Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Pepadu di Tanah Karang Bagu (1): Konon Didirikan 17 Jawara

Miq Ade • Selasa, 7 November 2023 | 10:19 WIB
Dari kiri ke kanan Kepala Lingkungan Karang Bagu Asmuni, Babinsa Karang Taliwang A. Mappiase, dan Lurah Karang Taliwang Lalu Halit Wahyu J. saat mendengar kisah Karang Bagu.
Dari kiri ke kanan Kepala Lingkungan Karang Bagu Asmuni, Babinsa Karang Taliwang A. Mappiase, dan Lurah Karang Taliwang Lalu Halit Wahyu J. saat mendengar kisah Karang Bagu.

 

Lingkungan Karang Bagu menyimpan cerita heroik, kaya tradisi, dan budaya. Kini terancam punah sebab tokoh tua yang tahu cerita konon tinggal seorang saja. Siapa dia?

 

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

 

AROMA kopi tercium wangi. Menyebar ke sudut-sudut ruangan kerja Lurah Karang Taliwang.

Baru saja dua kali seruput kopi dengan cita rasa wangi menyegarkan itu, gawai Lalu Halit Wahyu menyala.

“Kami langsung ke sana,” jawab Lalu Halit menjawab seseorang di ujung sambungan.

Menerobos siang yang mulai terik, Lalu Halit memacu kuda besi warna merahnya menyusuri jalan-jalan kecil. Sampai di depan gerbang gang yang menganga bertuliskan: Karang Bagu. 

Lalu Halit membelokkan kendaraannya. Menyusuri gang yang lebih sempit.

Sejumlah mata memperhatikan kami dengan awas. Di antaranya pria bertato tanpa senyuman.

Seorang pria kerdil duduk dengan wajah kebingungan di perempatan gang. Ketika disapa, ia balik menyapa walaupun wajahnya menyiratkan rona tanya.

Kami pun tiba di sepetak lahan dengan kursi bambu di bawah pohon rindang.

Waalaikum salam,” jawab seorang pria yang telah menunggu kedatangan kami. Namanya Asmuni.

Sekilas baju warna abu, celana kain hitam, dan sepatu kulit yang dikenakan, mengesankan penampilannya seperti polisi.  Lebih-lebih dengan postur badan yang tegap, besar, dan rambut cepak.

Tapi Asmuni adalah tokoh sepuh di Karang Bagu. Saat ini dipercaya sebagai Kepala Lingkungan.

Cara duduk bersila dan dua ibu jari yang terkatup menegaskan Asmuni sosok yang paham titi tate tertib tapsile: norma-norma dalam tertib bermasyarakat. Asmuni -- barangkali -- pria terakhir penjaga adat istiadat luhur yang diwariskan para leluhur di tanah Karang Bagu yang bersejarah. 

“Pada zaman Anak Agung (Anak Agung Anglurah Gede Ngurah Karangasem / 1870-1894), dulunya kawasan Karang Bagu ini adalah tanah perkebunan yang dipenuhi pepohonan dan belukar,” tutur Asmuni.

Ia tengah menceritakan ihwal awal-mula, Karang Bagu menjadi kawasan pemukiman padat penduduk. Cerita itu diperoleh turun-temurun dari leluhur yang teguh menjaga dan memegang tradisi adat-istiadat dan sejarah tempatnya bermukim dan berketurunan.

Sejarah yang nyaris tidak ada lagi mau mendengar -- dan juga mengetahui. Berbeda dengan generasinya yang sangat antusias mencari tahu dari para tokoh-tokoh sepuh dahulu kala.

“Sampai suatu ketika Raja Anak Agung menghimpun banyak pepadu atau jawara dari seluruh pelosok wilayah kekuasaannya di Lombok untuk dijadikan wilayah ini sebagai pematek,” kisahnya.

Pematek adalah semacam barak atau tangsi yang menjadi tempat para jawara yang membela kedaulatan penguasa. Dalam pencarian Anak Agung terhadap jawara pilih tanding di seluruh pelosok pulau Lombok, terhimpunlah sebanyak 20 pendekar.

Mereka ada berasal dari wilayah Pejanggik, Selaparang, Sukedana, Kuning Kediri, Bayan, hingga Batu Rimpang.

“Sebanyak 17 orang mendiami kawasan ini dan 3 orang lainnya di tempat lain,” jelasnya.

Asmuni tidak menceritakan bagaimana sepak terjang ke 17 orang pendekar itu. Ia hanya menekankan bila mereka itulah yang kemudian berketurunan lalu membentuk sebuah kampung kecil.

“Awalnya nama kampung di sini bukan Karang Bagu tapi Kepah Tanaq Malit,” tututnya.

Kepah Tanaq Malit atau Karang Bagu -- menurut versi Asmuni -- adalah kampung tertua di kawasan Karang Taliwang. “Iya ini yang tertua,” ujarnya.

Serpihan cerita ini memang perlu diuji kebenarannya dari aspek kesejarahan. Tetapi apa yang digambarkan Asmuni tentang cikal bakal Karang Bagu, semestinya membanggakan para warga yang bermukim di sana. Kampung itu dibangun dari jerih payah dan keringat para jawara pilih tanding.

Lalu sekitar seratus tahun yakni 1971 sejak pemerintahan Anak Agung usai, kawasan itu semakin padat penduduk. Banyak pendatang dari berbagai daerah yang ikut bermukim dan berketurunan di sini.

Kawasan ini diminati karena subur. Salah satu bukti adalah keberadaan mata air yang memancar di sana. Sayang, entah karena apa, mata air itu kini mengering.

“Sejak itu nama kampung kecil Kepah Tanaq Malit berubah namanya menjadi Karang Taliwang,” ujarnya.

Asmuni tidak tahu persis mengapa nama Kepah Tanaq Malit berubah namanya menjadi Karang Taliwang. “Kalau dibilang di sini banyak tanaman Bagu, saya kira tidak. Tapi mungkin ini ada kaitannya dengan semakin banyaknya pendatang yang bermukim di sini,” duganya.

Lalu Halit juga mencoba berhipotesis, nama itu ada kaitannya dengan kemudahan dalam menyusun nama dan pengadministrasian wilayah. “Beberapa daerah yang ada di sekitar wilayah Cakra ini menggunakan nama ‘karang’ di depannya, mungkin memudahkan pengadministrasian,” timpalnya. (bersambung)

 

Editor : Rury Anjas Andita
#Karang Bagu #tradisi #Tokoh #Anak agung #Cerita #Asmuni #jawara #budaya #Karang Taliwang #Mataram #kampung