Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Tiga Hari Mendebarkan Seorang Warga Jerman Bersama Damkarmat Kota Mataram

nur cahaya • Minggu, 23 Februari 2025 | 10:15 WIB
NIKMAT: Marlin mencoba menu makanan khas Lombok bersama anggota Damkarmat Kota Mataram, beberapa hari lalu.
NIKMAT: Marlin mencoba menu makanan khas Lombok bersama anggota Damkarmat Kota Mataram, beberapa hari lalu.

 

 

Seorang warga Jerman mendapat kesempatan berharga bersama Damkarmat Kota Mataram. Menjalankan aksi yang lucu hingga mendebarkan. Marlin terkesan dan senang bisa bergabung tim rescue selama tiga hari. Namun yang paling berharga baginya, saat merasakan kehangatan keluarga besar.

-----------------------------

MARLIN sangat gembira. Ia baru saja mendengar kabar dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Mataram yang menyetujui permohonannya "magang" kerja selama tiga hari.

Warga Jerman itu sebelumnya mengajukan permohonan secara lisan. Ia berharap diberi kesempatan merasakan pengalaman mendebarkan aksi penyelamatan berbahaya di wilayah ibu kota.

"Ini bakal jadi pengalaman yang hebat," kata Marlin melalui penerjemahnya, Senin (17/2).

Marlin, seorang pegawai pemerintah di negara bagian Jerman, bekerja di unit pemadam kebakaran. Pengalaman ini dibutuhkannya untuk menaikkan kompetensi dan status di unit tempatnya bekerja. Dari keterangan penerjemahnya, posisi Marlin setara honorer.

Untuk meyakinkan pihak Damkarmat, Marlin membawa sertifikat kerjanya. Juga "baju tempur" khas pemadam kebakaran.

"Saya sedang liburan di Gili Trawangan dan kesempatan ini tidak akan saya lewatkan," tekannya.

Maka ketika pihak Damkarmat menyetujuinya bergabung dalam aksi penyelamatan, bukan main gembira Marlin. Ia menegaskan kesiapannya untuk ikut 'ngantor' sejak hari Senin (17/2).

Di hari pertama bekerja, Marlin banyak bertanya tentang fasilitas yang ada. Ekspresi pria itu terlihat tegang manakala para petugas Damkarmat menceritakan pengalaman sulit.

Situasi itu seperti saat armada yang macet hingga fasilitas pemadam yang sudah renta. Bagi Marlin, betapa berbahaya dan heroik kerja petugas dalam keterbatasan.

Di negaranya, peralatan pemadaman tidak hanya baru dan tangguh, tapi juga canggih. Bahkan, unit-unitnya memakai teknologi robotik.

Tapi, Senin itu, hampir seharian Marlin hanya bertukar cerita. Hingga waktu ngantor selesai pukul 17.00 Wita, Marlin memutuskan pulang ke penginapan.

Sekitar pukul 21.00 Wita, ponsel Marlin berdering. Seseorang memberitahunya segera bersiap. "Ini dia, tugas pertama saya," ucapnya antusias.

Marlin sigap memasang setelan pakaian tugas lapangan yang diberikan Damkarmat Kota Mataram. Pakaian berwarna biru dongker, kaos dan celana, serta sepasang sepatu PDL.

Marlin menaiki mobil Damkarmat yang meraung membelah jalanan kota. Jalanan itu lebih lengang daripada jalanan di negaranya.

Setiba di lokasi, Marlin sigap melompat. Mendekati sebuah rumah di mana warganya histeris ketakutan.

"Ada ular di bawah ranjang!" kata pemilik rumah yang seorang wanita, setengah berteriak.

Marlin terdiam. Tapi ia siaga menunggu instruksi.

Petugas Damkarmat mulai mencari tahu kebenaran ular di bawah ranjang. Tapi kemudian, petugas menahan tawa sambil geleng-geleng kepala.

"Bukan ular, tapi anak biawak," ucap petugas.

Pemilik rumah bergidik. Ia pun meminta biawak itu segera dibawa keluar dan dibuang sejauh-jauhnya.

"Hanya seekor tokek," kata Marlin ikut tersenyum. Lalu diikuti tawa ringan petugas yang lain.

Tak berselang lama, panggilan kembali masuk. Seorang warga di Dasan Baru melapor rumahnya kemasukan ular kobra.

Marlin dan tim kembali meluncur. "Semoga bukan ulat," celetuknya.

Sesampai di lokasi, benar saja petugas menemukan seekor ular kobra. Ular itu merayap masuk ke dalam rumah dan membuat penghuni rumah berhamburan keluar ketakutan.

