Bukan hanya kabupaten/kota di Pulau Sumbawa yang memiliki arena pacuan kuda. Di Lombok Timur, tepatnya di Desa Pohgading Timur, Kecamatan Pringgabaya, juga terdapat arena pacuan kuda. Inilah satu-satunya arena pacuan kuda dengan bentuk lintasan yang lurus, tidak oval seperti di arena pacuan lainnya.
Belum ada nama resmi untuk arena pacuan kuda ini.
Namun, karena lokasinya berada di Pantai Kerakat, Desa Pohgading Timur, masyarakat pun lebih banyak mengasosiasikan nama sirkuit yang digabungkan dengan nama pantainya: Sirkuit Pantai Kerakat.
Akhir pekan lalu, baru saja digelar Arong-Arong Jaran. Balapan kuda.
Yang menyelenggarakan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di Desa Pohgading Timur.
Event ini berhasil menyedot ribuan masyarakat untuk datang menonton.
Kepala Dinas Pariwisata NTB Jamaluddin Malady yang hadir pada balapan final menyampaikan, arena pacuan kuda di Pohgading ini menjadi sirkuit terunik di NTB, bahkan menjadi satu-satunya sirkuit yang berbeda di Nusantara. Karena hanya terdiri dari lintasan lurus saja.
”Seumur-umur saya nonton balapan kuda, bahkan pernah menjadi joki kuda, tumben saya temukan adanya sirkuit lurus seperti ini. Menurut saya ini unik sekali. Sirkuit Panda Bima, Angin Laut di Sumbawa, Sasaki di Loteng bahkan di seluruh nusantara biasanya sirkuitnya itu memutar,” terang Jamal.
Selain treknya yang lurus, arena pacuan kuda ini memiliki daya tarik lain. Yakni sirkuitnya yang berada di pantai, sehingga kuda yang berlomba berlari di atas hamparan pasir besi.
Jamal meminta agar pengelola tetap mempertahankan keaslian lintasan tersebut dengan model sederhana, tidak diubah menjadi sirkuit mewah.
Karena itu bisa menjadi daya tarik sendiri. Hanya saja panjang lintasan bisa diperpanjang, sehingga mencapai 1.000 meter.
Kepala Desa Pohgading Timur H Idris menambahkan, pihaknya meminta pemerintah untuk terus mendukung event Arong-Arong Jaran tersebut.
Karena antusias masyarakat sangat luar biasa. Setidaknya ini bisa menjadi event tahunan yang digelar Pohgading Timur.
”Kegiatan ini supaya terus berlanjut. Karena dampak positifnya banyak, selain untuk perekonomian juga sebagai sarana hiburan masyarakat,” jelasnya.
Pemdes merencanakan untuk membuat pasar kuda di lokasi pacuan.
Sebab perekonomian masyarakat dinilai lebih cepat berkembang dari bisnis kuda, terutama kuda balapan.
Biasanya satu kuda dibeli dengan harga Rp 15 juta, kemudian dijual sampai Rp 70 juta kalau bisa masuk final.
”Teman-teman yang datang balapan besok tidak lagi titip kudanya di masyarakat. Tapi ke depan bisa dititip langsung di kandang. Sehingga di sana nanti akan ada transaksi juga,” pungkasnya. (*/r11)
Editor : Marthadi