LombokPost-Semangat Muhammad Fadli sebagai guru honorer Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Tanjung, Kecamatan Labuhan Haji, patut diacungi jempol.
Meski kondisi fisiknya membuat Fadli tidak bisa berjalan sama sekali, tapi semangatnya untuk mengajar dan mengabdi sebagai guru tak pernah surut.
----------
Pagi itu, pria paruh baya tengah duduk di ruang tamu. Tatapannya berkali-kali melihat ke arah pintu.
Dari kamar sebelah, sosok perempuan delapan tahun lebih muda dari pria itu, keluar membawa baju kemeja sambil menggendong seorang anak yang masih berumur sekitar satu tahun.
Tanpa basa basi, perempuan itu langsung memasangkan baju kemeja bermotif kotak-kotak kepada pria itu.
Setelah semua kancing terpasang, pria tersebut langsung bergegas keluar dari ruang tamu menuju teras rumahnya dengan merangkak, menemui seseorang yang tengah menunggu di luar.
Pria penyandang disabilitas itu bernama Muhammad Fadli, warga Lingkungan Renco, Kelurahan Kelayu Jorong, Kecamatan Selong, Lotim. Ia seorang guru di MI Muhammadiyah Tanjung.
Kedua tangannya lemas dan kakinya sudah tidak bisa berjalan. Untuk melakukan aktivitas sehari-hari, ia harus dibantu istri dan orang-orang terdekatnya.
”Kalau di rumah yang bantu istri, mulai dari pakai baju, makan dan sebagainya. Kalau pergi ke sekolah saya dijemput keponakan dan teman-teman guru. Saya dibopong naik maupun turun dari motor,” terang Fadli, saat ditemui di rumahnya, Minggu (3/11).
Pria yang akrab disapa Ustaz Fadli ini menceritakan, penyakit yang dialaminya sudah ada sejak lahir.
Namun saat itu ia masih bisa berjalan. Hanya saja ia tidak berani berjalan cepat atau bergerak normal seperti orang pada umumnya.
Bahkan untuk sekadar naik anak tangga, ia harus ditandu. Namun sejak lima tahun terakhir ini, dirinya tidak bisa berjalan sama sekali.
Sampai saat ini, Fadli belum tahu secara pasti penyebab sakit yang dialami. Mengingat dirinya hampir tidak pernah berobat ke dokter.
Namun, dibalik kekurangannya itu, Fadli tetap semangat mengajar. Mengabdi di sekolah Muhammadiyah.
”Awal-awal saya sempat risih dan minder dengan keadaan saya. Tetapi berkat bimbingan guru-guru di madrasah dulu, bahwa setiap sesuatu yang diciptakan tidak ada yang sia-sia. Makanya saya tetap semangat untuk beraktivitas,” imbuhnya.
Pria kelahiran 1978 ini, mulai mengajar tahun 2003 lalu hingga sekarang dengan status honorer.
Selain menjadi guru ia juga dipercaya sebagai operator sekolah. Fadli juga mengajar di madrasah diniyah, guru ngaji di musala, pengurus masjid dan guru tahsin Alquran dari masjid ke masjid.
Fadli menerangkan, kondisi tangan dan kakinya semakin hari seperti tak bertenaga.
Untuk menggunakan kursi roda saja tidak bisa. Sehingga dirinya hanya bisa mengandalkan bantuan sang istri dan keponakan, ketika hendak pergi sekolah dan mengisi pengajian.
”Yang rutin jemput itu keponakan. Ke mana-mana dia yang antar. Sebenarnya tangan dan kaki saya tidak sakit. Cuman dia lemas saja. Makanya saya diberikan keringanan sama kepala sekolah, untuk masuk beberapa hari saja. Untuk pekerjaan operator bisa dikerjakan dari rumah,” katanya.
Selain itu, ia juga diberikan jam mengajar di kelas-kelas yang dekat dengan ruangan guru.
Ini untuk memudahkan dan tidak terlalu melelahkan yang membopong. Tidak jarang juga ia harus mengajar anak muridnya di ruangan guru jika tidak ada yang membopong ke kelas.
Diakui dirinya sudah mendapatkan bantuan kursi roda. Tetapi ia merasa kesulitan untuk menggunakannya, terlebih kursi roda miliknya masih kursi roda manual, tangannya tidak kuat untuk menahan kursi roda.
”Sekadar pakai sepatu saja saya tidak bisa. Apalagi kursi roda. Makanya saya ke sekolah pakai sandal saja,” ungkapnya.
Dirinya sudah puluhan tahun mengabdi sebagai guru honorer dengan segala keterbatasan. Untuk itu dirinya berharap pemerintah bisa mangkatnya sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Ayah empat anak ini juga berharap agar pemerintah tidak hanya memperhatikan guru-guru honorer yang ada di sekolah-sekolah negeri.
Namun juga di sekolah swasta. Mengingat guru-guru yang ada di sekolah swasta rata-rata sudah lama mengabdi. (*/r11)
Editor : Kimda Farida