SUHARLI, Mataram
Harjanto punya hobi bermain sepakbola. Pernah membela kampung halamannya Persewangi Banyuwangi.
Namun, namanya tidak moncer di sepakbola. Hingga memutuskan pensiun tahun 1985.
Pensiun bermain bola, pria kelahiran 19 Februari 1959 itu hijrah ke Mataram. Membuka bisnis di Kota Mataram.
Bisnisnya terus berkembang. Tetapi, dia tidak pernah melupakan sepak bola. ”Ya, semua karena hobi,” kata Harjanto.
Tahun 2011, pria berusia 64 tahun itu membuat klub. Namanya Redwood FC. ”Dari situ saya ajak anak-anak muda Mataram yang ingin mengembangkan sepakbola,” jelasnya.
Dari situ dia melihat potensi anak muda Mataram. Potensinya cukup bagus. ”Dari situ saya coba terus mempertahankan klub,” ujarnya.
Awalnya membuat klub sepakbola agar bisa merangkul beberapa anak muda supaya berkegiatan positif. Memiliki pergaulan yang sehat dan terarah.
”Dari situ saya membangun kebersamaan dengan anak-anak muda,” kata dia.
Untuk menghidupkan klub banyak pasang surut yang dihadapi. Terutama dari segi keuangan.
”Beli bola saya cicil. Ada juga bantuan dari para pemain yang memiliki bola,” ucapnya.
Termasuk uang menyewa lapangan. Tanpa lapangan proses pembinaan tidak bisa dilakukan.
”Saya melihat semangat anak-anak muda Mataram yang ingin bisa bermain bola. Itu salah satu penyemangat saya,” ujarnya.
Jika dia berhenti membina, tentu potensi pemain muda ini tidak bisa tersalurkan. Sehingga dia bertahan melatih.
”Ya, namanya menjadi membina klub ada pasang surutnya,” kata Harjanto.
Dari pembinaan yang dilakukan sedikit membuahkan hasil. Walaupun kelas turnamen yang diikuti baru tingkat lokal.
“Selalu dapat juara kalau ikut turnamen sepulau Lombok,” ujarnya.
Untuk mengembangkan potensi pemain, Harjanto juga mengasah diri. Mengembangkan kemampuannya.
“Sekarang saya sudah pegang lisensi kepelatihan AFC. Kalau disetarakan sudah bisa menjadi asisten pelatih di level Liga 1,” bebernya.
Mengembangkan sepak bola harus dilatih sejak dini. Dari situ, Ia terpikir untuk membentuk Sekolah Sepak Bola (SSB).
”Memang pembinaan pembelajaran sepak bola harus dari kecil. Harus diajarkan cara passing bola dengan benar sejak kecil,” bebernya.
Tekad Harjanto semakin kuat. Dia membeli lahan di wilayah Geria, Lombok Barat (Lobar). Lahan itu dibuat membuat lapangan sepak bola.
Untuk menciptakan lapangan itu tentu merogoh kantong tidak sedikit. Namun, hal itu bukan menjadi persoalannya.
”Kalau rupiah tidak saya pikirkan. Yang penting ada wadah bagi anak untuk menimba ilmu bermain sepakbola,” ungkapnya.
Setelah lapangan jadi, Harjanto membentuk SSB. Namanya juga sama, SSB Redwood. ”Ini juga berkat dorongan anak-anak muda yang bermain di klub,” ujarnya.
Nama Redwood yang sudah besar di wilayah Pulau Lombok, membuat SSB-nya diburu. Anak-anak dilatih dasar bermain sepakbola.
”Saya dibantu melatih sama anak-anak muda yang dulu dibina di klub,” ujarnya.
Para orang tua di wilayah Lobar dan Mataram antusias memasukkan anaknya bermain sepak bola di SSB Redwood. Itu juga yang menjadi penyemangat Harjanto untuk mengembangkan SSB tersebut.
”Para orang tua sangat mendukung,” ucapnya.
Bermain sepak bola bukan melulu soal melatih. Yang tidak kalah pentingnya membutuhkan jam terbang. “Makanya kalau ada eksibisi atau turnamen sepak bola usia dini kita selalu ikut,” ungkap Harjanto.
Dari eksibisi itulah, pemain usia dini yang bergabung di SSB Redwood dievaluasi. Apa kekurangan dan perkembangan pemain dari hasil latihan selalu disampaikan ke para orang tua.
”Sehingga bisa juga dikembangkan orang tua di rumah,” kata dia.
Maklum, mereka yang berlatih di SSB memiliki waktu terbatas. Hanya latihan selama dua jam. ”Mereka latihan setelah pulang sekolah,” ungkapnya.
Dari pengalamannya melatih, kini Harjanto dipercaya menahkodai PS Mataram. Saat ini sedang mengikuti Liga 3 NTB.
”Keinginan saya ingin melihat PS Mataram itu tampil di liga nasional,” kata dia.
Untuk mencapai itu tidaklah mudah. Harus bisa lolos dulu ke Liga 2 nasional. “Masih panjang perjalanannya jika ingin berlaga di level nasional,” ujarnya.
Yang terpenting juga, perlu dukungan stakeholder lain. Sebab, saat ini PS Mataram belum memiliki sponsor.
”Kalau saya sendiri yang bergerak tentu tidak bisa,” kata dia.
Saat ini, PS Mataram sudah lolos ke babak delapan besar Liga 3 NTB. Jika menjadi juara, dia akan berlaga di level Liga 3 nasional.
”Kalau bisa juara lagi di Liga 3 bisa kita promosi ke Liga 2. Mudahan saja itu bisa tercapai,” harapnya. (*/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post