LombokPost – Di Dusun Jor, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, terdapat pengolahan terasi yang telah menjadi bagian dari denyut ekonomi masyarakat selama puluhan tahun.
Salah satu pelaku usahanya adalah Suarni, 66 tahun.
Selama tiga dekade, keluarganya mempertahankan usaha pembuatan terasi yang diwariskan secara turun-temurun.
Kini, produknya dikenal dengan merek Terasi Udang Asli Putri Nyale dan menjadi salah satu oleh-oleh yang diburu wisatawan.
Baca Juga: Segini Harga Resmi Terbaru Changan Nevo Q05 di Indonesia
Mempertahankan cita rasa terasi bukan perkara mudah. Harga bahan baku udang terus meningkat.
Saat ini, harga udang mencapai sekitar Rp 60 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya Rp 30-35 ribu.
Di tengah kenaikan tersebut, Suarni memilih tidak menurunkan standar bahan baku.
Ia bahkan mendatangkan udang dari Pulau Sumbawa demi mempertahankan kualitas produknya.
Baca Juga: Volkswagen Kenalkan Mission Efficiency, Mobil Listrik Paling Hemat dan Efisien
“Kalau saya selalu pakai udang super dari Sumbawa untuk menjaga kualitas. Meski pun sekarang harga bahan baku naik, harga tetap sama,” ujar Suarni.
Pilihan itu menjadi bagian penting dari strategi Suarni mempertahankan kepercayaan pelanggan.
Berbeda dengan masa awal berjualan di pasar tradisional, kini terasinya dikemas dalam berbagai ukuran.
Bahkan telah memiliki merek, legalitas, serta label halal.
Perubahan tersebut dilakukan setelah pelanggan terasi merah yang dulu dijualnya mulai berkurang.
Suarni kemudian mengikuti berbagai pelatihan UMKM dari Dinas Koperasi dan UMKM Lombok Timur, termasuk mendapatkan dukungan peralatan dan fasilitas dari Dinas Kelautan dan Perikanan.
Baca Juga: Lexus LX Terbaru Padukan Kemewahan dan Ketangguhan Off-Road
Kini, Terasi Putri Nyale memiliki delapan model kemasan.
Harganya relatif terjangkau, Rp 4-10 ribu per bungkus.
Produknya dipasarkan ke sejumlah wilayah di Lombok hingga Bali, Jawa, dan Jakarta.
Menariknya, pasar wisata turut menjadi penggerak penjualan.
Baca Juga: BYD Tembus Lima Besar, Peta Pasar Mobil di Indonesia Berubah
Wisatawan yang berkunjung ke destinasi di Jerowaru kerap mampir membeli terasi untuk dibawa sebagai buah tangan.
“Sampai jam 10 malam ada wisatawan yang ketuk pintu untuk beli terasi. Alhamdulillah walaupun saya tidak pasarkan lewat internet banyak yang datang,” katanya.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan Berita Lombok Post