Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Warna-Warni Tudung Saji Raksasa di Gerbang Tembolak Membuat Lapak PKL Jadi Lebih Meriah saat Ngabuburit

nur cahaya • Rabu, 12 Maret 2025 | 04:55 WIB

 

NGABUBURIT: Seorang pria membawa keluarganya ngabuburit di Gerbang Tembolak, Minggu (9/3) lalu. Selain tempat nongkrong, di sepanjang jalan berjejer PKL untuk masyarakat berbuka puasa.
NGABUBURIT: Seorang pria membawa keluarganya ngabuburit di Gerbang Tembolak, Minggu (9/3) lalu. Selain tempat nongkrong, di sepanjang jalan berjejer PKL untuk masyarakat berbuka puasa.
 

 

Tembolak yang menjadi ikon Kota Mataram tidak hanya menjadi tempat swafoto dengan keunikannya. Namun juga menjadi tempat ngabuburit. Bahkan muda-mudi nongkrong sampai sahur.

Mataram

Pedagang kaki lima (PKL) berjejer di Gerbang Tembolak, perbatasan antara Kota Mataram dengan Lombok Barat. Dari sebelah selatan Bundaran Monumen Mataram Metro hingga terowongan pertama bypass arah Labuapi disesaki PKL. Mereka menjajakan berbagai aneka minuman dan makanan. Mulai dari  tahu tektek, ayam geprek, rujak, bakso, sosis bakar, mi ayam, dan berbagai aneka minuman kekinian disajikan. 

Sekilas jalan ini mirip pasar tumpah karena banyaknya pedagang .Di sisi lain,  di bawah Gerbang Tembolak terlihat sejumlah pengunjung duduk di bawah taman tudung saji yang dibuat Pemkot Mataram tersebut. Mereka membawa keluarganya menikmati keindahan ikon Kota Mataram yang berbentuk Tudung Saji warna-warni.

“Kebetulan saja cucu minta jalan-jalan ke sini tadi,” kata Didik Matiadi.

Pria asal Dayan Peken, Ampenan bersama istri membawa cucunya ngabuburit di ikon Kota Mataram yang cukup viral pada awal pembangunannya itu. Tak hanya pada Ramadan, ia bersama keluarga kerap berkunjung  untuk menikmati berbagai kuliner. “Puasa baru hari ini (Kemarin, Red) ke sini,” terang bapak dua anak ini.

Meski banyak kendaraan yang melintas, suasana di sini cukup asri. Maklum, di sekitar area Gerbang Tembolak masih banyak sawah. “Enak saja duduk di bawah Gerbang Tembolak ini,” kata pria akrab disapa Rudi ini.

Sebelum puasa ia kerap datang ke sini untuk sekadar menghilangkan penat setelah seharian bekerja. “Ini kita mau pulang kalau sudah waktunya berbuka. Istri tadi sudah masak di rumah,” ujarnya.

Beda halnya yang dikatakan Joya, warga Perumahan Vila Rangganis ini. Ia kerap datang ke Gerbang Tembolak bersama anaknya untuk ngabuburit. “Anak-anak senang ke sini, lagian dekat juga,” tuturnya.

Selain banyak padagang yang menjajakan berbagai makanan dan minuman, tempat ini juga terdapat odong-odong yang bisa dinikmati anaknya. “Kalau sore enak suasananya di sini,” akunya.

Jelang berbuka puasa, bypass di Gerbang Tembolak semakin ramai. Pengguna jalan yang melintas cukup banyak, bahkan banyak warga yang mampir ke lapak PKL untuk memesan makanan. Ada juga yang berbuka puasa di lapak-lapak PKL bersama keluarganya. “Kadang pengunjung ramai, kadang sepi. Tapi jelang berbuka pasti ramai kalau tidak hujan,” ujar Fitriani, padagang asal Dasan Kolo, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela ini.

Ia tahu betul kondisi di bawah Tudung Saji selama Ramadan.  Bahkan, sebelum dibangun Gerbang Tembolak ia sudah berjualan di tempat tersebut. “Saya pertama jualan di sini,” kata ibu satu anak ini.

Diutarakan, pengunjung yang datang kadang ramai, kadang tidak. Jika hujan, pengunjung sepi. Kendati demikian ia tetap bersyukur karena keberadaan Gerbang Tembolak menjadi berkah bagi dirinya. “Dulu, sebelum ada Gerbang Tembolak saya dapat jualan Rp 20 ribu sehari,” akunya.

Namun kini ia dapat jualan Rp 300 ribu dalam sehari.

Fitri, sapaan karibnya, cukup jeli melihat peluang. Ia tidak hanya menjual kopi, snack, mi instan, dan berbagai makanan ringan lainnya. Namun ia juga menyiapkan tikar atau alas duduk dan meja kecil di taman Gerbang Tembolak untuk pengunjung agar bisa duduk santai.

Ia menuturkan, pengunjung yang datang ke Ikon Kota Mataram tidak menentu. Pada Ramadan ini pengunjung biasanya ramai pada sore hari. “Kalau habis magrib sampai Isya sepi,” ujarnya.

Para pengunjung akan ramai kembali  ke Gerbang Tembolak setelah selesai salat tarawih. Bahkan muda-mudi nongkrong sampai sahur di tempat ini. “Dari habis tarawih sampai sahur tetap ramai di sini,” tandasnya. (ALI  ROJAI/r3)

Editor : Rury Anjas Andita
#Tembolak #ramadan #Bypass #Nongkrong #PKL #Pedagang #perumahan #tudung saji #Mataram #ngabuburit #makanan #Gerbang