedia pun cukup besar.
Dadang menyebut kelompok-kelompok yang terlibat bersama BUMDes memiliki kemampuan menyediakan hingga sekitar 500 ton mete.
Potensi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai angka produksi semata.
Baca Juga: Menyingkap Makna Ritual Nyemulak di Desa Wisata Sade Lombok Tengah
Koperasi yang dibangun diarahkan untuk menjadi jembatan antara petani dan pasar.
“Kami berharap koperasi bisa mengambil dan menyerap hasil-hasil mete dari petani supaya petani semangat dan memiliki motivasi untuk memelihara dan menanam lagi mete yang selama ini ada di Lombok Utara,” katanya.
Bagi Dadang, keberhasilan ekspor bukan sekadar tentang membuka pasar baru.
Lebih dari itu, pasar yang semakin luas harus memberikan dampak langsung bagi petani di daerah.
Petani diharapkan kembali bergairah merawat kebun dan memperluas tanaman mete.
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan Berita Lombok Post