Momen Imlek, tidak hanya berisi harapan kebaikan dari warga keturunan etnis Tionghoa. Tapi juga, harapan dari anak-anak kampung di sekitar kelenteng tua Ampenan.
Mataram
KABAR kemurahan hati orang-orang keturunan etnis Tionghoa telah tersiar di telinga anak-anak Ampenan. Maka sedari pagi, mereka sudah berkerumun di depan pintu masuk Kelenteng Pao Hwa Kong.
Kebanyakan di antaranya ingin mengulang, kegembiraan momen Imlek atau tahun Baru China sebelum-sebelumnya. Di mana mereka bisa membawa pulang amplop yang identik dengan warna merah.
“Iya (sedang menunggu Angpau),” jawab beberapa anak, Rabu (29/1).
Tapi siang itu, hingga pukul 11.03 wita belum juga ada warga yang merayakan Imlek, ada tanda-tanda mau bagi-bagi angpau. Wajah mereka mulai menyiratkan gelisah, tak tenang.
“Pak, pak!” seru mereka. Sekenanya.
Seorang pria -- nampaknya -- penjaga kelenteng bergerak tangkas. Menertibkan bocah-bocah itu agar tak mengganggu gerbang masuk rumah ibadah tersebut.
“Jangan halangi jalan ya,” ucap pria berkulit gelap itu, memperingatkan.
Tapi namanya bocah-bocah. Tak lama setelah diingatkan, mereka kembali berkerumun di depan gerbang.
Pria tadi kembali menegur. Berulang-ulang.
Ketika koran ini menyapa salah seorang di antara mereka, puluhan anak lain segera ikut menghampiri. Wajah mereka, menyiratkan harap.
“Belum (dapat angpau)!” Jawab mereka hampir serentak.
Di pintu gerbang hilir mudik -- kebanyakan -- warga berkulit bersih. Mereka tuan-tuan dan nyonya-nyonya, dengan aroma parfum yang wangi.
Ada yang baru datang atau selesai berdoa, menyapa anak-anak dengan aroma matahari. Melambaikan tangan, walaupun ada juga yang melintas dengan langkah tergesa-gesa.
Sementara itu dari dalam kelenteng tercium aroma dupa yang kuat. Bersamaan dengan itu kepulan asap membumbung ke segala penjuru.
“Alip,” kata seorang bocah ramping, menyebut namanya.
Ia datang dari kampung sebelah, Sukaraja Timur. Tak sendiri, Alip ditemani sahabatnya Raka.
“(Dari jam) sembilan,” kata Alip menyebut waktu tiba di kelenteng itu.
Alip mengaku baru pertama datang ke kelenteng itu. Sebelumnya ia hanya mendengar cerita dari teman-temannya yang lebih dewasa tentang tradisi bagi-bagi angpau.
Maka semalam ia telah membuat janji dengan Raka untuk datang pagi-pagi sekali. Ia ingin ikut merasakan kemurahan hati warga keturunan Tionghoa yang diceritakan kawan-kawannya.
“Iya (pertama kali),” sahutnya pendek.
Beda dengan Raka yang menyebut dirinya anak seorang polisi. Kedatangannya ke tempat itu, tanpa sepengetahuan orang tuanya karena ingin ikut larut dalam kegembiraan teman-teman sebaya.
“Seru,” ungkapnya polos.
Ia senang banyak teman-teman sepantaran berkumpul di sana. Tertawa bersama, bercanda, dan kalau beruntung dapat uang jajan tambahan.
Seorang bocah bertubuh subur mendekat. Wajahnya gelisah memandangi kawan-kawannya yang sudah lebih dahulu membentuk setengah lingkaran di depan koran ini.
Dengan nada gusar ia pun bertanya, “Mana pak?”
Seorang rekannya memperingatkan bocah itu agar menjaga sikap. Tapi ia membalas dengan gemas.
“Tapi kantongnya kosong,” gerutu, bocah yang memperkenalkan diri dengan nama Konan.
Tawa bocah-bocah itu meledak seketika. Suara mereka yang riuh di seberang pagar membuat sejumlah warga yang tengah duduk bersantai di meja tamu kelenteng memandang ke luar.
Sampai akhirnya penjaga berkulit gelap tadi kembali mengingatkan agar mereka tenang. “(Kalau sampai zuhur tidak ada) pulang,” sahut Konan yang mengaku berasal dari kampung Karang Kerem.
Kebanyakan anak-anak itu membatasi waktu ‘berburu’ angpau hingga tiba waktu zuhur. Setelahnya -- dapat atau tidak angpau -- mereka harus buru-buru pulang.
Bukan karena umat yang datang ke kelenteng berangsur-angsur sepi, tapi untuk meredam amarah orang tua. “(Kami takut) dicari (ibu atau bapak),” ungkapnya polos.
Jika sampai selepas zuhur tak segera kembali, maka bisanya orang tua mereka mencari ke mana-mana. Itupun jarang dengan tangan kosong, biasanya sebilah kayu di genggam erat orang tua yang dongkol.
“(Disuruh pulang untuk) makan,” jelasnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r7)
Editor : Redaksi Lombok Post