
LombokPPost - DALAM setiap momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, ada sosok dan figur penting yang tidak bisa luput dari memori historis kolektif bangsa Indonesia. Dia adalah Ki Hajar Dewantara (KHD).
Tokoh bangsa yang telah memberikan konstribusi luhur, bagi masa depan Indonesia dan peradabannya, melalui perjuangan pendidikan. Ki Hajar Dewantara (KHD) telah meletakan fondasi yang kokoh, tentang pendidikan dalam persepektif filosofis-etis sampai ke sisi tekhnis-praktis.
Ki Hajar Dewantara (KHD), mengurai secara hati-hati tentang bagaimana relasi pendidikan seharusnya dibangun, inter dan antar manusia, relasi dengan kehidupan makrokosmos, alam, bumi dan lingkungan, termasuk budaya.
Ki Hajar Dewantara (KHD) juga memiliki spektrum yang moralis- holistic, tentang bagaimana pendidikan harus dibangun dalam tanggung jawab yang terintegrasi dan berkohesi, yang kemudian kita ketahui dengan tri pusat pendidikan, yakni keluarga, masyarakat dan sekolah.
Walapun dalam perkembangannya, dalam konteks kekininin, tidak lagi tri-pusat, tetapai catur pusat, di mana media masa, atau social media adalah menjadi salah satu pilar yang berperan dan menentukan.
Ki Hajar Dewantara (KHD), mendidikasikan gagasan dan pikirannya yang holistic tentang pendidikan. Bahwa baginya, pendidikan harus dapat mengembangkan budi pekerti (karakter) cipta (pikiran) dan raga (tubuh) secara seimbang.
Artinya, beliau memahami betul, bahwa pendidikan tidak hanya un-sich tentang transfer pengetahuan, atau angka-angka (score).
Dedikasi dan legesi moral penting lainnya yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara (KHD), adalah tentang trilogi pendidikan, yang secara spesipik pada bagaiamana pemimpin (guru) memiliki sikap dan karakter dalam mengemban amanah tugas profesionalnya.
Trilogi pendidikan itu adalah, “Ing Ngarso Sung Tulodoa”, sebuah falsafah kepemiminan tentang bagaimana sosok pemimpin (guru) diniscayakan memiliki sifat dan integritas yang baik, sehingga bisa menjadi contoh dan taoldan bagi bagi orang-orang yang dipimpinnya atau orang-orang yang ada di sekitarnya.
“Ing Madyo Mangun Karso”, memberikan pesan kuat bahwa sosok pemimpin (guru) harus visioner, memiliki kemampuan berinovasi dan berkereativitas dan “Tut Wuri Handayani” yakni tentang bagaimana peran pemimpin (guru), dapat memposikan diri sebagai motivator, penyemangat dan penguat dalam mewujudkan dan mendorong keberhasilan anak didik, atau orang-orang yang ada disekitarnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




