Fatih Kudus Jaeani, Lombok Timur
Kedai minuman Jelly Potter siang itu dipenuhi banyak pembeli. Terik panas matahari membuat tenggorokan ingin disuguhkan yang dingin-dingin. Di tempat itu, Hamida, murid kelas 5 SDN 3 Selong dengan cekatan meracik minuman es jelly berbagai aneka rasa yang dipesan pembeli. “Kalau libur, dia pasti bantu jualan,” kata Agus, kakak Hamida.
Selama masa pembatasan sosial yang menyebabkan siswa diliburkan ke sekolah dan belajar di rumah, berbagai kegiatan di waktu senggang dilakukan oleh siswa. Hamida sendiri memastikan semua PR yang diberikan guru sudah dikerjakan. Sebelum keluar membantu kakaknya berjualan.
“Belajar dulu di rumah, baru ke sini,” kata Hamida yang hanya butuh berjalan beberapa meter untuk sampai ke tempat jualannya.
Kesadaran anak yang baik seperti itu tentu tak bisa dilarang orang tua. Apalagi meminta mereka untuk seharian penuh berdiam diri dalam rumah. Namanya anak-anak, libur tetaplah libur. Justru tidak baik jika memberikan rasa takut pada mereka. “Meski memberi tahu untuk waspada dan menjaga kebersihan tentu harus dilakukan,” kata Mita Juliana, salah seorang guru SD dari Selong.
Di tempat lain, beberapa siswa juga terlihat bersepeda, bermain gadget, dan aktivitas lain yang mereka lakukan seperti saat menikmati libur sekolah pada umumnya. Tak bisa dicegah. Karena pada umumnya, orang tua mereka juga tidak sepenuhnya berdiam diri dalam rumah. (r5/*)
Editor : Administrator