Ekonomi Indonesia 2026 Diprediksi Tumbuh 5,2 Persen, Investasi Jadi Penopang Utama

Kimda Farida • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 19:40 WIB
Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk Irman Faiz bersama Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia Yansen Lokanata saat menjadi narasumber dalam Indonesia’s Economic Outlook 2026 di Jakarta, Senin (8/9). Keduanya memaparkan prospek ekonomi Indonesia dan kebijakan pendalaman pasar keuangan.
Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk Irman Faiz bersama Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia Yansen Lokanata saat menjadi narasumber dalam Indonesia’s Economic Outlook 2026 di Jakarta, Senin (8/9). Keduanya memaparkan prospek ekonomi Indonesia dan kebijakan pendalaman pasar keuangan.

 

LombokPost-- Perekonomian Indonesia diproyeksikan tetap tumbuh sekitar 5,2 persen pada 2026 meski ketidakpastian ekonomi global masih tinggi. Investasi, belanja pemerintah, konsumsi domestik, serta sektor strategis baru menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Proyeksi tersebut disampaikan Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz, dalam Indonesia’s Economic Outlook 2026 yang digelar Danamon, 8 September 2026.

Dalam kegiatan tersebut juga disosialisasikan kebijakan Bank Indonesia untuk memperkuat pendalaman pasar keuangan dan pengelolaan transaksi valuta asing.

Irman mengatakan, perekonomian global masih menghadapi sejumlah tantangan sepanjang 2026.

Di antaranya kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik, suku bunga global yang masih tinggi, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat dari 3,5 persen pada 2025 menjadi sekitar 3 persen pada akhir 2026. Kondisi tersebut diperkirakan mulai membaik pada 2027.

Baca Juga: Danamon Raih Penghargaan Best Automobile Financing in Indonesia, Pembiayaan Otomotif Tumbuh 44 Perse

Meski menghadapi tekanan global, Indonesia dinilai memiliki fondasi ekonomi yang relatif kuat.

Aktivitas investasi masih menjadi salah satu motor utama pertumbuhan, ditambah konsumsi domestik dan belanja pemerintah yang tetap mendukung aktivitas ekonomi.

“Perekonomian Indonesia masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah berbagai tantangan global,” ujar Irman.

Menurut dia, investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) masih menunjukkan tren positif.

Investasi terutama mengalir ke sektor hilirisasi, industri logam dasar, hingga pengembangan pusat data (data center).

Sektor-sektor tersebut dinilai berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru dalam jangka menengah dan panjang.

“Peluang dari hilirisasi industri, ekonomi digital, dan pengembangan data center berpotensi menciptakan sumber pertumbuhan baru dalam jangka menengah hingga panjang,” katanya.

Baca Juga: Danamon Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa NTT

Meski prospek ekonomi Indonesia masih positif, sejumlah risiko eksternal tetap perlu diwaspadai.

Salah satunya potensi peningkatan defisit transaksi berjalan akibat tingginya impor energi dan perlambatan ekonomi sejumlah negara mitra dagang utama.

Volatilitas pasar keuangan global juga berpotensi memengaruhi arus modal serta pergerakan nilai tukar rupiah.

Perubahan arah kebijakan moneter negara-negara maju menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, Bank Indonesia terus memperkuat instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan nasional.

Salah satu fokusnya adalah memperdalam pasar valuta asing domestik.

Pasar valas yang lebih dalam, likuid, dan berdaya tahan dinilai penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, terutama ketika ketidakpastian global meningkat.

Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia, Yansen Lokanata, mengatakan BI telah menjalankan sejumlah kebijakan untuk memperkuat pasar valuta asing domestik.

Kebijakan tersebut antara lain pengembangan transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT), penyempurnaan ketentuan transaksi pasar valuta asing, serta implementasi Ketentuan Transaksi Pasar Valas Transaksi Lindung Nilai melalui Bank Mitra (VASTRA).

Baca Juga: Danamon Raih Dua Penghargaan Internasional, Perkuat Inovasi Investasi dan Layanan Privilege

Yansen menjelaskan, kebijakan VASTRA dirancang untuk memperluas akses investor global terhadap instrumen lindung nilai rupiah di pasar domestik.

Kebijakan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia, tetapi juga memperkuat likuiditas pasar valuta asing, meningkatkan transparansi transaksi, dan menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang.

“Pendalaman pasar valuta asing merupakan bagian penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional,” kata Yansen.

Dia menambahkan, berbagai kebijakan yang terus disempurnakan Bank Indonesia diarahkan untuk meningkatkan efisiensi pasar, memperluas akses investor, serta menciptakan pasar keuangan yang lebih inklusif dan berdaya tahan.

Dengan kondisi tersebut, prospek ekonomi Indonesia pada 2026 dinilai masih positif.

Stabilitas makroekonomi, investasi yang tetap kuat, serta pendalaman pasar keuangan menjadi fondasi penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Di tengah perubahan lanskap ekonomi global, kemampuan Indonesia menjaga stabilitas sekaligus mendorong sumber-sumber pertumbuhan baru akan menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional.

 

 

Editor : Kimda Farida
Sumber : siaran pers
Bank Danamon Indonesia 2026 Ekonomi Indonesia Bank Indonesia Pertumbuhan Ekonomi