Dedikasi Ruslan sebagai pendidik tak bisa diragukan. Dia merintis berdirinya madrasah agar anak-anak Meang bisa mengenyam pendidikan formal. Ketika musim hujan seperti sekarang, dia berperan sebagai guru semua kelas. Sebab para guru tidak bisa sampai ke sekolah karena terjebak di jalan Dusun Meang yang rusak berat.
----------------------------------------
Hujan lebat yang mengguyur Dusun Meang, Desa Persiapan Pengantap, Kecamatan Sekotong, pada Rabu pekan lalu (29/1). Hujan membuat jalan di sepanjang dusun itu lumpuh total. Jalanan banjir dan berlumpur.
Hujan berdampak langsung pada kegiatan belajar mengajar di SDN 11 Buwun Mas. Itu satu-satunya sekolah di Dusun Meang. Para guru pun tidak bisa datang ke sekolah yang terletak di dusun terpencil itu. ”Guru dari luar nggak bisa sampai sekolah karena jalan rusak. Nggak bisa dilewati kalau hujan,” kata Ruslan kepada Lombok Post.
Rabu pagi itu dia satu-satunya guru yang sudah tiba di sekolah. Maklum, Ruslan adalah guru SDN 11 Buwun Mas yang tinggal di Meang. Sehingga untuk sampai ke sekolah dia tinggal jalan kaki. ”Mereka harus tetap belajar. Mau tidak mau saya gantikan semua guru kelas,” tuturnya.
Ruslan pun menggabungkan beberapa kelas agar siswa bisa diajar dalam waktu bersamaan. Misalnya kelas 1 sampai kelas 3 digabung jadi satu kelas. Penggabungan kelas juga melibatkan kelas 4 sampai kelas 6. Cara itu ditempuh juga karena ruang kelas yang terbatas. Dari enam ruang kelas di SD tersebut, hanya dua ruangan yang berfungsi. Selebihnya bocor karena atap sekolah jebol. Kondisi sekolah sangat memprihatinkan. ”Bukan bocor lagi. Tapi memang hujan seperti di halaman sekolah,” ungkapnya.
Kondisi seperti itu, bukan sakali dua kali. Tapi seringkali terjadi selama musim hujan. Akibatnya, Ruslan terpaksa menggantikan tugas guru yang lain untuk mengajar di kelas yang berbeda-beda. Maklum dia satu-satunya guru yang tinggal di Dusun Meang. Guru yang lain berasal dari tempat yang jauh. Mulai dari Gerung, Lembar, Mataram, hingga Lombok Timur.
”Semua guru ini PP setiap hari. Makanya harus dimaklumi kalau nggak bisa datang karena rumahnya jauh,” ujar ayah 4 anak itu.
Ruslan adalah sosok guru yang ulet dan tidak kenal menyerah. Pria kelahiran 31 Desember 1970 itu mulai bergelut di dunia pendidikan sejak 2002. Saat itu dia merasa prihatin karena tidak ada lembaga pendidikan di Dusun Meang.
Akibatnya, anak-anak sekolah banyak yang tidak bisa mengenyam pendidikan. Ada sebagain yang terpaksa jalan kaki menuju Dusun Pangsing sejauh 4,5 kilometer. Anak-anak melewati jalan berbukit yang menanjak dan terjal. Saat musim hujan seperti saat ini jalannya hancur. Medan jalan berubah jadi kubangan lumpur.
Karena merasa prihatin dia pun mendirikan lembaga pendidikan bernama Madrasah Ibtidaiyah (MI) Hidayatullah pada 2002. Saat itu kegiatan belajar mengajar berjalan seadanya. Tidak jarang siswa libur semaunya. Selain juga karena fasilitas pendidikan tidak memadai. ”Saya sering jadi buruh tani mencangkul di sawah hanya untuk membeli kapur tulis,” tutur Ruslan.
Madrasah itu berjalan sampai 2004. Karena tidak kunjung mendapat izin operasional, MI Hidayatullah distop. Ruslan kemudian dipanggil oleh UPTD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lobar di Kecamatan Sekotong. Dalam pertemuan itu disampaikan bahwa area sekolah yang dipakai MI diubah menjadi sekolah negeri. ”Warga sangat setuju dengan alih status ini,” katanya.
Tahun 2004 ditetapkan sebagai SD kelas jauh yang menginduk ke SDN 8 Buwun Mas di Dusun Pangsing. Kondisi itu berlangsung selama enam tahun. Tahun 2010 sekolah itu resmi menjadi SDN 11 Buwun Mas. Dengan status itu, SDN tersebut bisa menggelar kegiatan belajar mengajar secara mandiri. Meski begitu kondisi sekolah sangat memprihatinkan. Banyak ruang kelas tidak berfungsi karena rusak parah. (UMAR WIRAHADI/r8)
Editor : Redaksi Lombok Post