Di tengah hiruk-pikuk pembangunan Kota Mataram, berdiri sebuah bangunan tua menyimpan banyak kenangan generasi 80-an dan 90-an. Irama Theater, salah satu bioskop legendaris, saksi bisu kejayaan layar lebar di masa lalu. Dari Film ‘Panas’ hingga Kenangan Cinta Para Remaja. Adaptasi dan inovasi adalah kunci eksistensi melintasi peradaban. Tanpa itu, era keemasan hanya hanya tentang menunggu waktu tergilas zaman.
Lalu Mohammad Zaenudin, Mataram
PAGI itu, Komang Sudisna tengah tekun memperbaiki gerobak dagangnya. Pria dengan lima anak dan kini telah punya cucu ini, dipercaya pemilik bangunan tua tersebut sebagai penjaga.
“Sebagai orang yang dipercaya, saya harus bisa menjaga amanat itu,” tegasnya dengan wajah teguh, Selasa (25/2) lalu.
Maka tak sembarangan orang boleh masuk ke dalam bangunan tua itu. Sudisna, membatasi siapa saja yang ingin masuk dan mengambil gambar ke dalam tanpa maksud dan tujuan yang jelas.
Setelah menjelaskan maksud, barulah Sudisna memperkenankan melihat lebih detail bangunan kaya kenangan itu. Bahkan, berbaik hati mengajak masuk ke dalam dan melihat bagian demi bagian ikonik eks bioskop Irama Theater yang jaya di era 80-an hingga 90-an.
“Ini tempat beli tiket,” terangnya, menunjuk sebuah tempat berkaca dengan dua lubang untuk membeli tiket nonton.
Sudiana lalu menunjukkan dua toilet terpisah. Masing-masing untuk pria di sisi sebelah barat dan wanita di sisi timur ruangan eks bioskop tersebut.
“Dan di sini untuk ruang tunggunya,” ucapnya menjelaskan fungsi ruangan tengah.
Kami lalu beranjak mendekati sebuah lorong yang telah ditutup papan dan seng. Lorong itu selebar satu meter, memanjang ke arah utara.
“Lorong ini menghubungkan ruang tunggu dengan tempat pemutaran film,” terangnya.
Koran ini berupaya melihat ke dalam dari balik celah-celah papan dan seng yang menutupi lorong. Beberapa meter di dalamnya ada tanaman belukar dan rumput yang tubuh tinggi.
“Bangunan bioskop ini dulu besar dan memanjang ke utara, tapi separonya sudah jadi kebun,” terangnya.
Pemilik bangunan eks bioskop itu bernama Haji Yusuf. Ia tinggal di kawasan Ampenan.
Pemilik bangunan jarang mengunjungi bangunan itu. Bangunan dengan interior yang lapuk bahkan ada yang runtuh, sebagian lagi yang lain dipenuhi jaring laba-laba hingga berlumut membuatnya semakin terlihat renta.
Sudisna menegaskan bangunan itu tak ada yang berubah. Mulai dari pagar, bangunan, interior, hingga eksterior merupakan peninggalan sejak senjakala era kejayaannya.
“Mana berani kami mengubahnya, kami di diminta menjaga maka harus kami jaga sebaik-baiknya,” tegasnya.
Sudisna ternyata bukan satu-satunya penjaga eks bioskop itu. Ia mewarisinya dari bapaknya yakni I Made Jawi. “Saya meneruskan tugas Bapak,” tekannya.
Selain dirinya dan mendiang ayahnya, Sudisna menyebut ada satu penjaga lagi yang selalu ada di tempat itu. Percaya tidak percaya, Sudisna pria bertato itu mengungkapkan bahwa ada satu makhluk astral yang menjaga tempat itu.
“Kalau tidak percaya datang saja sore atau malam hari,” ucapnya.
Ia tak spesifik bercerita makhluk astral seperti apa yang menjaga tempat itu. Sudisna hanya menegaskan, seperti halnya ia, sosok gaib itu juga punya keinginan sama yakni menjaga bangunan tua dari orang-dong yang tidak bertanggung jawab.
“Ya penjaga juga,” tegasnya.
Setelah puas melihat di sisi dalam, Sudiana mengajak koran ini mendekati sebuah pintu di sisi timur bangunan. Di sana ada tangga menghubungkan lantai bawah dengan lantai atas.
“Di (lantai) atas itu, tempat menaruh alat (proyektor, Red) untuk memutar filmnya,” jelasnya.
Saat masih kecil, Sudisna sering naik ke atas untuk bisa menonton film dengan gratis. “Dulu kalau mau nonton gratis, saya naik ke atas lewat sana (menunjuk pagar),” ucapnya sembari tersenyum.
Kenangan Sudisna sendiri tentang eks bioskop itu begitu kaya. Salah satunya, di tempat ini ia dipertemukan dengan pujaan hatinya.
“Sampai akhirnya kami menikah,” ungkapnya.
Eks bioskop Irama Theater memang sudah sangat renta. Di bagian eksterior dekat atap banyak yang telah usang dan berlubang.
Bagi warga Mataram yang pernah menikmati masa keemasan bioskop konvensional, Irama Theater bukan sekadar tempat menonton film. Itu adalah ruang bagi banyak cerita, tempat pertama kali melihat film-film box office, lokasi kencan anak muda, hingga titik pertemuan keluarga di akhir pekan.
“Dulu, kalau mau nonton film Hollywood, ya di sini tempatnya,” ucapnya.
Sayang, selain bangunan tidak ada lagi jejak yang bisa menyambung cerita bioskop itu dengan masa kini. Mobil promosi, proyektor hingga sekadar poster tak ada lagi tersisa sebagai jejak.
