LombokPost-Di tangan Latief Putra Angga, limbah elektronik bisa disulap menjadi aneka perabotan rumah tangga yang kaya fungsi dan bernilai seni tinggi.
Idenya muncul karena sering melihat barang-barang rongsokan di pasar-pasar loak.
-------------------------
Aneka ikan hias terlihat cantik dalam beberapa akuarium.
Ada ikan cupang, koi, lohan, molly hingga ikan guppy. Ikan mungil itu seperti menari-nari di dalam air yang bening.
Menariknya, benda ini tidak seperti akuarium umumnya yang diletakkan di atas meja. Akuarium ini menempel di tembok.
Karena memiliki engsel layaknya pintu, benda itu pun bisa dilipat atau diputar ke kiri dan kanan.
”Saya menyebutnya sebagai akuarium tembok. Karena bisa ditempel di dinding,” kata Latief Putra Angga kepada Lombok Post, Selasa (29/10).
Latief adalah pencipta akuarium tembok.
Dia membuat perabotan itu dari limbah elektronik.
Persisnya dari bekas pintu mesin cuci. Meskipun diolah dengan tangan atau hand made, namun sepintas benda itu seperti barang pabrikan.
Sejumlah akuarium unik itu dipajang di ruang tamu rumahnya di Dusun Lekong Dendek, Desa Dasan Tereng, Kecamatan Narmada.
Setiap tamu yang datang langsung tertarik. Tidak sedikit yang langsung membeli.
”Kesannya kan mewah. Padahal bahan dasar dari limbah elektronik,” papar ayah dua anak itu.
Cara membuatnya pun cukup simpel. Pertama kali, jelas Latief, tutup mesin cuci bekas dibersihkan lebih dulu. Bekas kerak dan kotoran dibilas dengan sabun. Jika sulit dihilangkan, bisa digosok dengan amplas halus.
Kaca akrilik yang sudah dipotong sesuai diameter, ditempelkan ke bagian akuarium. Opsinya bisa direkatkan dengan lem double tip. ”Pastikan akrilik ini menempel dengan sempurna. Jangan sampai ada celah. Agar air dalam akuarium tidak sampai bocor,” paparnya.
Setelah itu kabel lampu warna warni dipasang melingkari dinding kaca bekas pintu akuarium.
”Warna lampu bisa disesuaikan dengan pesanan. Bisa warna biru, hijau, kuning atau variasi warna yang lain,” katanya.
Nah, untuk menghidupkannya, tinggal dipasangkan selang aerator dan mini pompa ke dalam air. Satu unit akuarium pun siap difungsikan.
”Asalkan sudah ada bahan baku, setengah hari pun selesai,” ungkapnya.
Selain menyiapkan bahan utama tadi, ada sejumlah bahan pendukung. Seperti kaca akrilik, lampu hias, aerator pompa udara akuarium dan pompa mini. Adapun engsel tidak perlu dibeli karena sudah ada di pintu mesin cuci sejak awal.
Latief sudah dua tahun terakhir ini menciptakan akuarium tembok. Itu berawal dari kegemarannya yang blusukan keluar masuk pasar loak.
Seperti Pasar Cakranegara, Sweta dan Ampenan dan pasar barang bekas di sekitar Narmada, Praya hingga ke Selong, Lombok Timur.
Bagi Latief, barang-barang rongsokan itu sangat disayangkan untuk dibuang menjadi limbah. Nah, ide menjadikan bekas pintu mesin cuci jadi akuarium itu pun muncul saat di pasar.
”Tiba-tiba mikir ini bisa jadi apa ya. Saya lihat ada pintu mesin cuci yang digeletakkan. Kenapa nggak bisa jadi akuarium yang ditempel di tembok. Kan ada engselnya juga,” beber pria 56 tahun itu.
Apalagi benda itu tidak jauh dari air. Sehingga tidak terlalu banyak memerlukan modifikasi.
”Dikreasi sedikit saja bentuknya sudah jadi,” sambungnya.
Selain akuarium, Latief juga membuat cermin dari benda yang sama. Yaitu berupa cermin tempel dan cermin duduk.
Cermin dari bahan dasar tutup mesin cuci itu sangat cocok untuk dipasang di kamar mandi atau kamar pribadi.
Kini, akuarium tembok ciptaan Latief sudah mulai dikenal para pembeli.
Mereka datang langsung ke rumah Latief untuk membeli. Baik secara personal atau manajemen perusahaan.
Benda hasil kreasinya sudah dikirim ke sejumlah hotel di Gili Trawangan. Benda itu dipasang di kamar-kamar hotel.
Harga satu akuarium tembok dibanderol Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu. Tergantung ukurannya. Adapun cermin dijual Rp 200 ribu sampai Rp 350 ribu. (*/r12)
Editor : Kimda Farida