-------------------
MBAK Kikin, begitu sapaan akrab Hj ND Kinnastri Roliskana. Tampilannya selalu sederhana, namun segar. Ia ramah dan ceria terhadap siapa saja. Ia cepat akrab dengan siapa saja. Hal ini, membuatnya diterima di semua kalangan masyarakat Kota Mataram.
Selama masa kampanye calon wali kota dan wakil wali kota Mataram lalu, Kikin selalu terlihat mendampingi suaminya. Di mana ada H Mohan, di situ pasti ada dia. Mereka tidak terpisahkan. Bahkan, Kikin menuturkan sebagai bentuk dukungannya pada suaminya saat masa kampanye pilkada, ia rela mengambil cuti sebagai ASN.
Cuti tersebut bahkan membuatnya harus melepaskan jabatannya sebagai kepala bidang di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram. “Aturan terbaru, jika cuti ikut kampanye keluarga, suami atau istri harus melepaskan jabatan birokrasi. Ya saya sekarang kembali jadi staf biasa,” tuturnya seraya tertawa.
Dengan segala risiko dan konsekuensi, Kikin tak berpikir panjang. Ia tidak mungkin membiarkan suaminya berjalan sendirian selama masa kampanye. Maka, ia pun tidak ragu memutuskan memilih cuti dan merelakan jabatannya di birokrasi demi suaminya.
Kedekatan Kikin dengan para kader dan para perempuan di Kota Mataram menjadi salah satu pendongkrak popularitas dan elektabilitas pasangan H Mohan Roliskana dan TGH Mujiburrahman di pilkada. Ia membaur dan melebur dalam setiap kegiatan kemasyarakatan. Sehingga tak heran hal itu membuatnya dekat dan dicintai masyarakat kota.
Ia menyadari betul tugas sebagai istri adalah mendukung apapun yang dilakukan suaminya. Termasuk mengabdi kepada masyarakat.
Kikin menuturkan, pusat pergolakan antara ia, suaminya, dan keputusannya terjun ke dunia politik terjadi pada tahun 2010. Saat itu ketika H Mohan Roliskana memutuskan maju menjadi Calon Wakil Wali Kota Mataram mendampingi H Ahyar Abduh. Padahal, saat itu Mohan merupakan seorang PNS.
Pergolakan itu semakin kuat ketika tahun 2011, Mohan memutuskan berhenti menjadi PNS. Dengan pertimbangan ia ingin totalitas mengabdi ke masyarakat melalui jalur politik.
“Aturan saat itu ketika menjabat sebagai wakil wali kota, tidak harus berhenti sebagai PNS. Nanti ketika jabatan politiknya habis, kita bisa kembali menjadi PNS,” terangnya.
Sehingga Kikin mengaku sempat terjadi penolakan dalam dirinya saat Mohan ingin mundur dari jabatan ASN. Terlebih jabatan politik tidak menentu dan ada masanya.
Ia khawatir ketika jabatan politik Mohan habis, ia tidak bisa lagi kembali sebagai PNS. “Tapi saya sebagai istri percaya suami saya punya pertimbangan panjang. Saya yakin apa yang dilakukannya adalah yang terbaik. Maka saya berdoa dan belajar iklhas. Dari sana, apapaun yang dilakukan suami saya pasti saya dukung,” aku perempuan yang memiliki darah Solo Jawa Tengah dan Wonosobo ini.
Ia bersyukur pilihan suaminya tepat, Mohan berhasil mendapat kepercayaan masyarakat Kota Mataram menjadi wakil wali kota selama dua periode.
Di Pilkada Desember 2020 lalu, Kikin merasa spesial karena Mohan berjuang keras setelah memutuskan kembali maju menjadi Calon Wali Kota Mataram. Perjuangan dirasakan cukup berat tidak seperti Pilkada sebelumnya. Sehingga ia sebagai istri tiada henti memanjatkan doa memohon yang terbaik untuk suaminya.
“Saya hanya berdoa, berdoa, dan berdoa. Agar suami saya terlindungi, terhindar dari fitnah dan selalu berada di jalan yang diridhoi Allah SWT,” ungkapnya.
Ia tidak pernah menuntut suaminya harus selalu berhasil dan sukses. Kikin mengaku selama ini, apa yang ia terima dari suaminya lebih dari cukup. Bahkan ketika semenjak memutuskan menikah tahun 2.000 lalu, saat Mohan menjadi ASN Kikin tidak pernah pernah protes dengan nafkah yang diberikan.
“Ketika saya baru menikah dan diberikan berapapun, saya tidak pernah protes. Yang saya minta hanya berikan kami (Kikin dan anak-anaknya) nafkah yang halal. Itu saja yang saya minta sama Bang Aji (sapaan akrab H Mohan Roliskana),” ucapnya.
Ini juga menjadi salah satu caranya untuk menjaga suaminya untuk tidak berambisi memanfaatkan jabatannya untuk kepntingan pribadi dan keluarga. Bagi Kikin yang sudah mengalami berbagai dinamika kehidupan bersama Mohan, ia sadar uang bukanlah segalanya. Tidak menjamin akan kebahagiaan seseorang.
“Maka saya benar-benar hati-hati untuk menjaga suami saya,” ungkap ibu dari Safalin Kalila Roliskana, Hasyifa Nazwa Roliskana, Muhammad Zimmy Alfahmi Roliskana (almarhum), dan Putri Nuriana tersebut.
Kikin mengaku tidak ingin karir politik suaminya yang cemerlang saat ini berakhir tidak baik. Sehingga ia tidak pernah menuntut sesuatu yang bisa menjerumuskan suaminya. Baginya, hidup sederhana dan bisa menyambung silaturahmi dengan siapa saja adalah hal yang utama.
“Saya itu tipikal perempuan Jawa yang manut kepada suaminya. Istilahnya Sorga Katut, Neraka Nunut. Ke surga ikut, ke neraka ikut (susah senang tetap bersama suami). Imam itu suami. Kalau suami mengarahkan baik, maka saya sebagai istri akan ke surga,” yakin perempuan yang pernah menjadi dosen di Universitas 45 Mataram itu. (hamdani wathoni/r3) Editor : Administrator