UMAR WIRAHADI, Mataram
Pada Agustus 2019, Juliadin Kuswara menempuh perjalanan yang melelahkan dari Lombok ke Papua. Tujuannya mendatangi Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) yang berlangsung di Distrik Walesi, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.
Butuh perjuangan keras untuk sampai ke lokasi. Dari Lombok, penerbangan transit di Makassar. Dari Makassar penerbangan dilanjutkan ke Jayapura. Sampai di ibu Provinsi Papua itu penerbangan disambung lagi ke Kota Wamena.
Nah, dari Wamena diteruskan dengan perjalanan darat ke Distrik Walesi tempat berlangsungnya FBLB. Perjalanan darat ke lokasi kurang lebih 30 menit. "Selain menguras tenaga, juga menguras uang. Ongkosnya sangat wow. Bisa buat beli Honda Beat baru," tutur Juliadin Kuswara kepada Lombok Post, kemarin (9/10).
Tapi rasa lelah selama perjalan dan besarnya biaya yang dikeluarkan, terbayar tunai dengan spot foto yang menakjubkan. Selama event festival Lembah Baliem, Juliadin tidak menyianyiakan kesempatan langka itu. Dia memotret objek sebanyak-banyaknya. Salah satu foto ikonik yang didapatkan berupa foto kepala suku lengkap dengan koteka.
Pada Juli 2023 lalu, foto tersebut berhasil memenangkan lomba foto tingkat internasional. Namanya The Hamdan Bin Mohammed Bin Rashid Al Maktoum International Photography Award (HIPA) di Dubai. "Senang banget. Nggak menyangka bisa menang lomba ini karena pesaingnya fotografer dari banyak negara," jelas pria yang akrab disapa Ading itu.
Foto hasil jepretan Ading yang lain juga banyak mendapat apresiasi. Pada 2018, misalnya. Dia tiga kali memenangkan lomba foto tingkat nasional. Yaitu lomba foto yang digelar PT Telkom pada awal dan pertengahan 2018. Serta akhir tahun itu foto hasil bidikan Ading meraih juara dua lomba
foto dengan tema hal kekayaan intelektual yang digelar Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM). "Padahal tahun-tahun itu saya baru mulai belajar moto secara otodidak," ungkapnya.
Ading mengawali ketertarikan di dunia fotografi pada awal 2017. Saat itu dia sebenarnya memiliki usaha sendiri di bidang event organizer (EO). Tapi di sela-sela kesibukan menggarap berbagai event, pria yang kini berusia 52 tahun itu juga mengikuti komunitas fotografi di Mataram.
Nah, tahun 2017 dia mengikuti komunitas untuk hunting foto sunset di Pantai Ampenan. Tapi namanya baru belajar, dia belum begitu mahir cara mengoperasikan kamera agar bisa menghasilkan foto yang bagus dan menarik. Dia bahkan belum menguasai cara mengatur ISO maupun speed kamera secara manual. Sampai-sampai dia sering bertanya ke teman-teman sesama komunitas.
Tapi ternyata tidak sesuai yang diharapkan. Banyak anggota komunitas yang tampak tidak peduli. Alih-alih memberi bantuan cara memotret sunset yang menarik, mereka hanya sibuk dengan hasil jepretan sendiri. "Saat itu sangat sangat kecewa. Saya mangkel sendiri. Akhirnya saya pulang dan mundur dari acar pemotretan itu," kenangnya.
Sajak itulah dia mulai belajar secara otodidak. Dia rajin membuka internet tentang tutorial memotret landscape. Ilmu yang dipelajari secara online itu langsung dipraktekkan dengan cara blusukan ke objek-objek pemandangan alam yang menarik untuk difoto. "Lombok ini nggak kekurangan tempat-tempat indah. Saya belajar memotret pemandangan maupun kegiatan seni budaya. Seperti peresean, gendang belek dan tradisi Lombok lainnya," tutur ayah tiga anak itu.
Selain belajar secara online, Ading juga pembelajar yang tekun. Dia juga mengirim
korespondensi via medsos dengan fotografer terkenal Indonesia. Seperti
Arbain Rambey hingga Darwis Triadi. "Saya DM (direct message, Red) mereka. Memang nggak langsung dibalas. Tapi dalam seminggu pasti beliau berdua membalas DM. Saya senang sakali," imbuhnya lalu tertawa.
