Sekitar satu pekan lalu, patung kuda di bundaran rest area Kayangan, roboh karena cuaca ekstrem. Itu setelah hujan lebat dan angin kencang yang terjadi di wilayah tersebut.
Lombok Utara
Dua ekor patung itu sudah tidak tegak lagi. Sudah miring ke kanan. Tentu saja, aura gagah tak lagi terlihat di kuda warna putih ini. Hempasan angin kencang tak kuat dibendung. ”Pada saat kejadian angin cukup kencang disertai hujan. Ketika itu patung kuda langsung roboh,” kata Taufik salah satu saksi mata menceritakan kejadian robohnya patung kuda di bundaran rest area Kayangan itu.
Patung kuda yang menjadi ikon Kecamatan Kayangan itu, ambruk setelah diterjang angin kencang dan hujan lebat. Bagi warga sekitar, itu bukan hanya sebatas patung, tetapi memiliki nilai historis dan filosofis ”Sehingga kita berharap segera diperbaiki,” ujar Taufik.
Kepala Desa Kayangan Edi Kartono mengatakan,ini menjadi ikon bagi masyarakat di Kecamatan Kayangan. Khusunya bagi warga desa. Karena memiliki sejarah panjang. Bukan sekedar patung kuda biasa.
Edi mengisahkan pada zaman dahulu, ketika pemerintah membuka lahan untuk dikelola oleh masyarakat, banyak yang berbondong-bondong datang. Warga yang datang ini berasal dari berbagai daerah di Pulau Lombok. ”Sebagian besar menggunakan kuda sebagai alat transportasi,” kata Edi.
Sehingga jumlah kuda sangat banyak di desanya. Sebagian dijadikan sebagai alat transportasi utama warga. Terutama untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan. ”Karena waktu itu belum ada kendaraan. Sepeda motor juga tidak ada,” ujarnya.
Dari sinilah masyarakat merasa perlu mengabadikan kuda dalam bentuk patung sebagai ikon Kayangan. Dengan harapan, para generasi muda tidak lupa dengan sejarah. ”Memahami, bahwa kuda pernah menjadi alat transportasi utama,” jelasnya.
Dia mengatakan, sebagai perwakilan masyarakat sebenarnya dirinya menginginkan kuda menjadi ikon yang memiliki nilai lebih. Misalnya, kelak Desa Kayangan dijadikan pusat olahraga berkuda. karena di beberapa tempat di NTB, sudah banyak yang mempopulerkan olahraga berkuda. Seperti di Bima dan Dompu. ”Saya bercita-cita demikian, agar kelak Desa Kayangan bisa dikenal dengan olahraga berkuda,” tuturnya.
Edi berharap kepada Pemda KLU untuk segera memperbaikinya. Sebab, patung kuda merupakan ikon dan simbol pembangunan, yang tidak hanya milik Kecamatan Kayangan, tetapi juga Kabupaten Lombok Utara.
”Memiliki nilai historis dan simbolis. Karena itu kita berharap patung ini dapat segera diperbaiki oleh pemerintah daerah agar tetap menjadi kebanggaan kami Desa Kayangan,” pungkasnya. (HABIBUL ADNAN/r8)
Editor : Redaksi Lombok Post