LombokPost – Nilai perdagangan Indonesia dan Bulgaria memang belum besar. Sepanjang 2025, transaksi kedua negara baru mencapai USD 230,8 juta. Namun, di balik angka tersebut, tersimpan peluang lebih besar: menjadikan Bulgaria sebagai salah satu pintu masuk produk Indonesia ke pasar Uni Eropa yang berpenduduk sekitar 450 juta jiwa.
Peluang itu mengemuka dalam pertemuan Menteri Perdagangan Budi Santoso dengan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Ekonomi Bulgaria Alexander Poulev di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (14/9).
Bulgaria yang berada di kawasan timur Uni Eropa dinilai memiliki posisi strategis untuk memperluas akses produk Indonesia ke kawasan tersebut. Apalagi, pemerintah Indonesia menargetkan implementasi Indonesia European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU CEPA) pada awal 2027.
Poulev menyatakan, Bulgaria ingin memperkuat hubungan perdagangan dan investasi dengan Indonesia. Posisi negaranya dapat dimanfaatkan perusahaan Indonesia untuk memperluas pasar ke Uni Eropa. ”Bulgaria bisa menjadi gerbang bagi perusahaan Indonesia,” ujar Poulev.
Dia menilai peluang tersebut semakin besar dengan pasar Uni Eropa yang mencapai sekitar 450 juta jiwa. Selain menjadi akses pasar, Bulgaria menawarkan sejumlah sektor yang berpotensi dikembangkan bersama Indonesia, mulai pangan, teknologi satelit, hingga logistik. ”Kami melihat peluang pada sektor pertanian, komponen otomotif, serta produk daging yang membutuhkan pemenuhan persyaratan halal,” imbuhnya.
Dorong IEU CEPA
Mendag Budi mengatakan, posisi Bulgaria sebagai pintu masuk Eropa Tenggara menjadi peluang yang perlu dimanfaatkan Indonesia. ”Kami meminta dukungan Bulgaria terhadap target implementasi IEU CEPA pada awal 2027,” katanya.
Pemerintah berharap perjanjian tersebut tidak berhenti pada kesepakatan, tetapi segera memberikan manfaat konkret bagi pelaku usaha kedua negara.
Jika melihat angka perdagangan saat ini, ruang ekspansi memang masih terbuka lebar. Pada 2025, ekspor nonmigas Indonesia ke Bulgaria mencapai USD 147,4 juta, sedangkan impor dari Bulgaria sebesar USD 83,1 juta. Indonesia mencatat surplus USD 64,2 juta.
Bulgaria berada di peringkat ke-76 sebagai negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia dan peringkat ke-67 sebagai negara asal impor nonmigas. ”Produk Indonesia yang masuk ke pasar Bulgaria antara lain bijih nikel dan konsentratnya, aluminium tidak ditempa, produk besi atau baja bukan paduan, serta margarin,” jelas Budi.
Untuk memperbesar transaksi, Budi juga mengundang pelaku usaha Bulgaria datang ke Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Pameran perdagangan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Kabupaten Tangerang, Banten. ”Buyer Bulgaria dapat melihat langsung produk Indonesia dan membuka peluang bisnis baru,” tuturnya.
Sumber : Jawa Pos