“Kalau baliho tempat pasang film yang diputar hari ini dan yang akan datang masih berdiri kokoh,” ucapnya sambil menunjuk dua baliho di sisi timur lahan yang menghadap ke arah barat jalan.
EKS BIOSKOP Irama Theater mulai beroperasi pada era 1980-an, saat industri perfilman masih mengandalkan layar lebar sebagai satu-satunya media hiburan visual. Dengan kapasitas ratusan kursi dan layar besar, Irama Theater menjadi pilihan masyarakat menikmati film nasional maupun internasional.
Dulu, antrean tiket mengular di depan loket, terutama saat film-film besar ditayangkan. “Dulu saya ingat ada rol film Jet Li yang baru tiba, antrean orang yang ingin membeli tiket sangat panjang,” kisah Komang Sudisna.
Irama Theater satu dari tiga jaringan bioskop milik Haji Akeyang -- orang tua Haji Yusuf -- yang sangat digandrungi anak muda dan keluarga di Kota Mataram. Dua bioskop lainnya juga menjadi primadona yakni eks Bioskop Rinjani di jalan Tohpati dan eks Bioskop Gemini di kawasan Cakranegara.
Rol film yang baru datang pertama kali dibawa dan diputar di Irama Theater. “Setelah itu rol akan dibawa ke Gemini dan Rinjani,” terangnya.
Uniknya ketiga bioskop itu punya karakteristik penonton sendiri. Misalnya di Irama Theater lebih banyak penonton diisi remaja yang suka film-film box office.
“Dan juga film ‘panas’ Indonesia,” celetuknya sembari tersenyum.
Sedangkan di Gemini, umumnya diputar film-film kolosal dari Tiongkok dan Indonesia. “Kalau di Rinjani, lebih populer film India (Bollywood),” terangnya.
Sudisna mengatakan, jaringan Irama Theater tidak hanya di Lombok, tapi menjangkau pulau Sumbawa. “Di Sumbawa ada President Theater yang juga jaringan Irama Theater,” ucapnya.
Jaringannya memutar film mandarin, Indonesia, Hollywood, hingga Bollywood. Saat film diputar hal yang lazim sering terdengar biasanya tepuk tangan riuh dan gemuruh saat adegan puncak dari film yang diputar.
Selain menyediakan bioskop permanen, Irama Theater juga menyajikan hiburan layar tancap atau misbar (gerimis bubar).
Tontonan ini sangat diminati, terutama di kampung-kampung. Film yang paling banyak diputar di sana adalah film-film kolosal kerajaan yang menyajikan adegan peperangan epik dan kepahlawanan.
Di balik layar tancap ini, ada sosok penting yang bertugas mengoperasikan pemutaran film, yaitu Rakok. Rakok tak hanya mengendarai mobil yang membawa peralatan layar tancap, tetapi juga bertugas menyebarkan selebaran film di berbagai kampung agar masyarakat tahu jadwal pemutarannya.
“Rol filmnya dibawa dari sini (Irama Theater),” terang Sudiana.
Meredupnya Layar, Bergantinya Zaman
Namun zaman dan peradaban terus berputar. Teknologi menjadi rel perubahan itu sendiri yang menggiring umat manusia pada konsep hiburan yang lebih mudah dijangkau.
Sekitar tahun 1999, setelah merajai hiburan di NTB selama belasan tahun Irama Theater perlahan meredup. Kemunculan televisi berwarna, VCD, DVD, hingga munculnya bioskop modern di pusat perbelanjaan membuat jumlah penonton menurun drastis.
Pada awal 2000-an, bioskop ini mulai kesulitan menarik pengunjung. Film-film yang diputar semakin terbatas, dan kondisi bangunan terlihat tak terawat. Hingga akhirnya, Irama Theater benar-benar menutup pintunya untuk terakhir kali.
“Begitu juga jaringannya yang lain ikut tutup,” terangnya.
Pukulan itu datang dari bioskop modern dengan konsep Cineplex mulai masuk ke Mataram. Bioskop di pusat perbelanjaan modern menawarkan fasilitas yang lebih nyaman, teknologi lebih canggih, film yang lebih up to date, serta sistem pemesanan tiket lebih praktis.
Kenangan yang Tak Luntur
Meski kini hanya menjadi bangunan kosong yang jarang diperhatikan, nama Irama Theater tetap melekat di ingatan banyak orang. Setiap sudutnya menyimpan cerita tentang masa lalu di mana layar lebar adalah segalanya.
Bagi sebagian orang, Irama Theater bukan sekadar bioskop yang tutup. Ia adalah simbol perubahan zaman, bukti bahwa dunia terus bergerak maju, dan kenangan akan masa lalu tetap abadi dalam ingatan mereka yang pernah mengalaminya.
Beberapa film yang pernah menjadi hits di Irama Theater, antara lain Titanic (1997), Dilwale Dulhania Le Jayenge (1995), hingga film nasional seperti Nagabonar dan Petualangan Sherina. Tak hanya sebagai tempat hiburan, bioskop ini menjadi saksi bisu dari kisah-kisah asmara remaja yang menjadikan Irama Theater sebagai tempat kencan pertama mereka.
“Saya bertemu dengan pasangan saya di sini,” ungkap Sudisna.
Meski layar lebarnya telah lama padam, Irama Theater tetap menjadi bagian dari sejarah Kota Mataram. Bagi mereka yang pernah menghabiskan waktu di sana, bioskop ini bukan sekadar tempat menonton film, melainkan tempat menyimpan kenangan indah yang tak terlupakan. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r7)
Editor : Rury Anjas Andita