Marlin maju ke depan. Senter menyala di tangan kirinya.

Sebuah tuas atau tongkat panjang dipegang untuk menangkap ular yang bersembunyi di balik lemari kayu. Tapi untuk tugas penangkapan, Marlin menyerahkan pada pawang ular yang menyertai tim.

Jalannya rescue berlangsung cepat. Ular kobra itu akhirnya berhasil diamankan dan dikembalikan ke habitatnya di hutan Pusuk.

"Oke, tugas berhasil dikerjakan dengan baik," ucapnya senang dengan peluh di dahinya.

Hari mendebarkan kedua tiba. Marlin, atau pemilik nama lengkap Milan Nikic, warga Jerman itu, kembali mendapat tugas darurat.

Sebuah sarang lebah besar di pohon mangga membuat pemilik rumah ketar-ketir. Tim rescue Damkarmat segera meluncur ke lokasi saat petang menjelang.

“Kami datang,” ucap Marlin antusias.

Kisah perjuangan heroik Marlin ini diceritakan ulang Kabid Pencegahan dan Pengendalian Damkarmat Kota Mataram, Multazam. Ia setia menemani Marlin dalam setiap tugas rescue.

Saat petugas mulai mengevakuasi tawon, Marlin kembali beraksi. Ia memegang senter sekaligus merekam setiap detail penanganan dengan ponselnya.

Pengalaman ini sangat berharga baginya untuk dibawa pulang ke negaranya. Maka, dengan senter di mulut dan ponsel di tangan, Marlin mulai mendokumentasikan momen tersebut.

Sementara itu, petugas Damkarmat bersiap dengan kain menutup sebagian wajahnya, mengantisipasi kemungkinan serangan balik tawon-tawon yang marah.

Mereka bekerja cepat, menyemprotkan api dari tabung gas. Tawon yang terganggu mulai bersiap menyerang. Namun, petugas lebih sigap.

Dalam sekejap, kawanan tawon musnah sebelum sempat menyerang balik. Sayap-sayapnya hangus terbakar. Petugas lain menyemprotkan cairan serangga untuk memastikan tidak ada tawon yang tersisa.

“Kami mengungsi dan membiarkan pawang bekerja,” kisah Multazam sambil tersenyum.

Multazam menuturkan, Marlin puas dengan pengalaman yang diperolehnya malam itu. Menangani ratusan tawon di sarangnya jauh lebih mendebarkan dibandingkan seekor ular kobra di malam sebelumnya.

“Marlin mendokumentasikan cara penanganan lebah dan akan menceritakannya pada pimpinannya di Jerman,” ujarnya.

Di hari ketiga, Rabu (19/2), Marlin kembali mendapat kesempatan berharga. Ia mengendarai mobil pemadam yang melaju kencang di jalanan kota.

Marlin juga merasakan ketegangan saat simulasi pemadaman kebakaran. Ia mengangkat selang, menghidupkan mesin air, hingga melakukan aksi pemadaman.

“Kebetulan kita ada acara pembentukan DPD APKARI (Asosiasi Pemadam Kebakaran Indonesia) NTB di hari Rabu, jadi Marlin kita sertakan juga,” jelas Multazam.

Multazam menceritakan betapa terkesannya Marlin selama tiga hari bergabung dengan Damkarmat.

“Lewat penerjemahnya, ia mengatakan ‘ini pengalaman yang hebat’,” ulangnya.

Tak hanya ketegangan saat rescue, Marlin juga merasakan kehangatan kekeluargaan di Damkarmat Kota Mataram. Ia ikut makan lesehan bersama anggota lainnya.

“Ia menikmati makanan khas Lombok seperti pelecing, sambal terasi, sate, sayur kelor, dan teh manis,” ucap Multazam.

Di sela perbincangan, Marlin mengungkapkan betah bersama keluarga besar Damkarmat Kota Mataram. Meski baru mengenal mereka, keramahan anggota membuatnya benar-benar nyaman.

“Saya diberi kesempatan mencoba baju pemadam,” ujar Marlin.

Sebagai ungkapan terima kasih, Marlin menyumbangkan kulkas dan dispenser untuk anggota. “Sebelum kembali ke Jerman Rabu malam, ia berjanji akan datang lagi pada April nanti,” pungkas Multazam. (LALU MOHAMAD ZAENUDIN/r7)

Editor : Redaksi Lombok Post
#pengalaman #warga #canggih #renta #petugas #Pemadaman #jerman #teknologi #Mataram #Damkarmat #robotik #armada