Murniasih adalah salah satu penyapu jalan perempuan yang ada di Praya. Selama 25 tahun, dia sudah menjadi tim penyapu jalan yang bertanggung jawab terkait kebersihan jalan-jalan protokol.
Lombok Tengah
MURNIASIH masih ingat betul momen 25 tahun silam. Kala itu, dia memutuskan untuk bergabung menjadi petugas kebersihan jalan raya di Praya.
Selain mencari tambahan penghasilan, perempuan yang akrab disapa Asih ini juga merasa puas, bisa memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Selama menjadi tim penyapu jalan di Praya, dia merasakan tantangan yang luar biasa.
Penyebabnya, sampah-sampah masih bertebaran di sudut ibu kota Kabupaten Lombok Barat itu. “Kadang orang membuang sampah di pinggir jalan. Melemparkan sampah ke sungai, kesal rasanya,” kata Asih pada Koran ini, Jumat (7/2).
Tantangan lainnya adalah saat musim angin kencang tiba. Trotoar jalan raya yang sudah disapu bersih olehnya kembali kotor. Diakibatkan rontoknya dedaunan dari pepohonan. Namun sekarang dirinya bersyukur, sebagian besar pohon peneduh di pinggir jalan sudah dipangkas. “Satu sisi hindari bahaya pohon tumbang bagi pengendara, sisi lain tidak banyak sampah daun yang saya sapu,” seloroh ibu beranak empat ini.
Kendala lain adalah saat hujan. Sampah dedaunan selalu lengket sehingga agak sulit disapu. Jika sudah begini mau tidak mau tangannya harus memungut sampah dedaunan dan dimasukkan ke dalam karung. “Ya kita pungut,” ujar perempuan asal lingkungan Perapen, Praya ini.
Aktivitasnya bekerja dimulai pukul 07.00 hingga 10.00 Wita. Dirinya sengaja tidak mengambil waktu dini hari seperti rekan lainnya. Selain sudah terang, jika menyapu pada dini hari, salat Subuh dikhawatirkan keteteran. “Kerja sebelum kita salat Subuh itu saya tidak bisa, tergesa-gesa jadinya saat menyapu,” cetus wanita berjilbab ini.
Selama bekerja, aneka jenis sampah dia dapati. Seperti tisu, tempat makanan, botol minuman, kresek berisikan muntahan orang, bahkan sampai air kencing di dalam botol.
Walau menemukan beragam jenis sampah tak biasa, semangatnya untuk bekerja dengan ikhlas tak pernah pudar. Sebab dia percaya bahwa apa pun yang terjadi di area lingkungan kerjanya adalah bagian dari amanah dan tanggung jawab.
Sebagai perempuan yang tak lagi muda, Asih termasuk pejuang yang tangguh demi keluarga. Dari penghasilannya sebagai penyapu jalan bisa menambah pemenuhan kebutuhan sehari-hari di rumah. Dari keempat anaknya, tinggal satu anak lagi yang belum selesai sekolah.
Ditanya harapan, dia berharap ada tambahan honor bagi penyapu jalan, mengingat harga-harga kebutuhan pokok semakin meningkat. “Sekarang masih dikasih Rp 700 ribu per bulan, semoga pak bupati dan pak wakil bupati tepati janjinya untuk menaikkan honor kami ini,” harapnya. (LESTARI DEWI/r6)
Editor : Rury Anjas Andita