Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Para Pencari Ikan dan Belut di Mataram: Terbiasa Kesetrum dan Bertemu Ular

Marthadi Zuk • Jumat, 22 Desember 2023 | 22:50 WIB

 

Seorang pencari belut di sawah kawasan Batu Ringgit, Mataram, beberapa waktu lalu.
Seorang pencari belut di sawah kawasan Batu Ringgit, Mataram, beberapa waktu lalu.
 

Musim hujan selalu dinanti Filki dan teman-temannya. Di tangan mereka, ikan kecil dan licin menjadi tak berdaya. Mencari ikan bisa menjadi hobi. Tak gentar dengan risiko yang dialami. Yang penting hasilnya bisa dinikmati bersama.

 

---------------------------------

 

Lima biji anak panah dan pelatuknya berjejer di pinggir tembok rumah Filki di kawasan Monjok.

Itu bukan bersiap untuk perang atau berlatih memanah. Melainkan untuk berburu ikan dan belut.

Filki dan rekannya mulai berburu selepas Isya. Berburu ikan dan belut di gorong-gorong sungai.

”Kalau musim hujan begini, waktu yang tepat untuk mencari ikan,” kata Filki.

Dia tidak mencari ikan di sungai induknya. Karena debit airnya pasti besar. Mereka mencari di pecahan anak sungai.

”Biasanya, kalau musim hujan pecahan anak sungai selalu surut,” ujarnya.

Saat itu waktu yang tepat untuk mencari ikan. Sedangkan mencari belut harus turun ke sawah-sawah.

”Bekal kami tembakan rakit dan senter,” kata dia.

Mereka menelusuri anak sungai Ancar. Mulai dari timur hingga ke barat.

”Kalau kita cari dari arah barat, ikannya pasti bakal kabur ke atas,” bebernya.

Medan yang dilalui cukup gelap. Masih terdapat pohon yang rimbun.

”Kalau seperti ini ada saja ular yang keluar mencari mangsa,” ujarnya.

Namun, Filki dan kawannya tidak keder. Mereka sudah terbiasa menemukan ular.

“Tidak takut ular, asalkan bisa mendapatkan ikan. Lalu kita nikmati bersama,” kata dia.

Pernah saat itu, dirinya hampir digigit ular. Kepalanya sudah menjulur akan menggigitnya.

”Syukur saya bisa sigap menghindar,” ujarnya.

Saat malam hari, hewan melata itu berkeliaran mencari mangsa. Apa yang ada di dekatnya pasti akan diserang.

”Makanya mencari ikan disungai harus berhati-hati,” kata dia.

Risiko yang dihadapi cukup besar. Bisa mengancam nyawa.

”Tetapi, ini adalah hobi, ya kita jalani saja,” kata dia.

Di balik risiko itu, tentu ada ikan yang didapatkan. Ikan tersebut bukan untuk dijual.

“Tetapi untuk kita makan bersama. Ya, kalau bahasa sasaknya kita pakai mengkele (makan bareng),” kata dia.

Sekali turun ke sungai, ikan yang didapat tidak menentu. Terkadang pernah nihil.

”Meski tidak dapat sama sekali, kami tetap puas,” ujarnya.

Paling banyak yang pernah didapatkan bisa mencapai 6 kilogram ikan.

Bahkan pernah mendapatkan ikan simbur sebesar paha.

”Kalau kita bisa dapatkan itu bagian dari bonus atas hobi yang dikerjakan,” kata dia.

Berbeda dengan Tanwir. Warga Sekarbela, Kota Mataram, itu tidak turun ke sungai.

Tanwir hanya turun ke sawah dan saluran drainase. Tujuannya mencari belut.

Pria 38 tahun itu, terlihat di areal persawahan Baturinggit Selatan, Kecamatan Sekarbela.

Tanwir terlihat berjalan di pematang sawah. Hanya mengenakan celana pendek dan baju kaos yang sudah bercampur dengan cipratan lumpur.

Kakinya yang telanjang mantap melangkah. Dengan dipandu temaram lampu. Lampu itu menjadi satu bagian dari alat untuk mencari belut.

Sumber listriknya berasal dari aki dengan kekuatan 10 ampere. Yang ditaruh di kotak besi. Di balik punggungnya.

Kedua tangan Tanwir terlihat memegang tongkat kayu. Di tiap ujung tongkatnya terdapat lonjoran baja.

Medium untuk membuat belut yang licin menjadi tak berdaya.

”Tinggal pencet tombol, nanti aliran listrik mengalir ke baja ini,” jelas Tanwir.

Tanwir kemudian mempraktikkan cara kerja alat sederhana itu.

Tongkat ia masukkan ke dalam air yang berlumpur. Berulang kali. Tetapi tidak lama. Hanya hitungan detik. Beberapa belut keluar dari dalam lumpur.

Dia harus selalu awas menggunakan setrum listrik. Salah cara menggunakan malah kesetrum.

”Itu risiko-nya,” kata Tanwir.

Mencari belut bukan mata pencaharian utama Tanwir. Sehari-hari ia bekerja sebagai ojek.

Kebutuhan hidup yang semakin bertambah, membuat ia harus mencari penghasilan tambahan. Dan belut menjadi jalan keluarnya.

Tanwir tidak setiap malam keluar mencari belut.

”Namanya manusia kan, ada saja kebutuhan yang kurang. Pas butuh itu dah saya keluar. Daripada minjem,” tuturnya.

Belut tangkapan dijual Tanwir kepada pengepul. Harganya lumayan mahal.

Satu kilogram belut bisa mencapai Rp 60 ribu. Lebih mahal dari harga daging ayam dengan berat yang sama.

Untuk mendapat satu kilogram belut juga tak sulit. Apalagi di saat musim hujan sekarang ini. Kamis malam, Tanwir yang baru mencari belut sekitar dua jam, sudah mendapat hampir satu kilogram.

Itu ia rasakan dari berat keranjang. Tempat menaruh belut tangkapannya.

”Tahu kita. Walaupun belum ditimbang. Kerasa di pinggang ini,” ungkap Tanwir yang sudah 10 tahun mencari belut.

Tanwir tak membatasi waktu sampai jam berapa untuk mencari belut. Tergantung dari hasil tangkapannya. Juga jam lewat pesawat. Katanya, pesawat yang lewat bisa menjadi pertanda waktu pulang.

”Normalnya pulang jam 10. Tahunya dari pesawat yang lewat. Kita tahu dari sana,” jelasnya.

Mencari belut memang tak mudah. Bahkan nyawa menjadi taruhannya. Tanwir sadar akan hal itu. Katanya, ia kerap bertemu dengan hewan melata seperti ular. Dari yang hanya seukuran jari tangan hingga sebesar paha orang dewasa.

tu semua tak membuatnya gentar. Di pikirannya hanya satu, hasil penjualan belut digunakan untuk kebutuhan keluarganya. Pantang bagi dirinya untuk berutang.

Lebih baik menantang risiko dengan jerih payah mencari belut.

”Kita pasrah saja. Namanya bekerja ya, pasti ada risikonya. Kalau ketemu ular ya biasa, sawah ini kan rumahnya mereka,” kata Tanwir. (*/r3)

Editor : Marthadi
#SEKARBELA #ikan #Monjok #belut #Mataram