INDONESIA sudah merdeka 79 tahun. Tapi masih banyak warga yang belum bisa menikmati kebutuhan dasar seperti air bersih. Desa Gili Gede Indah, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, sudah berpuluh-puluh tahun tidak pernah teraliri air bersih dari pemerintah. Saat kemarau panjang melanda mereka menjerit kekurangan air. Warga Harus Super Hemat Menggunakan Air Karena Antre 24 Jam, Hanya Dapat Satu Ember Air Payau.
UMAR WIRAHADI, Lombok Barat
Sebanyak 15 wadah berisi ember, bak dan jerigen berjejer di sekitar sumur. Para pemilik wadah menunggu giliran untuk menimba air. Penempatan wadah pun diatur berdasarkan waktu tunggu.
Semakin lama menunggu, maka wadah berupa ember, bak dan jeriken itu semakin mendekat ke mulut sumur. Artinya, giliran pemiliknya untuk menimba air semakin dekat. "Giliran aku nani nimbak (giliran saya sekarang yang menimba air, Red)," kata Rohani, Sabtu sore lalu (9/11).
Namun baru beberapa kali dia menimba, air sumur kembali kering. Embernya hanya terisi setengah saja. Belum sampai penuh. "Sering seperti ini. Lelah menunggu nggak sebanding dengan air yang didapat," ujar ibu tiga anak itu.
Pemandangan itu terlihat di sebuah sumur umum di Dusun Gili Gede, Desa Gili Gede Indah, Kecamatan Sekotong. Lombok Post menyaksikan langsung bagaimana warga yang mayoritas ibu-ibu itu dengan sabar menunggu giliran untuk menimba air di sumur. Padahal air yang didapat juga tidak seberapa. Hanya cukup untuk kebutuhan air wudhu.
"Kalau saat ini sering ember nggak sampai penuh. Karena banyak warga yang antre," ujar Zulhijah, warga lainnya.
Paceklik air itu tidak hanya dirasakan warga Dusun Gili Gede saja. Tapi juga dialami warga di seluruh Desa Gili Gede Indah yang tersebar di lima dusun. Selain Gili Dede, ada juga Dusun Orong Bukal, Gedang Siang Labuan Cenik dan Dusun Tanjungan. Semuanya sedang mengalami krisis air. "Kadang sampai malam kami ngantuk-ngantuk nunggu air. Bahkan ada yang sampai ketiduran di sumur karena nunggu aur," tutur Zulhijah lalu tertawa lepas.
Kepala Desa Gili Gede Indah Awaludin mengakui seluruh warga desanya sedang kesulitan air. Kondisi tersebut terjadi secara merata di lima dusun yang didiami warga desa setempat. Jumlah warga terdampak sebanyak 475 kepala keluarga (KK) dengan total 1.469 jiwa. "Karena kami hidup di pulau yang sama, jadi semuanya merasakan kesulitan air. Tanpa kecuali," tutur Awaludin.
Perjuangan warga Gili Gede Indah untuk mendapatkan air memang berat selama kemarau. Untuk dapat satu ember saja harus nunggu berjam-jam. Mereka antre selama 24 jam. Bahkan ada yang tidak sampai tidur. Karena sumber air lebih banyak mengalir malam hari. "Selama 24 jam warga nunggu air. Kalau kelihatan air tergenang sedikit langsung diambil. Jadi air nggak pernah besar," ucapnya.
Diceritakan, paceklik air selalu terjadi setiap tahun. Khususnya selama musim kemarau. Tahun ini krisis air relatif lebih panjang sejak kemarau melanda Juni lalu. Puncaknya terjadi September-Oktober lalu. Meski November ini sudah mulai memasuki awal musim hujan, tapi tetap saja air sumur belum ada. "Karena belum ada air tawar yang terserap. Jadi masih berupa air payau. Bahkan air garam karena berasal dari air laut," paparnya.
Kondisi itu sudah terjadi selama berpuluh-puluh tahun. Bahkan ketika nenek moyang mereka mulai mendiami pulau gili itu. Tapi beberapa tahun terakhir kondisi sumur kian parah. Air tawar makin sulit didapat. Sebab pohon-pohon besar banyak yang ditebang. Akibatnya resapan air semakin sedikit. Apalagi saat kemarau panjang seperti tahun ini.
Nah, karena semua sumur kering, warga harus membeli kebutuhan air untuk mandi.
Mereka membeli ke seberang pulau di Sekotong. Satu tandon berisi 1.100 liter atau 1,1 kubik dihargai Rp 125 ribu. Itu sudah termasuk biaya ongkos kapal dari Sekotong ke Pulau Gili Gede.
Warga pun harus super hemat menggunakan air. Air tangki tersebut hanya dipakai untuk mandi seperlunya saja. Bahkan hanya dipakai bilas setelah mandi dengan air laut. Itu pun hanya bisa bertahan antara 3-4 hari. Paling maksimal 5 hari. "Mungkin kalau di Mataram satu kubik itu buat sekali mandi. Kalau kami di sini harus super irit air," ujarnya lalu tertawa.
Bukan hanya untuk mandi. Warga juga merogoh gocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan air minum dan memasak. Mereka membeli air galon isi ulang. Di warung atau kios Desa Gili Gede Indah, satu galon air isi ulang dihargai Rp 12 ribu. Padahal di Pulau Lombok harga air isi ulang rata-rata Rp 5 ribu per galon.
Kini, warga desa sangat berharap ada solusi konkret dari pemerintah. Baik Pemkab Lombok Barat maupun Pemerintah Provinsi NTB. Sebagai solusi, pihak desa telah mengajukan bantuan sumur bor ke Pemkab Lobar. Air sumur dibor dari wilayah Lombok. Persisnya di Desa Sekotong Barat. Nah, airnya dialirkan lewat pipa bawah laut menuju reservoar atau bak penampungan air di Dusun Tanjungan.
Panjang pipa bawah tanah dibutuhkan sekitar 3 kilometer. Rencana itu sudah diajukan ke Pemkab Lobar sejak 2021 lalu. Namun hingga kini belum terealisasi. Dia berharap rencana itu bisa terealisasi tahun dalam. "Mudahan 2025 bisa terealisasi. Ini terus kami komunikasikan. Baik dengan Pemkab maupun lewat DPRD Lobar," papar pria 40 tahun itu. (bersambung/r5)
Editor : Rury Anjas Andita