Sikap saling menenggang dan menghormati antarumat di Dusun Mutersari, Jombang, lahir dari perpaduan keyakinan agama dan budaya Jawa yang kuat. Tiap salah satu pihak berkegiatan, yang lain tak cuma memeriahkan, tapi terlibat mulai persiapan sampai pelaksanaan.
MOH. NASIKHUDDIN, Jombang
PADA gereja dan masjid yang berdampingan dalam satu pagar, pada keguyuban ritus keseharian, dan pada tradisi yang diuri-uri berbarengan, warga Dusun Mutersari, Jombang, Jawa Timur, membuktikan bahwa toleransi itu sesuatu yang dijalankan. Bukan sekadar ditunjukkan.
Kampung Toleran, julukan bagi dusun yang masuk wilayah Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng, tersebut datang lewat laku sehari-hari yang sudah tersublimasi. Di jalanan dusun, selepas misa Natal Rabu (25/12), misalnya, warga non-Kristen dengan hangat mengucapkan selamat Natal kepada para tetangga yang merayakan yang mereka temui.
Saling beranjangsana, seperti unjung-unjung saat Idul Fitri, juga selalu dilakukan. ”Saat Natal, saudara-saudara dari Banser turut menjaga gereja. Ketika salat Idul Fitri, pemuda gereja juga akan membantu menjaga parkir bagi jamaah Masjid Al Hidayah,” kata Pendeta Anggraini Mahardini, pemimpin Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mutersari, kepada Jawa Pos Radar Jombang.
GKJW Mutersari berdiri sejak 1914, sedangkan Masjid Al Hidayah yang berada di sebelahnya berdiri sekitar 1967. GKJW Mutersari melayani jemaat dari tiga kecamatan, mulai Bareng, Mojowarno, sampai Wonosalam. Bareng bertetangga dengan Mojowarno, kecamatan yang selama ini juga jadi teladan toleransi.
Baca Juga: Kerap Paksa Tamu Belanja Suvenir, Pelaku Wisata Keluhkan Pedagang Asongan di Pantai Kuta
Keyakinan dan Budaya
Di mata Anggraini, sikap saling menenggang dan menghormati antarumat di Mutersari lahir dari perpaduan antara keyakinan agama dan budaya Jawa yang kuat. Budaya yang sangat mengedepankan harmoni.
”Kami tidak pernah merayakan Natal sendiri. Kami juga mengundang pihak masjid dan tetangga sekitar dan mereka selalu datang,” ungkapnya.
Pengakuan serupa disampaikan Samsul Hadi, salah satu pengurus Masjid Al Hidayah. Ketika ada peringatan Isra Mikraj atau kegiatan lain, takmir Masjid Al Hidayah juga tak pernah alpa mengundang pengurus gereja dan para tetangga yang Kristen.
”Ini sudah berjalan sejak dulu, sejak nenek moyang kami,” kata Samsul yang dihubungi Jawa Pos Radar Jombang secara terpisah.
Dalam keseharian, tambah Anggraini, warga Mutersari, dari latar belakang apa pun, bahu-membahu dalam beragam kegiatan. Saat Ramadan, pemuda jemaat GKJW Mutersari selalu mengadakan bagi-bagi takjil dan buka bersama jemaah Masjid Al Hidayah.
Sekitar dua tahun lalu, Nyai Sinta Nuriyah (istri Gus Dur alias Abdurrahman Wahid) hadir di GKJW Mutersari. Dia berbuka puasa bersama para tokoh dan warga lintas agama.
Tiap ada hajatan, siapa pun yang mengadakan, semua warga juga kompak datang. Ini, kata Anggraini, tak lepas dari budaya orang Jawa yang selalu mengundang tetangga ketika ada hajatan sebagai salah satu unggah-ungguh (sopan santun).
”Selain nilai-nilai agama, juga nilai-nilai budaya. Podo Jowone (sesama orang Jawa) itu sangat mewarnai dan sangat menghidupi relasi bermasyarakat,” katanya.
Anggraini menambahkan, keguyuban warga juga sangat kentara saat kegiatan perayaan Unduh-Unduh atau Hari Raya Persembahan. Begitu pun saat GKJW Mutersari mengadakan pergelaran wayang dengan tema Gereja Berbudaya.
”Jadi, tidak hanya memeriahkan, saudara muslim di sini juga turut membantu mulai persiapan hingga pelaksanaan acara,” bebernya.
Dalam ritus kehidupan sosial lainnya, umat Nasrani dan muslim di Kampung Toleran juga biasa saling bekerja sama. ”Misal ada warga muslim di sini meninggal, warga Nasrani juga ikut mengantar jenazah ke makam, bahkan ikut membantu menggali kubur. Begitu pula sebaliknya,” ujarnya. (*/naz/c19/ttg/JPG/r5)
Editor : Redaksi Lombok Post