Ading belajar banyak dari nasihat kedua fotografer legendaris itu. Dikatakan, tidak ada foto bagus dan tidak ada foto jelek. Yang ada adalah foto yang disukai dan tidak disukai. Arbain Rambey, misalnya, memberi ilustrasi bahwa seseorang nenek yang memotret cucunya dengan HP jadul tetap kelihatan bagus bagi si nenek dan cucunya. Tapi kalau ditanya ke orang lain belum tentu foto itu punya kualitas bagus dan menarik.
"Sebagai karya seni, foto selalu ada kekurangan dan kelebihannya. Artinya ada yang suka dan tidak suka," ungkapnya.
Meski baru mulai belajar, tahun 2018 Ading sudah memberanikan diri mengikuti lomba foto. Tahun itu dia langsung memenangkan tiga lomba sekaligus. Hadiahnya pun menggiurkan berupa hang dan barang-barang. "Tahun itu saya mengantongi uang sekitar Rp 100 juta dari memang lomba," tuturnya bangga.
Tahun 2019-2020 keberuntungan Ading berlanjut. Meski kala ada wadah pandemi Covid-19 ada saja lomba yang diikuti dengan tema pandemi Covid-19. Prestasinya pun berlanjut hingga kini. Bahkan oleh beberapa panitia lomba foto tingkat nasional, Ading sering dijuluki sebagai langganan pemenang lomba. Itu karena saking seringnya foto karyanya menenangkan kompetisi fotografi.
Bagi Ading menjadi fotografer profesional cukup menjanjikan. Awalnya sekedar hobi ternyata bisa menjadi sumber penghasilan yang lumayan. "Akhirnya terbentuk dalam pikiran senang motret karena berharap bisa menang lomba. Ini jadi motivasi," benernya.
Kini, Juliadin Kuswara banyak memberi perhatian pada panorama alam pulau Lombok yang indah. Termasuk juga budayanya. Berbagai event seni dan budaya Lombok seolah menjadi kalender wajib untuk dipotret. Seperti tradisi Maulid adat Bayan, tradisi event Bau Nyale, hingga parade budaya adat Desa Langko.
Bahkan saat event itu digelar, Ading ikut mengundang fotografer luar daerah untuk ikut memotret keindahan alama dan keluhuran budaya khas Sasak. Fotografer dari Jakarta, Surabaya, Semarang, Denpasar pun berdatangan. "Saya ingin promosikan keindahan alam dan kekayaan budaya Lombok melalui foto. Ternyata Lombok sangat kaya dengan kekayaan budaya dan keindahan alam. Saya bangga sakali," tandas pria murah senyum itu.
Meski baru mulai belajar, tahun 2018 Ading sudah memberanikan diri mengikuti lomba foto. Tahun itu dia langsung memenangkan tiga lomba sekaligus. Hadiahnya pun menggiurkan berupa hang dan barang-barang. "Tahun itu saya mengantongi uang sekitar Rp 100 juta dari memang lomba," tuturnya bangga.
Tahun 2019-2020 keberuntungan Ading berlanjut. Meski kala ada wadah pandemi Covid-19 ada saja lomba yang diikuti dengan tema pandemi Covid-19. Prestasinya pun berlanjut hingga kini. Bahkan oleh beberapa panitia lomba foto tingkat nasional, Ading sering dijuluki sebagai langganan pemenang lomba. Itu karena saking seringnya foto karyanya menenangkan kompetisi fotografi.
Bagi Ading menjadi fotografer profesional cukup menjanjikan. Awalnya sekedar hobi ternyata bisa menjadi sumber penghasilan yang lumayan. "Akhirnya terbentuk dalam pikiran senang motret karena berharap bisa menang lomba. Ini jadi motivasi," benernya.
Kini, Juliadin Kuswara banyak memberi perhatian pada panorama alam pulau Lombok yang indah. Termasuk juga budayanya. Berbagai event seni dan budaya Lombok seolah menjadi kalender wajib untuk dipotret. Seperti tradisi Maulid adat Bayan, tradisi event Bau Nyale, hingga parade budaya adat Desa Langko.
Bahkan saat event itu digelar, Ading ikut mengundang fotografer luar daerah untuk ikut memotret keindahan alama dan keluhuran budaya khas Sasak. Fotografer dari Jakarta, Surabaya, Semarang, Denpasar pun berdatangan. "Saya ingin promosikan keindahan alam dan kekayaan budaya Lombok melalui foto. Ternyata Lombok sangat kaya dengan kekayaan budaya dan keindahan alam. Saya bangga sakali," tandas pria murah senyum itu. (*/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post