HAMDANI WATHONI, Giri Menang.
Sejak pagi Desa Selat Narmada lebih ramai, Minggu (15/3/20). Warga desa berduyun-duyun keluar rumah mengenakan pakaian adat. Ya, mereka bersiap menggelar salah satu even budaya yang terjaga bertahun-tahun. Turun temurun.
"Hari ini kami menggelar even malean sampi sebagai ajang silaturrahmi antar petani, peternak dan sebagai wujud syukur atas panen padi yang sudah dilakukan," ujar Kepala Desa Selat Sabudi.
https://www.youtube.com/watch?v=i28h-cp3TsY
Malean sampi merupakan Bahasa Sasak yang artinya mengejar sapi. Even ini dilaksanakan dengan para petani dan peternak menggiring sapinya berlari di tengah sawah berlumpur.
Malean Sampi ini diikuti 47 pasang sapi sebagi peserta dari kecamatan Narmada dan Lingsar. Sehari sebelumnya dilakukan karnaval puluhan pasangan sapi yang turut serta pada even ini. Sapi digiring dari Kantor Desa Selat dan finis di arena lomba. "Intinya ini sebagai wujud syukur atas hasil panen," terang Sabudi.
Even ini sekaligus menjadi ajang hiburan masyarakat bahkan menjadi event promosi pariwisata. Karena sejumlah wisatawan asal Eropa juga telihat ikut menyaksikan event ini.
Bupati Lombok Barat (Lobar) H Fauzan Khalid mengaku kegiatan ini menjadi salah satu calender of event pariwisata di Lobar. Ia mengapresiasi inisiatif masyarakat Desa Selat yang menggelar kegiatan budaya ini secara mandiri.
Ia menilai ini sebagai sebuah inovasi desa yang harus tetap ditumbuhkembangkan bagi upaya memajukan pariwisata. "Mari tetap melestarikan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat petani dan peternak," ucap Fauzan.
Fauzan berharap kegiatan ini bisa terekspose seluas-luasnya melalui berbagai media yang ada. Dengan demikian event event tersebut bisa lebih dikenal dari domestik hingga mancanegara.
Bupati juga salut terhadap masyarakat Selat yang tetap mempertahankan tradisi Manoang yang menjadi rangkaian event malean sampi. Ini merupakan sebuah tradisi mengantarkan makanan ke sawah bagi keluarga yang bekerja di sawah. Tradisi ini harus dilestarikan karena merupakan peninggalan orang tua terdahulu.
"Tradisi ini harus tetap dipertahankan, mengingat di zaman modern saat ini tradisi ini sudah mulai menghilang, " ungkap Fauzan. (*/r8) Editor : Administrator