------------------------------------------------------------
MINUM kopi menjadi tradisi warga Lombok yang terpelihara hingga kini. “Saya kalau mau ke mana-mana selalu bawa kopi,” kata Sahman, owner Kopi Sasak.
Usaha kopi yang digeluti bapak tiga anak ini sudah berjalan sekitar tiga tahun. Pada 2018 lalu, ia hanya melayani pemesanan kopi bubuk untuk teman-teman kerjanya di kapal ferry lintas Pelabuhan Poto Tano-Kayangan.
“Kopi bubuk hanya untuk pesanan teman-teman kerja saja waktu itu,” kenang dia.
Namun sampai kini, banyak rekan kerjanya dari Surabaya dan Kediri, Jawa Timur rutin memesan kopi. Bahkan tidak tanggung-tanggung kopi bubuk yang dipesannya sampai dua kilogram. Dan itu pun intens. Habis, pesan lagi. “Ada yang satu, ada yang dua kilogram dipesan,” sebut dia.
Seiring berjalan waktu. Sahman mengembangkan usahanya dengan membuat kedai. Dia bersama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lainnya membuka lapak di kampung kuliner di Jalan Jenderal Sudirman Rembiga, Kota Mataram.
“Kalau dulu saya buka kedai di rumah,” kata pria asal Lingkungan Jangkuk, Kecamatan Sandubaya ini.
Usaha kopi terus ada peningkatan. Kopi yang dijajakan dengan brand Kopi Sasak tidak hanya dikonsumsi orang Lombok. Namun sudah ada pelanggan khusus dari Pulau Jawa. “Ada dari Kediri yang rutin mesan Kopi Sasak ini,” ucap pria kelahiran 1988 ini.
Sebagai pencinta kopi, Sahman tahu betul mana kopi yang enak dan tidak. Sejauh ini biji Kopi Sasak yang diproduksinya berasal dari Kabupaten Lombok Utara (KLU). Tiga hari sekali dia ke KLU untuk mengambil biji kopi pilihan tersebut.
“Saya biasanya ambil kopi yang sudah lama dipanen. Karena semakin lama disimpan, aroma kopi akan keluar,” ujar dia.
Kopi Sasak diracik secara tradisional. Dipanggang di atas kayu bakar. Agar rasa dan aromanya sangat khas, biji kopi pilihan digoreng di atas wajan yang terbuat dari tanah liat. “Kalau digoreng pakai kete (wajan), aromanya khas,” singkat dia.
Menurutnya, proses penggorengan kopi secara tradisional hingga menyuguhkannya menjadi secangkir kopi sangat indah jika dibandingkan dengan cara modern. Bahkan dia tahu betul mana biji kopi yang benar-benar matang dan tidak jika digoreng seperti ini.
“Biasanya ada saja yang nyusut ketika digoreng. Kalau seperti itu bijinya masih muda ketika dipanen,” tutur dia.
Soal harga, Kopi Sasak sangat terjangkau. Untuk kemasan 100 gram dibanderol Rp 15 ribu, 130 gram Rp 20 ribu. Namun ada juga yang dijual per kilogram. Bahkan dengan adanya kedai dia menjual kopi per gelas dengan harga yang relatif murah. “Kalau di campur dengan susu kita jual Rp 10 ribu per gelas,” ucap dia. (ali rojai/r3) Editor : Administrator