Umumnya kegiatan belajar dan mengajar siswa sekolah ada didalam ruang kelas.
Namun tidak bagi siswa-siswi SDN Montong Ara di Desa Menemeng, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah.
Ruang kelas yang ambruk dan tidak layak membuat mereka belajar dibawah tenda terpal swadaya warga.
--------
SESEKALI Reza Putra Febrian menyeka bulir-bulir keringat dijidatnya. Baju merah putih yang dikenakan pun tampak basah. Ia juga mengipas-ngipaskan buku pelajaran ke arah wajahnya.
Siswa kelas lima sekolah dasar di SDN Montong Ara, Desa Menemeng, Kecamatan Pringgarata terlihat kurang fokus menyerap ilmu yang disampaikan sang guru.
Bukan karena dia sedang bermain saat belajar, namun kondisi ruang kelas yang panas dan berdebu.
Bagaimana tidak? Reza dan siswa lainnya terpaksa belajar di ruang kelas yang terbuat dari tenda terpal swadaya masyarakat. Tenda ini dibangun dengan sekat bambu anyaman.
Bagian dinding kelas hanya ditutup terpal setengah saja. Sehingga angin bisa masuk dan mengurangi rasa panas yang dirasakan siswa-siswi.
Lain cerita ketika hujan tiba. Air hujan akan masuk ke dalam tenda yang sudah berdri tiga bulan itu.
Membasahi seluruh bangku dan meja. Jika sudah demikian, buku pelajaran pun dimasukkan ke dalam tas. Kegiatan belajar mengajar dihentikan sementara hingga hujan mereda.
“Terganggu belajarnya, kalau lagi panas ya kepanasan, kalau sedang hujan ya basah semua,” ucap Reza diiringi jawaban serupa siswa lainnya.
Kepala Sekolah SDN Montong Ara Muhammad Fakhruddin membenarkan kondisi tersebut. Perpindahan ruang belajar adalah kali kedua.
Sebelumnya, para siswa belajar di ruang kelas namun kemudian atap tiga ruang kelas ambruk.
Mereka pun dipindah ke ruang kelas lain dan lagi-lagi kondisi ruang kelas tidak layak.
“Sebagai langkah antisipasi karena saat itu hujan, takut ambruk lagi yang ini, kami sepakat dengan wali murid untuk pindahkan anak-anak ke ruang kelas tenda terpal. Tepat di depan ruang kelas mereka yang ambruk,” ungkapnya.
Melihat kondisi sekolah seperti ini, pihak sekolah sudah melaporkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Tengah.
Petugas survei pun sudah turun dua kali. Tetapi pihak sekolah tampaknya mesti bersabar.
Lantaran menunggu giliran untuk diperbaiki, sebab banyak juga sekolah lain dengan kondisi gedung sekolah yang memprihatinkan.
“Satu sisi tidak mudah juga merubah anggaran sehingga butuh proses,” ujar pria yang sebelumnya mengajar di SMP Negeri 3 Praya Barat Daya ini.
Sembari menunggu giliran diperbaiki, pihak sekolah mengundang wali murid terkait nasib para siswa-siswi.
Mengingat kondisi atap ruang kelas sebemumnya ambruk saat hujan, maka untuk antisipasi dengan kondisi ruang kelas tidak layak, pihak sekolah usulkan dua pilihan.
“Kami usulkan apakah mau anak-anaknya ada yang masuk pagi dan siang hari. Namun semua menolak, mereka menghendaki tetap masuk pagi. Karena itu, opsi lainnya dibangun tenda untuk tiga kelas secara swadaya,” jelasnya.
Kondisi para siswa belajar dibawah tenda ini diharapkan segera berakhir. Sekolah dijanjikan akan mendapat perbaikan dari Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp 300 juta usai gelaran Pemilu 2024.
“Alhamdulillah sudah ada titik terang, baik itu tiga ruang kelas yang ambruk maupun ruang kelas yang ditopang kayu tiga kelas (akan diperbaiki, red). Kami tinggal menunggu dan terus mengawal janji ini,” pungkas Fakhruddin. (lestari dewi)
Editor : Kimda Farida