Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita I Ketut "Pedro" Budiarta, Black Lines Tatto, Mataram : Pernah Merakit Mesin Tato dari Dynamo Mobil Balap Tamiya

Suharli • Minggu, 12 November 2023 | 22:19 WIB

SENIMAN TATO:  I Ketut Budiarta alias Pedro saat berada di studio Black Lines Tatto di Jalan Sriwijaya, Kota Mataram,  (4/7/23).
SENIMAN TATO: I Ketut Budiarta alias Pedro saat berada di studio Black Lines Tatto di Jalan Sriwijaya, Kota Mataram, (4/7/23).
Bermodalkan kemahiran dalam seni menggambar, Pedro terjun ke profesi tukang tato. Sudah menggeluti profesi Tattoo artist belasan tahun. Merajah kulit dengan jarum-jarum tato. Mengubah kulit polos, sebagai kanvasnya, menjadi sebuah gambar dengan nilai seni tinggi.

 

SUHARLI, Mataram

 

SIANG yang cukup terik. I Ketut Budiarta bersantai di studio tatonya, Black Lines Tattoo yang ber-AC. Studio berukuran sekitar 3x4 meter persegi itu tampak lengang. Hanya ada Ketut Budiarta bersama kawannya.

Di kalangan tattoo artist Kota Mataram, nama Ketut Budiarta terasa asing. Pria dengan tato geometrik di tangan kirinya itu, lebih dikenal dengan nama Pedro. Salah satu tattoo artist terbaik di Kota Mataram.

Predikat terbaik, bukan asal disematkan kepada Pedro. Beragam penghargaan diraihnya dari sejumlah kontes yang pernah diikutinya. Salah satunya pada Mei 2018 di Bali Tattoo Expo. Pedro mendapat juara kedua untuk kategori black grey tattoo.

Saat itu, Pedro membuat tato aliran surrealis. Wajah seorang perempuan di atas daun dan dipadukan dengan gambar geometrik.

”Sempat ke Thailand juga ikut kontes di sana,” kata Pedro di studio, kemarin (10/11).

Sebagai tattoo artist, jalan yang dilalui Pedro cukup panjang. Dimulai dari 2002. Ketika dia baru lulus sekolah menengah atas.

Bermula dari hobi menggambar, Pedro memutuskan untuk jadi seniman tato.

Studio pertamanya berada di rumah. Kala itu, kata Pedro, gambar pertama yang dijadikan tato adalah logo band Guns N Roses.

Lambang band asal Amerika itu dituangkan di kaki kanannya. Percobaan pertama memang belum sempurna. Tapi, ini menjadi titik awal Pedro menjadi seniman tato.

”Waktu itu masih pakai jarum biasa. Tapi, tetap steril kok,” kata dia terkekeh.

Pada awalnya, alat yang digunakan tidak secanggih sekarang. Mesin tato saat itu, kata Pedro, bahkan dirakitnya sendiri. Dibuat dari dinamo mesin tamiya. Dia mengambil contoh dari sejumlah majalah tato luar negeri.

Selain alat yang sederhana, tak banyak juga orang yang mau membuat tato. Paling banyak hanya satu orang setiap minggu.

Kondisi ini tak terlepas dari stigma masyarakat terhadap tato. Menilai orang yang bertato sebagai pelaku kriminal.

Anggapan itu memang tak serta merta hilang. Tetapi stigma negatif belum sepenuhnya hilang. Untuk wilayah Kota Mataram, tato sudah dilihat sebagai sebuah karya seni. ”Seperti seni lukis,” bebernya.

Hanya dibedakan medianya. Lazimnya melukis dituangkan dalam kanvas, untuk tato medianya adalah tubuh manusia.

”Sekarang bisa kita sebut sebagai fashion. Masih ada anggapan (kriminal), tapi kalau kita pergi ke daerah-daerah pelosok,” terang Pedro.

Stigma negatif terhadap tato tak membuat Pedro kendur menekuni profesi ini. Tidak juga berkeinginan untuk mundur dari dunia tato.

Bagi Pedro, tato adalah sebuah seni, hanya medianya saja yang berbeda. Dia bahkan bercita-cita adanya kontes tato di Mataram.

Semangatnya bahkan semakin tinggi ketika alat modern tato sudah masuk ke Indonesia di medio 2007. Tangan-tangan Pedro semakin kreatif. Dia belajar menato dari beragam aliran. Seperti oriental hingga surrealis.

Kata pria yang juga memiliki tato di kakinya ini, ada perbedaan teknik menato di awal menekuni profesi tattoo artist dengan sekarang.

Dulunya, Pedro langsung menggambar pola di kulit. Berkedip sedikit atau kurang konsentrasi, pola akan mengubah gambar tato.

”Kalau sudah begitu kita timpa dengan gambar baru lagi,” katanya tertawa.

Kesalahan seperti itu tak mungkin terjadi sekarang. Dengan menggunakan transfer stensil, pola yang telah digambar di sebuah kertas, tinggal ditempelkan di lokasi tubuh yang hendak ditato. Pola kemudian berpindah ke kulit.

Dari sana, tattoo artist tinggal menarikan jarumnya. Disesuaikan dengan pola yang telah terbentuk.

”Memang lebih gampang. Tapi tetap membutuhkan konsentrasi tinggi,” sebut dia.

Yang paling sulit dari menato adalah detail. Dia pernah mengerjakan satu tato dengan total 26 jam yang dibagi ke dalam lima sesi.

Satu sesinya membutuhkan waktu sekitar empat jam. Dari satu sesi ke sesi berikutnya memiliki jeda sekitar satu minggu. Ini agar hasil tato bisa maksimal. (*/r3)

 

 

Editor : Redaksi Lombok Post
#I Ketut Budiarta #tato #Mataram #Black Lines Tattoo #Lombok