Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Perajin Industri Kriya di Gumi Tastura : Out of The Box, Patungan Ikut Pameran ke Luar Daerah (2-habis)

Lestari Dewi • Minggu, 29 Oktober 2023 | 07:50 WIB

BANYAK MOTIF: Pengunjung melihat-lihat aneka jenis motif kain tenun khas Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, belum lama ini.
BANYAK MOTIF: Pengunjung melihat-lihat aneka jenis motif kain tenun khas Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, belum lama ini.
Bertahan dan memperkenalkan kain tenun khas Desa Sukarara sejak tahun 2007 tentu tidak mudah. Kuncinya, harus berani out of the box dan berspekulasi. Seperti yang dilakukan Satriadi pemilik UD Bintang Remawa di Desa Sukarara. 

 

LESTARI DEWI, Lombok Tengah. 

 

BERAGAM motif dan warna-warni cantik memanjakan mata siapa saja yang melihatnya. Ribuan lembaran kain tenun songket terpampang rapi berjajar.

Menutupi batang-batang rak berwarna putih dan cokelat. 

Kondisi siang itu, galeri yang bernama Bintang Remawa di Desa Sukarara tampak lengang. Belum ada pengunjung yang berdatangan mengingat hari ini adalah hari Jumat.

Beda cerita ketika weekend atau menjelang event-event tertentu. Belasan bus berukuran besar akan memenuhi sepanjang jalan depan galeri berwarna merah muda ini. 

Dengan ramah, Satriadi selaku pemilik galeri menyambut kedatangan Lombok Post dengan hangat.

Satriadi lantas mengajak Lombok Post berkeliling melihat ribuan kain tenun songket yang terpajang di galeri. 

Kain tenun songket Lombok adalah salah satu jenis kain kerajinan asal Indonesia. Proses pembuatannya dengan cara ditenun menggunakan benang berwarna perak dan emas.

”Tenun songket dari Desa Sukarara ini masuk ke dalam jenis tenunan brokat. Dengan jenis kain yang biasa digunakan yaitu kain katun sutra, kain sutra, ataupun kain katun,” ungkap Satriadi mengawali pembicaraan. 

Usaha yang digeluti Satriadi sudah berjalan sejak tahun 2007 silam. Tidak mudah mempertahankan usaha. Pasang surut pun pernah dilaluinya.

Agar eksistensi kain tenun songket Lombok khususnya Desa Sukarara tetap bertahan dan berkembang.

”Kami sudah mulai berani berspekulasi dan out of the box,” ujarnya. 

Ketua Tenun Lombok Tengah (Loteng) ini menuturkan, sudah waktunya perajin kain tenun mengambil langkah tersebut.

Jika terus monoton, tidak akan memberikan dampak apapun bagi mereka maupun usahanya.

”Namanya kita berusaha maka harus berani berkorban. Jika terus bergantung pada pemerintah sulit juga, bergantung tapi disesuaikan. Kita juga harus berani mengeluarkan biaya,” kata Satriadi. 

Spekulasi yang dimaksud, sambung dia, ketika perajin mengikuti suatu event, baik skala nasional dan internasional.

Artinya, jika untuk ikut serta mengikuti event dan harus membayar stand dapat dilakukan secara berkelompok. Bila dibebankan seorang diri sudah jelas terasa berat. 

”Makanya dibagi biaya sewa stand misalnya, dengan kelompok. Ketika menginap di luar daerah, sebaiknya cari kos-kosan tidak hotel. Menekan biaya operasional,” ungkapnya. 

Perajin kain tenun juga harus berani out of the box dan membaca peluang pasar. Namun harus tetap menjaga warisan budaya.

Tidak mengubah motif, menggunakan warna-warna alami.

”Libatkan juga generasi muda agar ikut melestarikan warisan leluhur,” ujar bapak empat anak itu. 

Salah satunya, pada bulan Maret 2024 mendatang ia bersama kelompok akan mengikuti pameran Inacraft.

Ini ajang pameran bergengsi yang diselenggarakan oleh ASEPHI yang merupakan wadah bagi produsen dan eksportir handicraft Indonesia atau yang dikenal Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia. 

”Kami akan bawa dua ribuan kain tenun songket. Di sana tidak hanya menjual barang namun menjual history dari motif kainnya,” kata dia. 

Seperti yang dikatakan sebelumnya, perajin masih butuh atau bergantung dengan keterlibatan pemerintah daerah. Pemerintah dapat menyediakan tempat khusus bagi perajin industri kriya untuk memamerkan kerajinan mereka. 

Tidak cukup hanya membuat event saja secara isidentil. Namun ada tempat tetap, yang pengunjung atau tamu dari luar daerah bisa datang ke lokasi mereka. ”Memang ada Desa Sukarara, tapi tidak semua pengunjung atau tamu akan ke sini,” katanya. 

Perajin berharap dapat memanfaatkan bangunan atau aset milik pemkab, yang dapat disulap sebagai gedung pameran aneka ragam kerajinan khas Gumi Tatas Tuhu Trasna (Tastura).

”Lokasi yang sekiranya dikunjungi tamu dari luar, ini juga ajang mempromosikan produk lokal,” pungkas Satriadi. (*/r11) 

Editor : Redaksi Lombok Post
#UMKM #Lombok Tengah #Perajin #sukarara #Desa Sukarara #Gumi Tastura