Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sandra, Penyiar Radio yang Masih Eksis di Gumi Tastura, Junjung Kearifan Lokal Ditengah Perkembangan Zaman (Habis)

Lestari Dewi • Sabtu, 9 Maret 2024 | 19:33 WIB
Sandra menunjukkan sejumlah kaset yang masih tersimpan di studio miliknya.
Sandra menunjukkan sejumlah kaset yang masih tersimpan di studio miliknya.

Seiring berjalannya waktu, teknologi juga kian berkembang.

Untuk bertahan, tidak cukup hanya mengikuti perkembangan tersebut.

Namun juga harus ditopang dengan kearifan lokal sebagai daya tarik mempertahankan pasar.

-------

SANDRA ingat betul bagaimana ketika di jamannya siaran radio masih menggunakan kaset.

Untuk memutar suatu musik yang direquest pendengar, maka operator harus mengeluarkan kaset yang satu dan mengganti kaset yang lain.

Belum lagi ketika judul lagu yang diinginkan berada diurutan kedua, ketiga dan seterusnya. Membuat operator harus memutar pita hitam secara manual.

Tak lagi menggunkan kaset, untuk memutar musik kemudian beralih menggunakan DVD, hingga akhirnya memutar musik cukup memakai aplikasi yang sudah tersedia dikomputer.

Tinggal klik. Tak ada lagi kawan operator yang mendampingi penyiar. Semua itu kini dilakukan sendiri oleh penyiar.

“Jaman dulu itu memang ribet juga kita lihat, tapi ada kalanya kita rindu masa-masa itu,” kenangnya.

Menghadapi transisi teknologi diawali Sandra dengan radio miliknya menggunakan konsep audio visual.

Ia berani mengklaim konsep ini kali pertama digunakan sebelum dilakukan hal serupa oleh stasiun-stasiun radio lainnya di NTB, khususnya Lombok Tengah.

“Untuk disini ya, kami yang pertama kali siaran yang bermain difrekuensi sekaligus online streaming, live di facebook, tiktok secara professional bahkan sudah hadir dalam playstore. Gampangnya, radio rasa televisi,” terangnya.

Namun, meski sudah mengikuti perkembangan zaman ini ternyata tidak cukup sampai disitu saja.

Untuk bertahan, penyiar radio harus memeras otak agar bagaimana siarannya tetap dinikmati para pendengarnya.

Salah satunya, 80 persen siaran menggunakan kearifan lokal yakni ketika siaran menggunakan bahasa daerah khas Sasak.

Meski materi berita atau skrip yang disampaikan adalah bahasa Indonesia, tetapi penyiar harus menterjemahkannya kedalam bahasa Sasak.

“Kenapa begini, karena ingin menyentuh semua lapisan masyarakat sebab pendengar saat ini tidak hanya dari kalangan milenial tetapi ada inaq-inaq (ibu), amaq-amaq (bapak), papuq-papuq (nenek kakek) yang dipelosok sana mendengar radio dan tidak mengerti bahasa Indonesia,” terangnya.

“Jadi mereka tetap mengetahuijuga perkembangan atau informasi apa yang sedang terjadi di Kota Praya dan sekitarnya,” tambah anak kedua dari lima bersaudara ini.

Ternyata strategi ini ampuh dilakukan, bahkan ada pendengar radio garis keras yang berada di luar negeri yang menjadi TKI/TKW merasa terobati ketika masih bisa mendengar dan melihat siaran radio menggunakan bahasa Sasak.

“Sebab banyak juga yang komentari saat live, terimakasih Lombok FM setidaknya rasa rindu kampung halaman terobati. Berasa ada di rumah, di Lombok,” pungkas Sandra. (lestari dewi)

Editor : Kimda Farida
#kearifan lokal #Lombok Tengah #penyiar radio #Eksis