Menemani fotografer memotret menjadi salah satu bisnis baru di dunia pariwisata. Itu yang terus dikembangkan Firman Ayatullah. Pria yang juga sebagai fotografer itu memberikan pelajaran baru bagi fotografer dari luar daerah.
--------
Biasanya pebisnis wisata hanya menawarkan tempat menginap, tour wisata, dan kendaraan.
Tetapi, ide Firman Ayatullah melihat pasar wisata yang bisa dikembangkan ke depan. Menawarkan paket wisata sambil belajar fotografi.
Berbekal keahliannya memotret, idenya itu semakin diminati.
Pasarnya bukan hanya para fotografer yang ingin mengambil spot wisata. Melainkan juga para wisatawan yang ingin berkunjung ke NTB.
Ide itu dijalankan sejak setahun lalu. Ide itu muncul saat menemani fotografer luar daerah mengambil foto di sejumlah spot wisata.
”Sudah semua saya kunjungi para fotografer ke sejumlah daerah di wilayah NTB,” kata pria yang akrab disapa Firman itu.
Dia pernah membawa fotografer yang menjadi tamunya ke wilayah Bima, Dompu, Sumbawa, dan seluruh Pulau Lombok.
”Di Dompu 6 bulan, di Sumbawa 4 bulan. Pernah juga ke Atambua dan ke Kupang NTT,” bebernya.
Setiap mengawal fotografer, Firman selalu membatasi. Maksimal 15 orang.
”Tetapi, kalau ke Gunung Rinjani saya batasi hingga 10 orang. Tidak berani saya bawah lebih dari itu,” ujarnya.
Dari pengalamannya menjalankan bisnis itu, wilayah Pulau Lombok menjadi incaran para fotografer yang ingin hunting. Khusus untuk spot pantai, wilayah selatan paling diminati.
”Pantai di wilayah selatan mulai dari selatan Lombok Barat hingga Lombok Timur menjadi surga bagi para fotografer landscape,” jelasnya.
Terutama yang menjadi idola bagi fotografer landscape adalah wilayah tunak, Lombok Tengah (Loteng).
View yang ditawarkan sangat menarik. ”Tetapi, jalannya menuju wilayah itu rusak parah,” ujarnya.
Jadi harus menyewa motor trail untuk bisa mencapai spot pantainya. Terlebih lagi ketika hujan, jalan semakin sulit.
“Tetapi, rintangan yang dilewati terbayar dengan view menarik,” kata dia.
Firman menjelaskan, tipe fotografer landscape itu dibagi menjadi tiga. Ada landscape natural, artistik, dan find art.
”Kalau tipe fotografi natural, fotografer hanya memotret saja, selesai sampai disitu,” ujarnya.
Berbeda dengan artistik. Lebih mengedepankan sisi keseniannya.
”Misalnya, foto air yanng dihalus-halusin,” ujarnya.
Untuk bisa mendapatkan itu, fotografernya sudah memiliki skill. Atau sudah mengetahui segitiga exposure dalam dunia fotografi.
”Sudah bida mengenal namanya shutter, diafragma, dan lainnya. Intinya semua sudah diatur untuk mendapatkan nilai seni dalam foto itu,” bebernya.
Sedangkan fotografer landscape find art lebih mengarah ke seni yang lebih minimalis.
Sudah lebih menguasai mengenai tata letak objek yang lebih spesifik.
Misalnya, di tempat yang akan dijadikan objek itu terdapat banyak batu.
Tetapi fotografer yang memiliki jiwa find art itu pasti hanya menjadikan objek satu batu.
“Menggabungkan objek menjadi terlihat lebih indah. Disitu seninya,” terangnya.
Makanya, bagi fotografer landscape pasti akan memilih wilayah selatan Lombok sebagai spot. Sebab tipe-nya tidak senang dengan ombak yang tenang.
“Senangnya dengan ombak yang bergemuruh,” kata dia.
Biasanya, Firman membuat workshop untuk fotografer landscape di wilayah Kuta Mandalika. Dikarenakan lokasinya lebih dekat dengan pantai selatan.
“Kalau saya buka workshop banyak sekali peminatnya. Tetapi selalu saya batasi hanya sebanyak 15 orang,” kata dia.
Berbeda dengan spot di kawasan utara Lombok. Kawasan tersebut bukan idola fotografer landscape.
”Kalau di utara khusus bagi fotografer menggunakan drone. Kalau menggunakan DSLR, pasti tidak akan bisa dapat maksimal,” ujarnya.
Hal itu disebabkan kawasan pantainya yang memang tidak cocok untuk fotografer landscape. Kalau wilayah Lombok Utara yang bisa dijual adalah air terjunnya.
”Ada puluhan air terjun yang bisa dijual,” ujarnya.
View air terjun di utara Lombok itu sangat mengesankan. Banyak fotografer terkesima dengan hasil jepretannya.
“Kalau kita ajak fotografer hunting ke air terjun di wilayah utara pasti mereka sangat puas,” kata dia.
Pria asal Bima itu menjelaskan, bukan berarti wilayah Pulau Sumbawa dikatakan spot wisatanya tidak bagus.
Tetapi, bagi fotografer landscape wilayah Pulau Sumbawa sangat cocok dengan foto budaya. ”Misalnya kita mau foto kegiatan balap kuda, karapan sapi, semua ada di Sumbawa,” ujarnya.
Wilayah Sumbawa surganya bagi orang-orang yang suka traveling.
Bisa dilihat bagaimana fotografer landscape dengan fotografer traveling.
“Kalau traveling itu cukup keindahan pantainya saja,” ujarnya.
Berbeda dengan landscape, harus melihat komposisinya, bagaimana arah sunset atau sunrise-nya.
Memungkinkan bisa lebih indah tidak jika dipotret dari sudut kiri atau kanan. ”Semua dipikirkan,” ujarnya. (suharli/r3)
Editor : Marthadi