Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dikes NTB Tegaskan KLB Campak di Bima Dompu Teratasi tapi Imunisasi Anak Tetap Diperluas

Y
Penulis: Yuyun Kutari❯
PENYAKIT MENULAR: Papan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait vaksin campak yang halal dan aman, terpampang di salah satu ruas jalan di Kota Mataram, Senin (4/5). (YUYUN/LOMBOK POST)
PENYAKIT MENULAR: Papan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait vaksin campak yang halal dan aman, terpampang di salah satu ruas jalan di Kota Mataram, Senin (4/5). (YUYUN/LOMBOK POST)

Advertisement

LombokPost - Status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di wilayah Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Dompu berakhir.

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB HL Hamzi Fikri menegaskan keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan kasus di tiga wilayah tersebut. 

“Yang jelas kondisinya sudah jauh lebih baik. KLB tidak kita perpanjang, karena memang masa penetapannya satu bulan dan selama itu terlihat adanya penurunan kasus,” jelasnya, Senin (4/5).

Advertisement

Penetapan KLB sebelumnya dilakukan setelah ditemukan kasus kematian dan lebih dari lima kasus dalam satu periode. Respons cepat berupa outbreak response immunization (ORI) telah dijalankan dan terbukti mampu menekan angka penularan. 

Pelaksanaan ORI pada seluruh puksesmas di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu dengan prioritas diberikan bagi bayi dan balita berusia 9 sampai dengan 59 bulan. Meski status KLB telah dicabut, upaya penanganan tidak dihentikan begitu saja.

Advertisement

Dikes NTB tetap menggencarkan program imunisasi untuk memastikan seluruh anak mendapatkan perlindungan. “Target kita semua anak harus terimunisasi, tanpa melihat status imunisasi sebelumnya,” jelasnya. 

Ia memastikan ketersediaan vaksin tidak menjadi kendala. Sejak awal peningkatan kasus, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk memenuhi kebutuhan vaksin sesuai jumlah sasaran.

“Vaksin sudah terdistribusi semua. Dari awal kasus meningkat, kita langsung minta ke kementerian, jadi kebutuhan dosis sesuai sasaran sudah kita penuhi,” katanya. 

Pengawasan juga tetap diperketat melalui sistem surveilans di seluruh fasilitas kesehatan. Hamzi menyebut surveilans ini sebagai intel kesehatan yang berfungsi mendeteksi dini potensi peningkatan kasus.

“Di puskesmas sudah kita latih untuk mendeteksi tren peningkatan kasus. Laporan dilakukan setiap minggu, dan jika ada kenaikan, respon cepat langsung diberikan, termasuk imunisasi,” tegas Fikri.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Menjaga Sehat di Balik Jeruji Lapas Kuripan

Menjaga Sehat di Balik Jeruji Lapas Kuripan

Empat tablet OAT untuk Oma membuka cerita tentang CKG, dari pengobatan TBC hingga skrining kesehatan warga binaan Lapas Kuripan.

Hadapi Ancaman Hantavirus, Dikes NTB Siapkan Rumah Sakit hingga Laboratorium

Hadapi Ancaman Hantavirus, Dikes NTB Siapkan Rumah Sakit hingga Laboratorium

NTB meningkatkan kesiapsiagaan seluruh fasilitas kesehatan, menyusul adanya laporan kasus Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)

Campak Kepung Sumbawa, Dikes NTB Catat 363 Kasus

Campak Kepung Sumbawa, Dikes NTB Catat 363 Kasus

Dikes NTB memberi perhatian serius menyusul 363 kasus campak di Sumbawa, dengan penguatan surveilans dan ORI bagi anak sasaran.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer