Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kesaksian Nyoman Haryani, Pengurus Kelenteng Tua Ampenan (2-Habis)

nur cahaya • Jumat, 14 Februari 2025 | 13:34 WIB

 

BERHARAP REZEKI BERLIMPAH: Seorang keturunan Tionghoa membaca doa pada salah satu patung dewa di Kelenteng Po Hwa Kong, Ampenan, Rabu (12/2).
BERHARAP REZEKI BERLIMPAH: Seorang keturunan Tionghoa membaca doa pada salah satu patung dewa di Kelenteng Po Hwa Kong, Ampenan, Rabu (12/2).
 

 

Saksi Bisu Perjalanan Eks Pelabuhan Sejak Era Hindia Belanda. Rutin Dikunjungi Biksu dari Luar Negeri. Kelenteng ini ternyata sudah berusia lebih dari 200 tahun. Umat yang datang tidak hanya dari dalam kota, tetapi juga dari luar negeri.

Mataram

NYOMAN Hariani tinggal di Karang Ujung, Ampenan. Namun, ia lebih sering berada di Kelenteng Tua Po Hwa Kong.

Tempat ibadah agama Tao dan Konghucu itu seperti rumah kedua baginya. “Rumah saya di belakang rumah sakit (RS Katolik Santo Antonius),” terangnya.

Kesibukan Hariani biasanya meningkat saat kelenteng digunakan untuk merayakan hari besar, baik yang berkaitan dengan budaya Tiongkok maupun ritual keagamaan.

Mulai dari bersih-bersih hingga menyiapkan peralatan sembahyang seperti dupa, lilin, dan pernak-pernik lainnya. “Ya, saya senang bisa terlibat membantu menyiapkan semuanya,” ungkapnya, tersenyum.

Ada waktu ketika kelenteng ini digunakan untuk memperingati Waisak, hari raya umat Buddha. Umat yang datang berasal dari berbagai tempat, seperti Cakra, Selagalas, Praya, hingga luar pulau, bahkan luar negeri.

“Sumbawa, Bali, Surabaya, hingga Hong Kong,” tuturnya.

Penuturan ini berbeda dengan pemahaman umum bahwa umat Buddha biasanya beribadah di vihara. Namun, menurut Hariani, hal itu bergantung pada keyakinan masing-masing.

“Ini kan tempat ibadah agama Tridharma,” ucapnya.

Dalam literatur umum, Tridharma adalah kepercayaan tradisional Tionghoa yang menggabungkan ajaran Taoisme, Konfusianisme, dan Buddhisme.

Karena itu, tak heran jika kelenteng ini sering dikunjungi biksu. “Biksunya datang dari Hong Kong saat Waisak,” terangnya.

Setiap perayaan, kelenteng ini dikunjungi sekitar 400-500 umat. Hariani menekankan bahwa mereka adalah orang-orang yang baik dan ramah.

“Saya sering diberi baju oleh mereka,” ungkapnya.

Kelenteng ini juga menyimpan sejarah panjang. Sebagai salah satu bangunan tertua, usianya yang ratusan tahun menjadi saksi bisu pemerintahan Hindia Belanda di Lombok.

Konon, kelenteng ini dibangun pada tahun 1804. “Bangunannya tidak mengalami perubahan sejak pertama kali dibangun,” ucapnya.

Artinya, kelenteng ini telah berusia 221 tahun. Lokasinya berada di pinggir jalan utama eks Pelabuhan Ampenan, yang antara tahun 1800 hingga 1900-an menjadi pusat perdagangan negara-negara Eropa.

Salah satu keunikan kelenteng ini adalah patung Dewa Chen Fu Zhen Ren di bagian tengah bangunan. Menurut kisah, dewa ini memiliki keterkaitan dengan Kelenteng Sam Poo Kong, yang pernah menjadi tempat singgah Laksamana Cheng Ho atau Zheng He, laksamana Tiongkok beragama Islam di Semarang, Jawa Tengah.

Dewa Chen Fu Zhen Ren juga dikenal sebagai arsitek andal dan menjadi andalan Laksamana Cheng Ho. “Jadi, dewa di kelenteng ini lebih lengkap,” ucapnya.

Hariani mengatakan hampir setiap hari ada umat yang datang ke kelenteng. “Mereka rutin datang ke sini,” jelasnya.

Menjadi pengurus di kelenteng membawa banyak manfaat bagi Hariani. Dari sisi sosial, ia memiliki banyak kenalan dan sahabat. Dari sisi ekonomi, ia juga merasakan dampaknya.

“(Rezeki) lumayan, dari membantu menyiapkan dupa, kertas, lilin, dan lain-lain,” ucapnya.

Kemampuannya merangkai bunga juga bermanfaat dalam mendukung ritual persembahyangan. “Semoga kami diberi rezeki yang mudah dan umur panjang, agar tetap bisa bersama keluarga,” harapnya.

Dari pengabdiannya di kelenteng, ia bisa membiayai pendidikan dua anaknya. “Satu sudah kuliah,” pungkasnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r7)

Editor : Redaksi Lombok Post
#Peralatan #klenteng #patung #Ampenan #biksu #kelaurga #pelabuhan